Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN PEMBELAJARAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN PEMBELAJARAN. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Mei 2009

Menyihir Kelas dengan Game


13-03-2009,

Kehadiran guru di dalam kelas mempunyai peran yang penting. Meskipun kemajuan teknologi memudahkan pembelajaran, namun tidak dipungkiri bahwa guru masih sangat menentukan keberhasilan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu juga tentunya karena faktor siswa sendiri sebagai subyek pembelajaran.

Kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki antar sekolah tidak sama. Ada sekolah yang memiliki sarana lengkap sesuai standar yang diatur Departemen Pendidikan Nasional. Tidak sedikit pula sekolah yang hanya menyediakan sarana pas-pasan bahkan jauh dari kelayakan. Beragamnya kondisi yang ada di lapangan menyebabkan tantangan bagi guru sebagai sosok yang berinteraksi langsung dengan peserta didik.

Tantangan bagi guru yang berada di sekolah dengan fasilitas lengkap dan canggih harus mengikuti perkembangan metode dan media pembelajaran. Apalagi pembelajaran berbasis teknologi informasi sudah menjadi tuntutan masyarakat. Sebaliknya, tantangan yang dihadapi guru di sekolah dengan fasilitas apa adanya jauh lebih menyita pikiran dan tenaga. Gambaran umum dari sekolah kategori ini antara lain, siswa berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah; minat dan keinginan menguasai materi pembelajaran rendah; cenderung membuat kegaduhan di dalam kelas; dan kekurangan-kekurangan lain yang menantang kreatifitas dan kompetensi guru.

Manajemen kelas di sekolah kategori kedua, guru merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran yang mengarahkan siswa memiliki kemampuan sebanding siswa dari sekolah dengan fasilitas lengkap. Guru membutuhkan ”sihir” untuk melecut kemampuan siswa di ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Sihir yang dimaksud bukan sihir atau sulap yang mengecoh perhatian peserta didik menjadi pasif dengan tertegun menyaksikan pertunjukan gurunya di depan kelas.

Mengadopsi game atau permainan dalam ruangan yang ditulis Mohammad Muhyi Faruq dalam 60 Permainan Kecerdasan Kinestetik, banyak permainan ringan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran. Misalnya, fase pendahuluan mempraktikkan tepuk tangan dengan berbagai variasi. Sebatas pengalaman penulis, guru bertindak sebagai instruktur mencontohkan dan meminta siswa menirukan tepukan disambung dengan menyebut kosa kata materi sebelumnya. Untuk fase kegiatan inti bisa menggunakan permainan bongkar pasang puzzle. Guru hanya menyiapkan puzzle dengan susunan yang acak, siswa aktif membetulkan susunan bersama kelompoknya. Hal ini merupakan aplikasi pembelajaran kooperatif. Sedangkan untuk menutup kegiatan pembelajaran guru bisa menerapkan chicken dance sambil bernyanyi. Siswa dalam kelompoknya membuat gerakan yang sama diiringi lagu yang dinyanyikan bersama-sama juga.

Manfaat yang diperoleh yaitu pertama, berhasilnya pembelajaran di kelas sesuai mata pelajaran yang diampu. Kedua, mendorong dan meningkatkan kinestetik siswa yang berimbas pada kemampuan ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga, membentuk kecerdasan intelektual dan emosional siswa karena terbiasa belajar dan melakukan sesuatu berkelompok. Satu hal yang perlu diprioritaskan guru dengan mengaplikasikan permainan dalam kelas yakni bisa menjadi modal menulis buku. Tidak sekedar buku teks, namun buku teks dengan sentuhan permainan-permainan ringan yang mampu meletupkan kemampuan peserta didik yang luar biasa.

Hernawan, S.Pd, guru SMP St. Bellarminus, Trainer di Kontak Center Semarang

Sumber : http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=715

Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika

Judul: Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika
Bahan ini cocok untuk Sekolah Dasar bagian SEKOLAH / SCHOOLS.
Nama & E-mail (Penulis): Mohammad Juri,S.Pd, MMPd
Saya Guru di Sekolah Dasar Kecamatan Omben Kabupaten Sampang - Jawa Timur
Topik: Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa Melalui Penciptaan Nilai Estetika
Tanggal: 19 Desember 2008

Menggairahkan Nafsu Belajar Siswa dengan Penciptaan Lingkungan Belajar Bernilai Estetis Pengelolaan kelas dan lingkungan yang memanfaatkan nilai estetika merupakan merupakan langkah inovatif untuk menggairahkan nafsu belajar siswa dan menghapus langkah konvensional

Oleh : Mohamad Juri,S.Pd, MMPd
Guru Sekolah Dasar SDN Omben II
Sampang Madura

Sering kita temukan dilapangan bahwa kondisi persekolahan kita, khususnya Sekolah Dasar dikelola apa adanya dan ala kadarnya. Terutama hal yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan sekolah dan keadaan ruangan kelas. Seperti terlihat pada kondisi ruang kelas yang ditata monoton dan konvensional , dengan tampilan apa adanya seperti tampak pada pengecatan dinding sekolah ataupun ruangan kelas yang kebanyakan dicat dengan warna putih polos, kuning polos, dan warna -warna lain yang serba polos. Ini sudah lumayan bagus, artinya kondisi kelas yang demikian sudah terlihat bersih. Gambar - gambar yang dapat menciptakan nuansa keindahan dan nuansa lain dari suatu kegiatan dan kebiasaan yang bersifat konvensional jarang kita temukan.

Memang kita sadari bahwa eksistensi persekolahan di negara kita tercinta ini cukup bervariasi, mulai dari yang tidak layak pakai mungkin karena dinding mau roboh, genteng yang mau berjatuhan, plafon banyak yang jebol, dan siap untuk berjatuhan dan berbagai kondisi lain yang sangat memprihatinkan. Pada kondisi yang semacam ini penulis tidak bisa banyak berkomentar, hanya harapan penulis kondisi yang sedemikian parah semacam ini segera dibenahi dan ditangani. Karena bagaimana bisa kita menciptakan suatu lingkungan yang indah kalau kondisinya saja sangat memprihatinkan. Namun tidak berarti bahwa komunitas yang ada pada sekolah yang ada pada kondisi yang demikian menjadikan guru dan warga sekolahnya menjadi kehilangan kreatifitas untuk menciptakan hal -hal yang inovatif demi terciptanya lingkungan belajar yang indah, asri dan elok dipandang mata sehingga pada akhirnya tercipta suasana yang menyenangkan.

Pendapat penulis melalui artikel ini mengacu pada adanya suatu inovasi, yaitu bagaimana mengoptimalkan kondisi kelas ( classical conditioning ) dan penciptaan lingkungan sekolah agar dapat dipakai dan dimanfaatkan, dan dioptimalkan sehingga merupakan bagian yang tidak terpisahkan atau merupakan bagian yang integral dengan kegiatan pembelajaran. Artinya ruangan kelas jangan hanya menjadi dinding pembatas yang membatasi siswa di ruang kelas pada satu sisi, dengan lingkungan di luar kelar kelas pada sisi lain. Demikian pula dengan lingkungan sekitar sekolah, terutama dinding - dinding sekolah jangan hanya menjadi benda mati yang menjadi dinding pemisah antar lokal yang satu dengan lokal yang lain, atau menjadi pembatas antara lingkungan sekolah sendiri dengan lingkungan luar sekolah.

Langkah inovatif yang dapat dilakukan dan telah penulis lakukan adalah bagaimana eksistensi dinding -dinding kelas yang pada dasarnya benda mati tersebut menjadi bermakna dan berbicara terhadap siswa pada khususnya dan bagi seluruh warga sekolah pada umumnya. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menciptakan dinding - dinding sekolah dan ruang - ruang kelas yang mati ini menjadi lebih hidup, menjadi bermakna, dan pada akhirnya dapat menggairahkan nafsu belajar siswa ? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan ide pokok dari eksistensi dari artikel ini sendiri.

Jawaban dari pertanyaan diatas tidak lain adalah diperlukan suatu langkah kreatifitas dari seorang guru, dan hal ini tentunya merupakan suatu langkah inovatif yang pada kenyataannya akan berbeda dengan kondisi realita dan mayoritas yang ada di lapangan saat ini. Pada kebanyakan orang dan pada kebanyakan guru bisa saja hal ini dianggap kegiatan yang mengada -ada. Namun justru disinilah letak nilai inovatif itu sendiri muncul, sebab kegiatan yang bersiafat inovatif akan dirasakan hal yang asing oleh orang lain, sebab hal semacam itu sebelumnya jarang atau bahkan mungkin belum ada.

Pertanyaan yang mungkin timbul yaitu bagaimana, dan kreatifitas semacam apa yang dapat membedakan kondisi ruang kelas dan kondisi lingkungan sekolah konvensional dengan kondisi ruang kelas dan lingungan sekolah yang disentuh dengan nuansa kreatifitas sehingga memiliki nuansa estetis dan bermakna bagi siswa ?

Kegiatan yang telah penulis lakukan dan hal ini merupakan suatu keniscayaan untuk dilakukan juga oleh teman -teman guru di lapangan , yaitu dengan memberikan sentuhan - sentuhan seni pada dinding - dinding ruang kelas, gedung , dan pagar sekolah. Sentuhan seni itu berupa penuangan warna- warna ceria, serasi dan kolaborasi beberapa warna pada dinding kelas ataupun dinding sekolah. Tidak hanya sampai disini disamping pemaduan beberapa warna ceria yang relevan dengan dunia anak, kita juga harus mengisi ruang -ruang yang kosong dari dinding tersebut, dengan lukisan yang sengaja dibuat oleh guru, bersifat monomental dan bernilai estetis. Disamping itu dapat dipadukan gambar- gambar yang bervariasi dan relevan dengan pembelajaran. Relevan dengan pembelajaran maksuknya gambar yang dituangkan merupakan upaya untuk mendekatkan anak dengan materi pelajaran yang dipelajari pada kelas tertentu, misalnya pada pelajaran IPA, ada meteri-materi tertentu yang bisa berupa sajian gambar yang menarik siswa bila dituankan pada dinding sekolah, seperti : gambar gerhana, solar sistem, simbiosis, pertumbuhan tumbuhan, cara - cara perkembangbiakan, dan lain -lain. Demikian juga seperti materi pelajaran IPS seperti gambar tipe -tipe hewan:

Asiatis , Peralihan, Australis, dan gambar bendera dan lambang ASEAN, merupakan gambar yang sangat menarik bagi siswa. Apabila materi semacam ini disajikan berupa lukisan atau gambar yang menarik pada dinding sekolah, materi tersebut pada akhirnya bukan merupakan hal yang asing bagi siswa. Sebab setiap hari dan setiap saat siswa dapat mengamati dan melihatnya. Hal itulah yang dimaksudkan oleh penulis bahwa supaya dinding sekolah dan ruang kelas menjadi suatu yang integral dengan kegiatan pembelajaran bernuansa estetis dan menyenangkan .

Lukisan yang tertuang harus menciptakan nuansa dan nilai keindahan artinya bila kita memandang lukisan itu dapat tercipta suasana batin yang damai, menyejukkan kalbu. Kondisi semacan ini akan memiliki dampak psikologis yang sangat dalam bagi penikmat lukisan tersebut khususnya siswa, yaitu dapat memberikan nuansa rekreatif yang dapat menciptakan suasana relaksasi bagi otot -otot syaraf yang tegang stress dan semacamnya. Hanya saja hal yang harus diperhatikan yaitu tata letak dan penempatan dari lukisan itu sendiri. Lukisan hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga eksistensinya tidak memecahkan konsentrasi siswa pada saat menerima pembelajaran.

Hal semacam ini memang berbeda dan dapat menghapus cara -cara lama dalam memanfaatkan ruangan kelas pada hkususnya dan lingkungan sekitar agar lebih bermakna dan menyenangkan bagi siswa. untuk tetap berada di dalamnya. Sehingga dengan kondisi kelas yang semacam ini siswa dan guru atau siapa saja yang masuk ke kelas ini beranggapan dan merasa bahwa kelasku adalah istanaku, atau dia beranggapan bahwa sekolahku adalah sorgaku.

Penciptaan ruang kelas dan lingkungan sekolah yang sedemikian rupa memang memerlukan kerja ekstra, sebab tidak semua guru dapat melukis. Apabila hal itu terjadi tentu perlu mengundang orang yang pandai melukis. Upaya -upaya seperti yang telah dipaparkan oleh penulis tidak lain adalah suatu kiat agar siswa tidak bosan di sekolah, siswa lebih bergairah dalam pembelajaran yang pada akhirnya tentunya tercapainya prestasi siswa yang optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Kiat - kiat diatas telah dilakukan oleh penulis dan merupakan upaya untuk berbagi pengalaman terhadap sesama rekan guru sekolah Dasar di Jawa Timur sehingga penyelenggaraan pendidikan di jawa Timur tidak terpaku pada hal - hal yang monoton dan konvensional. Alhamdulillah kiat - kiat dari penulis ini menjadikan tampilan sekolah lebih indah dan bernilai estetis, animo masyarakat untuk menyekolahkan putera - puterinya ke sekolah kami cukup banyak, dan untuk prestasi siswa khususnya IPA lumayan bagus ( ada peningkatan yang cukup signifikan ).

http://re-searchengines.com/juri1208.html

Pendidikan kontekstual


Judul: Pendidikan kontekstual
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Dian Noviyanti
Saya Guru di Jakarta
Topik:
Tanggal: 27 agustus 2006

PENDIDIKAN KONTEKSTUAL

Lihatlah berbagai persoalan yang kerap diseru oleh para praktisi pendidikan; dari mulai sekolah mahal, kesenjangan kualitas pendidikan di kota besar dan kecil akibat tidak adanya standarisasi antara kualitas ajar, keterbatasan bahan ajar, penghasilan guru yang pas-pas-an hingga bangunan sekolah yang tidak layak huni. Di kota besarpun walau terlihat lebih terfasilitasi tetap terganjal persoalan mahalnya cost yang dikeluarkan agar anak dapat mengecap sekolah bermutu. Walau definisi sekolah bermutupun belum jelas pula. Biasanya lebih terkait dengan fasilitas fisik bangunan, latar pendidikan guru, dan metoda atau acuan kurikulum yang digunakan.

Setiap kali mengikuti kegiatan seminar, para guru yang datang dari penjuru Indonesia kerapkali mengeluhkan bagaimana mungkin mereka mampu menyamai Jakarta dalam menghasilkan anak didik yang bermutu. Anak didik bermutu adalah terkait dengan siswa yang berhasil masuk universitas negeri, mendapat beasiswa melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terampil berbahasa inggris dan setelah lulus mendapat pekerjaan di perusahaan besar, perusahaan asing atau minimal BUMN. Demikian opini yang terbangun dalam benak mereka. Sama sekali tidak salah kalau memang ada yang mampu menjalani mekanisme demikian. Tapi kalau kemudian hal itu dijadikan standard yang harus dicapai setiap orang, tentu menjadi salah kaprah. Konsep keberhasilan sangat luas dan mendalam, tidak bisa dikerutkan hanya pada capaian jangka pendek seperti itu. Setiap sekolah harusnya punya punya kepercayaan diri yang kuat untuk membangun konsep tersendiri dalam menjalankan fungsi akademisnya. Tidak hanya sekedar meniru sesuatu hal yang belum tentu pas dengan kondisi dan kemampuan yang dimiliki saat ini.

Sekolah di daerah sekarang berlomba untuk membangun sekolah internasional, sekolah terpadu atau minimal nasional plus dengan mengutip biaya yang tidak sedikit. Sekali lagi tidak ada yang salah dengan pilihan demikian. Tapi bagaimana dengan mereka yang tidak terakomodir dalam sistem itu? Apakah kemudian menjadi prediksi suramnya masa depan seseorang? Yang lebih mengkhawatirkan bila rasa "gagal" tidak terakomodir dalam sekolah mahal itu kemudian menumbuhkan agresivitas aktif maupun pasif; dari yang ekstrem berupa kenakalan remaja, demonstrasi yang destruktif hingga yang lebih mendasar berupa rasa minder, menyalahkan keadaan yang tidak mendukung hingga menghujat Tuhan. Heemm.

Lebih mengenaskan kalau ini juga berdampak pada para pendidik. Apabila seorang guru tidak punya konsep atau visi yang kuat mengenai arti pendidikan dan tujuannya, mereka juga akan mudah terbawa pada pandangan mengenai tujuan pragmatis pendidikan. Tidak terakomodir dalam sistem yang dipandang sebagai stándar keberhasilan membuat para guru pesimis terhadap masa depan anak didiknya maupun dirinya sendiri. Pola pikir seperti itu tentu akan mempengaruhi perlakuan atau cara seorang guru dalam menangani anak didiknya. Perasaan tersisih, gagal, tidak bermasa depan, minder akan mewarnai sikap seseorang dalam menghadapi persoalan. Seolah pintu sudah tertutup, tiada celah untuk memperbaiki masa depan. Akibatnya? Mencari kambing hitam, adalah defense mechanism yang lazim dilakukan seseorang yang merasa tertekan. Tertekan oleh apa? Oleh beban pikirannya sendiri, tentu. Hal ini bisa dilihat bila dalam suatu kongres atau seminar ada wacana baru yang dihadirkan sebagai alternatif pendekatan pengajaran, para guru akan berkeluh-kesah dulu kemudian menuntut pembicara untuk segera membuat juklak yang langsung bisa dipraktekkan di tempat masing-masing. Mereka sudah lama terbiasa menjadi operator kurikulum, sehingga wacana baru tidak cukup menggairahkan mereka untuk berbuat sesuatu yang baru.

Membangun visi para pendidik

Kalau disoal elemen apakah yang paling crucial untuk dibenahi, tiada lain adalah guru sebagai elemen yang paling utama. Kurikulum sekalipun hanyalah alat yang dibuat oleh manusia, ia akan menjadi sesuatu yang hidup tergantung oleh yang menyampaikannya. Menurut saya pribadi yang harus segera dibenahi adalah mengkonstruk struktur berpikir para guru mengenai pendidikan. Hal ini menjadi penting agar kita tidak mudah putus asa dan mendorong kita agar berkreativitas dengan sumber daya yang kita miliki saat ini. Saya amati, di Jakarta sekalipun, banayak sekolah kebingungan untuk mengadopsi metoda yang tepat. Bahkan ada sekolah yang mengadopsi beberapa metoda sekaligus tanpa memahami esensi atau key-point dari masing-masing metoda tersebut, sehingga prakteknya tetap tidak terlihat sesuatu yang istimewa. Menariknya ada sekolah dasar dan taman kanak-kanak yang mengklaim berbasis active learning tapi juga menggunakan pojok montessori, sekaligus multiple intellegences, dengan preferences agama tertentu. Belum lagi program-program tambahan lainnya. Ffuuih...seperti hyper-market saja layaknya. Semua ada. Prakteknya? Belum tentu sesuai dengan yang diharapkan. Pokoknya semakin lengkap program atau metoda, maka semakin menyakinkan untuk disebut sekolah bermutu, itu opini kebanyakan orangtua murid. Sekolah seperti ini biasa disebut sekolah terpadu, nasional plus atau berwawasan internasional:p

Kalau masing-masing kita ditanya arti pendidikan dan tujuannya, mungkin kita akan menarik garis tegas antara tataran konsep dan praktisnya. Konsep boleh setinggi langit. Tapi tetap yang menjadi capaian adalah target jangka pendek. Seperti misalnya, anak TK harus belajar calistung agar dapat masuk SD favorit, demikian pula di tahapan selanjutnya bagaimana agar siswa didik dapat melewati satu fase dan menempuh fase berikutnya. Akibatnya guru seringkali terfokus hanya dengan bagaimana caranya menyampaikan materi sebanyak-banyaknya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Bagi yang minat akademisnya tinggi didukung kemampuan mencerap / mengimitasi yang tinggi tentu tidak terlalu menjadi problem. Mereka dapat dengan mulus melampaui apa yang diharapkan dalam target materi. Yang dikhawatirkan bila pola 'menyuapi' seperti ini dibiasakan, maka anak didik akan kehilangan inisiatif, mereka hanya terbiasa meniru dan bekerja berdasar instruksi. Didikte. Tidak perduli apakah yang mereka kerjakan memiliki kontribusi bagi masyarakat sekitar atau tidak. Fenomena ini sangat rentan melahirkan pribadi egois, individualistis.

Problem menjadi lebih hebat bila anak didik tidak mampu mengikuti standard tersebut. Akibatnya guru dengan mudah melabeli anak dengan sebutan tertentu dan mengirim anak pada psikolog atau guru BP. Bahkan bagi guru yang lugu, mereka akan dengan mudah menyebut anak didik mereka ber-IQ rendah. Mengenaskan sekali, sudah miskin, tinggal di desa IDT yang terbelakang, kemudian dianugerahi otak yang bodoh pula. Itu keluhan para pengajar di daerah. Tapi menariknya dengan kondisi yang serba terbatas demikian, toh mereka tetap mampu berdikari, dapat bertahan hidup, beranak-pinak membangun keluarga turun temurun. Pasti ada kecerdasan tertentu yang diberikan alam sehingga mereka dapat bertahan. Kalau mereka bodoh pasti kelompok mereka sudah lenyap dari muka bumi. yang menjadi masalah mungkin adalah cara penyampaian yang tidak tepat bagi komunitas tertentu. Guru cenderung menyampaikan sesuatu sesuai dengan pengalaman yang ia terima, ia kemudian hanya melakukan pengulangan. Mengimitasi dari pola yang telah ia pelajari. Tentu akan terjadi banyak benturan bila fokus kita hanyalah pada metoda tertentu, hanya berbasis pada pola pengajaran yang pernah kita terima semasa sekolah dulu. Tanpa didukung oleh visi yang jelas dan kuat yang terinternalisasi didalam diri, kita akan mudah terjebak pada penghitam-putihan. Tidak terbangun motivasi atau inspirasi untuk mengkreasi suatu hal yang baru. Kita terbiasa berpikir linier; bila tidak A, maka gagal. Bukannya bila tidak A maka ada B, C, dst, sebagai ciri orang yang mampu berpikir lateral atau kompleks.

Saya sendiri tidak mau berkutat dengan persoalan mendefinisi arti dan tujuan pendidikan. Setiap orang harus mampu membangun visi tersebut dalam dirinya masing-masing. Kalaupun ada tokoh atau instansi tertentu yang mampu menelorkan visi yang bernas mengenai pendidikan, tetap menjadi kerja berat dalam mensosialisasikannya agar berbuah menjadi tindak laku nyata, tidak sekedar menjadi slogan semata. Bagi saya pribadi, konsep pendidikan yang terpahami adalah bahwa setiap orang dilahirkan dengan membawa talenta dari Tuhan. Tugas pendidik adalah mencari cara dalam mendidik yang tepat agar dapat memancing talenta tersebut, mengasahnya agar dapat memberikan manfaat bagi umat. Talenta dimaksud tentu luas sekali, tidak terbatas dengan produk yang kita kenal sekarang. Kita harus berangkat pada pemikiran bahwa anak didik kita membawa sesuatu yang belum kita kenali. Namun tetap ada clue yang secara umum bisa kita tengarai, yaitu lingkungan dimana ia tinggal dan dibesarkan sebagai salah satu aspek penting dalam mengenali jati diri pribadi.

Alternatif solusi: pendekatan kontekstual

Pernahkah kita amati bagaimana masing-masing daerah memiliki keunikan dari ragam hayati dan nabatinya? Dari kondisi geografisnya? Dari manusianya?. Misalnya, mengapa kota Malang terkenal dengan apelnya? Kota peliatan terkenal dengan penari legongnya? Kota Garut terkenal dengan dombanya? Kota Bunaken terkenal dengan taman lautnya? Bugis terkenal dengan para pelaut tangguhnya? Dan kota Ampek angkek terkenal dengan penjahit ulungnya?. Belum lagi bahasanya yang unik, tiap daerah punya kosakata berbeda untuk menyatakan sesuatu, dengan kekayaan aksen dan logat yang spesifik pada masing-masing daerah. Bayangkan keterampilan yang dimiliki setiap suku bangsa, kita tidak akan menafikannya, bukan?. Kehidupan keseharian para penduduk yang belajar melalui alam menjadi aset penting bagi kita dalam menemukan metoda yang pas dalam mendidik mereka. Guru harus berupaya menemukan metoda dengan memberdayakan potensi lokal, yang berbasis pada kebutuhan kultural.

Beberapa kelemahan pendidikan kita adalah me'menara-gading'kan pendidikan dengan tidak menyentuh aspek kontekstual masyarakat sekitar. Pembelajaran seolah menjadi materi tersendiri yang tidak berkesinambung dengan kehidupan keseharian. Materi yang diberikanpun tidak terintegrasi satu sama lain. Secara logika, bagaimana mungkin belajar ilmu bumi dengan memisahkan antara fisika, biologi, kimia dan matematika?. Contoh riil, ketika seorang anak belajar mengenai tumbuhan, harusnya dia belajar bagaimana proses menanam tanaman, juga mempelajari proses kapilarisasi, meneliti unsur kimia tanah / hara yang mempengaruhi perkembangan tanaman, mengamati proses fotosintesa, mengukur tiap inchi perkembangannya, mempelajari bentuknya, menghapal nama latin dari bagian-bagian tanaman, menggambar, membuat prakarya dari bagian tanaman, belajar cycle of life dari tanaman tersebut, dan sebagainya. Project akhirnya adalah membuat presentasi; entah berupa unsur tanaman yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, mendisain operet mengenai kehidupan imajinasi tanaman, atau sekedar menceritakan salah satu proses yang telah mereka pelajari. Menarik bukan? Dari satu tema semua materi dapat terintegrasi. Apalagi kalau daerah tersebut memiliki lahan luas seperti pedesaan dan berbasis agrobisnis, wah pasti akan lebih kaya lagi materi yang bisa digali.

Kalau ini bisa dilaksanakan, maka kita tidak akan terfokus pada ruang-ruang kelas yang statis, keluhan standarisasi kurikulum, kurangnya fasilitas hingga keterbatasan guru. Kita bisa menyertakan masyarakat sekitar yang handal dalam bidangnya untuk terlibat dalam project sesuai tema yang ditetapkan. Dan utamanya, anak didik menjadi berperan aktif untuk mengeksporasi minatnya, tanpa dibatasi kekhawatiran atas mata pelajaran tertentu. Tumbuhnya minat tersebut yang akan memotivasi mereka untuk belajar secara mandiri, tanpa didikte guru.

Beberapa sekolah sudah membuktikan keberhasilan dengan pendekatan kontekstual, ingat 3 siswa SMP alternatif Qaryah Thayyibah di salatiga , yang berhasil lulus ujian nasional? Dari seluruh siswa kelas 3, hanya mereka yang mengikuti ujian tersebut. Alasannya sekedar ingin menguji apakah mereka dapat mengikuti standar yang diberikan. Nyatanya mereka dapat lulus. Padahal mereka belajar mandiri. Teman-temannya yang lain bahkan sudah tidak mempedulikan dengan ujian tersebut karena asyik menyiapkan project masing-masing. Mereka demikian percaya dirinya dengan keputusan yang mereka ambil yang cenderung "melawan arus", dimana saat itu setiap orang berlomba agar dapat lulus ujian walau dengan menempuh cara-cara yang tidak dibenarkan. Di Jogyakarta ada sebuah TK yang mengembangkan pendidikan prasekolah komunitas yang mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya. Mereka menggunakan istilah racik-racik untuk melatih motorik halus, ngewot galengan atau meniti pematang sawah sambil belajar dan dolanan.

Penutup

Uraian ini hanya merupakan wacana yang membutuhkan lebih banyak diskusi untuk mematangkan detilnya. Lebih urgensi lagi, dibutuhkan keberanian dari masing-masing diri untuk menguji-coba wacana ini hingga dapat diimplementasi dalam sistem pendidikan kita.
http://re-searchengines.com/0806dian2.html

Sinergi, Menyatukan Energi Dalam Mendidik

Judul: Sinergi, Menyatukan Energi Dalam Mendidik
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): FX. Gus Setyono
Saya Masyarakat di Pati - Jawa Tengah
Topik:
Tanggal: 16 Juli 2008

SINERGI, MENYATUKAN ENERGI DALAM MENDIDIK

Oleh : Gus Setyono, F.X.*

Guru dan orang tua adalah dua petani ilmu yang berbeda lahan persemaian, yakni sekolah dan keluarga. Mereka perlu bersinergi, karena sama-sama bertanggungjawab terhadap keberhasilan pendidikan dan masa depan para generasi bangsa.

Sinergi dalam konteks mendidik dapat diartikan suatu bentuk kerjasama yang harmonis untuk menanam benih-benih pengetahuan. Kerja sama tersebut dijabarkan dalam program-program realistis yang dapat diimplementasikan secara kontinyu, dengan gerak yang sinkron, serta konsisten.

Sinergi dibutuhkan untuk menghindari sikap saling menyalahkan saat menemui kenyataan bahwa banyak kerikil tajam yang menghambat proses pendidikan. Sekolah tidak boleh melemparkan kesalahan begitu melihat kurangnya dasar-dasar pengetahuan yang dibangun oleh keluarga. Orang tua juga dilarang menyudutkan pihak sekolah, ketika menyaksikan kepandaian anak tidak sesuai dengan yang diharapakan. Bagaimanapun, seperti telah diyakinkan oleh Mochtar Buchori (2006), pendidikan akan lebih menemui kesempurnaan bila dilaksanakan oleh sekolah dan keluarga.

Namun dalam prakteknya sering dijumpai ketidakharmonisan antar pendidik. Mereka tidak menyadari bahwa harmonisasi akan menyatukan energi sehingga menciptakan tenaga dan spirit yang lebih besar dalam mendidik. Kenyataan ini merupakan ekses dari beberapa faktor seperti : perbedaan pemahaman tentang cara mendidik, beda paham tentang suatu pengetahuan serta kesen- jangan kemampuan antar pendidik.

Misalnya dalam memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai. Dari perspektif cara menga- jar, guru berpandangan bahwa nilai-nilai (termasuk religius) tidak ada bedanya dengan ilmu lain, yang tuntas diberikan pada tahap aktivitas belajar di kelas. Sedangkan pada pengertian orang tua, nilai-nilai merupakan sikap atau sifat yang mesti diterapkan dalam perilaku sehari-hari.

Keduanya bisa benar bisa salah. Prestasi pendidikan nilai memang dapat diukur dari sebera- pa besar anak mampu melaksanakan nilai-nilai dalam kehidupannya. Namun bila pelaksanaan nilai tersebut tanpa didasari dengan teori keilmuan, maka pemahaman anak tentang nilai sebatas kulit luar- nya. Anak tidak tahu apa arti dan mengapa nilai tersebut perlu diterapkan.

Pada kasus lain, akibat guru yang kurang mengikuti perkembangan didaktika, dia menerap- kan standard mendidik sama seperti masa kecilnya. Sementara orang tua ada yang justru telah mengetahui bagaimana metode pendidikan modern dan motivasi yang dapat mengembangkan potensi anak secara maksimal. Akibatnya, saat orang tua berusaha membangun karakter, menggali potensi dan kepercayaan diri, ada guru yang malah merusaknya dengan berbagai sikap atau perkataan yang melemahkan dan menyinggung harga diri si anak, atau tanpa disadari menciptakan suasana belajar-mengajar di sekolah menjadi sangat membosankan.

Sebaliknya, ada juga kejadian dimana saat guru berusaha menanamkan nilai kasih sayang, di rumah anak menemui suasana keluarga yang berantakan, sama sekali berbeda dengan yang telah diterima di sekolah.

Pada situasi lain, guru berusaha memacu pengetahuan akademik. Sementara itu, karena ba- nyak orang tua yang kurang memiliki pengetahuan akademik maka keinginan anak untuk belajar di rumah dengan bimbingan orang tuanya tidak terlunasi.

Akibat cara mendidik yang tidak sinkron, anak tenggelam dalam kebingungan. Mana yang mesti diserap, mana yang benar dan yang salah. Sehingga, saat anak terjerembab di lingkungan dengan perilaku serta budaya yang cenderung negatif akibat laju globalisasi, mereka tidak bisa memutuskan mana yang baik dan yang buruk.

Buah-buah Sinergi

Sinergi sangat penting untuk mencapai persamaan persepsi. Pemahaman yang rancu tentang cara mendidik serta perbedaan pengertian mengenai sebuah pengetahuan bisa diminimalkan. Para generasi bangsa memahami setiap pengetahuan secara mendalam, mendetail dan kompleks.

Sinergi membentuk kesempurnaan pengertian mengenai suatu pengetahuan, bagi para pen- didik sendiri. Mereka bisa saling melengkapi dan mengingatkan bila ada kekurangan. Dengan saling mengingatkan, kesalahan-kesalahan dapat segera diperbaiki supaya tidak berpengaruh buruk bagi perkembangan anak.

Sinergi juga berguna untuk mengetahui sedini mungkin problematika yang mendera anak untuk ditemukan solusinya. Kondisi ini membebaskan anak dari gempuran persoalan yang membata- si gerak perkembangannya. Terapi penyembuhan terhadap persoalan seorang anak membutuhkan kerjasama yang kuat antara guru dengan orang tua, supaya penanganannya tidak berbenturan. Guru dan orang tua perlu saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi problema anak.

Dengan sinergi, keduabelah pihak bertanggung jawab atas keberhasilan pendidikan anak. Mereka sama-sama memiliki persepsi membangun kemampuan dan pribadi anak, dan bukannya saling menjatuhkan.

Sinkron Dan Konsisten

Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencapai sinergi yang positif. Bentuk yang paling sederhana dan sering dilakukan adalah pertemuan rutin antara guru dengan orang tua. Pertemuan ini penting dilaksanakan, untuk mencapai kompromi-kompromi dalam mendidik

Bentuk lain dari sinergi ini ialah dengan bertukar informasi mengenai perkembangan anak. Tahap-tahap penyampaian materi pengetahuan juga perlu dikomunikasikan, agar keduanya memberikan porsi atau tingkatan pengetahuan secara berimbang kepada anak.

Yang penting digarisbawahi dalam sinergi ini, selain dikembangkannya koordinasi, juga perlu dibangun suasana harmonis antar pendidik. Diusahakan agar anak dapat melihat bahwa dua sosok yang sangat dihormati memberikan pengertian, pengetahuan dan contoh yang sinkron serta konsisten.

Secara psikologis anak confidence menerima segala informasi dari guru dan orang tuanya. Benturan mental yang mungkin terjadi karena ketidaksinkronan para pendidiknya dapat dihindarkan. Anak terbebas dari konflik batin, kemampuan untuk menganalisa dan memutuskan di antara berbagai pilihan menjadi terasah tajam. Generasi-generasi bangsa tumbuh menjadi pribadi yang sempurna.
***

http://re-searchengines.com/fx0708.html

Reformasi Pembelejaran PAI Kearah Edutainment


Rabu, 30 Juli 2008 07:33:39 - oleh : redaksi
HAIDZ JM SPd *)
Secara umum, edutainment merupakan pola pembelajaran yang berlangsung menghibur, menyenangkan, menggairahkan, dan berproses dengan cepat dalam mencapai prestasi yang memuaskan. Pelaksanaan dari metode yang saat dikenal juga sebagai PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan) ini, bukanlah semudah yang digembar-gemborkan. Termasuk implementasinya pada pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Selama ini, guru PAI lebih banyak menerapkan metode ceramah, dimana guru menjadi tutor tunggal dan siswa menerima apa yang disampaikan itu tanpa suara bahkan bergerak. Padahal metode ini diakui sangat monoton, menjenuhkan, dan membelenggu aspirasi siswa. Juga menghambat pencapaian pengertian, pemahaman, serta upaya mengamalkan keilmuan itu dalam kehidupan sehari-hari.
Beberapa pendekatan dan strategi yang efektif diterapkan guru PAI dalam proses pembelajaran yang juga sesuai KTSP antara lain; (1) PAI menanamkan keimanan yang kuat, artinya guru memberi peluang pada siswa untuk mengembangkan pemahaman adanya Allah SWT sebagai sandaran hidup seluruh mahluk. (2) PAI bersandar pada pengalaman siswa dalam mempraktikkan ibadah dan akhlak di kehidupan nyata. (3) PAI memberi kesempatan siswa membiasakan diri bersikap dan berperilaku secara Islami. (4) PAI bersifat rasionalis artinya seorang guru memberi kebebasan siswa membudidyakan akal fikirannya untuk memahami dan membedakan bahan pengetahuan. (5) PAI mengedepankan pendekatan emosional dan sosial agar dapat menggugah siswa dalam menghayati perilaku yang sesuai dengan bahan ajar agama. (6) PAI bersifat fungsional agar siswa dapat merepresentasikan bentuk standar materi dari sisi manfaat dan mudharat. (7) PAI membutuhkan keteladanan guru sebagai figur agama Islam dan non Islam serta petugas sekolah, tidak menutup kemungkinan orantua sebagai refleksi (cermin) bagi siswa.
Sebagai contoh dari keteladanan ini, seorang guru PAI mempresentasikan bahan ajar bagi kepada siswa sesuai kurikulum KTSP, lalu menentukan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa baik secara individu maupun kelompok. Sedang metode pengamatan yang bisa dilakukan peserta didik bisa dilakukan dengan mengamati apa yang dilakukan oleh bapak/ibu guru di sekolah.
Dalam kurikulum KTSP, tujuan pembelajaran adalah membekali dan mendayagunakan siswa untuk lebih kreatif dengan kemampuan yang mereka miliki, atas pengawasan atau didampingi seorang guru. Materi pembelajarannya sesuai dengan pokok bahasan supaya proses pembelajaran PAI berlangsung dengan edutainment dan dapat dinikmati serta dirasakan oleh peserta didik.
Ada 4 hal yang perlu dilakukan agar bisa menemukan strategi pembelajaran PAI diantaranya. Pertama, pengelolaan kelas yang variatif. Strategi ini menciptakan proses pembelajaran di kelas yang edutainment kondusif, tidak seperti saat ini. Sebagai imbauhan, guru PAI dapat merujuk dan memilih jenis strategi yang terdapat dalam buku Active Learning (101 Strategi Pembelajaran).
Kedua, Membuat Siswa Aktif. Dalam KBM PAI harus dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan kegiatan, dan guru PAI berfungsi sebagai fasilitator. Dengan begitu, PAI yang dipelajari siswa bukan saja menjadi pelajaran yang digemari, namun juga sesuatu yang dicari, dipahami, dan diamalkan oleh siswa. Misalnya siswa diminta mencari tukang kebun sekolah yang ulet dan sabar.
Ketiga, belajar dwi interaksi. Bukan zamannya lagi PAI diajarkan dengan metode searah, dimana guru selalu mendominasi proses pembelajaran. Metode pembelajaran harus sudah dilakukan perbaikan agar suasana tidak lagi menakutkan dan menjenuhkan. Oleh sebab itu diperlukan suasana yang hidup dengan cara menumbuhkan interaksi siswa melalui diskusi. Misalnya dengan tanya jawab, bermain peran (role play) dan sejenisnya.
Keempat, mengakomodasikan perbedaan individu. Kemampuan siswa dalam satu kelas sangatlah berbeda antara satu dengan lainnya, apalagi dalam kualitas siswa yang banyak (melebihi kapasitas siswa). Sering dijumpai, dalam satu kelas ada yang pintar, setengah pintar, kurang pintar dan bahkan lamban dalam menerima pelajaran. Semua ini harus diberi layanan yang sama agar termotivasi dalam belajar.
Oleh karena itu, dalam opersional pembelajaran edutainment berwujud dalam berbagai bentuk. Misalnya Quantum Teaching yaitu upaya merubah suasana yang monoton kepada suasana belajar yang ceria, asyik, dan gembira. Juga ada Quantum Learning dimana ada penggabungan sugetilogi, teknis percepatan belajar bagi siswa yang berpotensi menggunakan nalar dan emosionalnya dengan tepat. (*)

http://www.koranpendidikan.com/artikel/1237/reformasi-pembelejaran-pai-kearah-edutainment.html

Pola Progresif dalam Belajar Mengajar


DRA. RETNO AMBARWATI *)
Secara umum, proses pendidikan menuju pada tiga hal pokok yang harus mampu dicapai peserta didik, yaitu Afektif, Kognitif dan Psikomotorik. Afektif berkaitan dengan sikap, moral, etika, akhlak, dan manajemen emosi. Kognitif berkaitan dengan aspek pemikiran, transfer ilmu, logika, dan analisis. Sedangkan Psikomotorik berkaitan dengan praktik atau aplikasi apa yang sudah diperolehnya melalui jalur kognitif. Namun disadari atau tidak, proses pendidikan di sekolah sekarang porsinya lebih pada aspek kognitif atau transfer of knowledge saja. Salah satu hal yang kadang dihadapi guru dalam pembelajaran adalah kurangnya minat dan motivasi peserta didik untuk belajar di kelas. Kadangkala peserta didik mempraktikkan “ 5 D “ yaitu Datang, Duduk, Dengar, Diam, dan bahkan mungkin Dengkur.
Peserta didik kadangkala merasa “terpaksa” datang dan menghabiskan waktunya di kelas. Apalagi apabila guru masih terbiasa untuk menjadikan peserta didiknya pendengar yang baik karena guru masih yakin bahwa satu-satunya cara untuk mengajar dengan cepat adalah dengan menggunakan metode ceramah. Pada kegiatan pembelajaran Biologi mencakup dimensi ganda, yaitu proses dan produk.
Dengan demikian, peserta didik dituntut untuk melakukan kegiatan dan melakukan intervensi logis sampai ditemukan konsep/aturan/prinsip IPA. Artinya, konsep IPA yang diketahui peserta didik tidak sekadar ingatan semata, akan tetapi konsepsi yang disertai alasan logis. Kesemua ini dilakukan dengan menggunakan perangkat yang lazim disekitar peserta didik, pengalaman dan alam sekitar melalui kegiatan/proses ilmiah.
Pada dasarnya hakikat belajar mengajar dengan pola yang lebih progresif berbeda dengan hakikat belajar-mengajar dengan pola tradisional. Pada pola tradisional kegiatan mengajar lebih sering diarahkan pada aliran informasi dari guru ke peserta didik. Pandangan ini mendorong guru untuk berperan sebagai tukang ajar, dimana diibaratkan guru sebagai orang yang mengisi air pada botol yang kosong.
Pada pola progresif makna belajar diartikan sebagai pembangunan gagasan/pengetahuan oleh peserta didik sendiri selain peningkatan keterampilan dan pengembangan sikap positif. Guru belum dikatakan mengajar kalau peserta didik belum belajar. Artinya, guru baru mengajar kalau konsep materi yang disajikan dapat menjadi bagian dari ‘struktur kognitif’ peserta didik.
Untuk mencapai tujuan ini, guru tidak cukup hanya berceramah dari menit pertama sampai menit terakhir kegiatan belajar mengajar. Akan tetapi peserta didik perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan praktis dalam bentuk pengujian, percobaan atau penelitian sederhana.
Sikap mental atau reaksi peserta didik bila dilibatkan secara aktif dalam kegiatan praktis kadangkala tidak menyenangi model pembelajaran peserta didik yang aktif, kadang ada sikap seperti “menolak” yang diungkapkan lewat sikap acuh tak acuh bila diajak memecahkan masalah, peserta didik ingin agar diterangkan dengan runtut, kemudian peserta didik mencatat dan kadang peserta didik menganggap bahwa hanya dengan membaca saja mereka sudah dapat memahami pelajaran biologi semua berakibat guru mengalami kesulitan mengembangkan pengelolan kelas.
Di dalam kelas, guru semakin dituntut untuk mampu menciptakan suasana kelas yang kondusif sesuai semangat KTSP. Suasana kelas harus demokratis, tidak tegang, tetapi harus tetap tertib agar semua siswa bisa optimal dalam menyimak, berbicara, dan mengekspresikan dirinya.
Untuk menciptakan kondisi kelas yang kondusif dalam pembelajaran (masalah kognitif) seorang guru mesti mengerahkan semua potensi dirinya, dari segi intelektualitas harus semakin mampu menguasai materi pembelajaran, seorang guru juga mesti diharuskan meningkatkan masalah afektif peserta didik yang kadang lebih banyak menghabiskan waktu dan energi bahkan memerlukan kesabaran yang ekstra menghadapi peserta didik dengan berbagai latar belakang problematika hidupnya.
Pendidikan menjalin aspek kognitif dengan aspek afektif sedangkan kegiatan mengajar menjalin aspek kognitif dan psikomotor. Dalam praktek evaluasinya kegiatan pengajaran sering terbatas targetnya pada aspek kognitif.Maka pendidikan bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Sehingga perilaku guru sebagai pendidik yang perlu dikembangkan adalah sebagai mitra peserta didik, disiplin permisif, berdialog dengan pikiran kritis,melakukan dialektika budaya lama dengan nilai-nilai budaya modern, memberikan kesempatan kreatif, berproduksi, dan berperilaku sehari-hari yang positif terhadap peserta didik.
Setiap pendidikan bertujuan menunaikan nilai yang terbaik bagi peserta didik dan pendidik. Bahkan pengajaran yang baik sebagai bagian dari pendidikan selain memerlukan proses dan alasan rasional intelektual juga terjalin alasan yang bersifat moral.(*)
http://www.koranpendidikan.com/artikel/3227/pola-progresif-dalam-belajar-mengajar.html


Optimalisasi Pembelajaran dengan Brain Gym


Selasa, 17 Juni 2008 07:27:59 - oleh : redaksi

“Setelah melakukan brain gym beberapa kali kami mendapatkan energi positif yang membuat kami bergairah, percaya diri, dan optimis atas prestasi belajar kami”
(Murid-murid berbicara tentang brain gym setelah terapi beberapa kali)
Otak memiliki dua sisi yang bekerja secara harmonis; otak kiri bersifat akademis, berperan memroses logika, kata, matematika, dan urutan. Otak kanan bersifat kreatif, berhubungan dengan irama, rima, musik, gambar, dan imajinasi. Brain gym adalah senam otak yang bertujuan untuk mengkoneksikan dan menyelaraskan secara optimal fungsi otak kiri dan otak kanan.
Dalam sistem pendidikan yang berlangsung sekarang ini lebih mengedepankan pola-pola pembelajaran yang semata-mata berorientasi pada kecerdasan intelektual sehingga potensi pengembangan otak kiri lebih dominan. Dengan demikian sikap ‘Ide Gila’ sikap kreatif, inovatif, serta eksploratif kurang begitu dikembangkan. Jadinya, murid-murid mudah gelisah, pesimis, kurang pede, dan kurang mampu mengendalikan emosi.
Apabila brain gym dilakukan teratur dalam kegiatan pembelajaran di kelas, akan menghasilkan efek positif, seperti mind focusing (konsentrasi pikiran) serta ice breaking (penawar kejenuhan belajar) yang pada akhirnya membantu memunculan spirit, motivasi, energi positif dan optimis dalam meraih prestasi. Braim gym juga berfungsi sebagai hidden curriculum untuk membangun character building ke dalam semua bidang studi.
Brain gym yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh Paul E Dennison dan Gail E Dennison terdiri dari 35 macam gerakan. Beberapa gerakan sederhana seperti Gerakan Silang (Cross Crawl), Mengisi Energi (Energizer), 8 Tidur (Lazy 8’s), Sekalar Otak (Brain Button), Titik Positif (Positive Points), Putaran Leher (Neck Rolls), Tombol Bumi (Earth Button), dan Tombol Imbang (Balance Button).
Dalam tulisan ini akan ditampilkan salah satu teknik yang dicoba penulis dengan menggabungkan teknik Paul and Gail, Lazanov, serta seni yoga. Teknik ini dikembangkan dengan mendasari bahwa sebenarnya otak manusia memancarkan gelombang dalam empat keadaan yang berbeda; beta (waspada dan aktif penuh), alfa (konsentrasi yang rileks), theta (hampir tidur atau bermimpi), dan delta (tidur nyenyak).
Banyak peneliti meyakini bahwa kita dapat menyerap informasi jauh lebih cepat dan efektif saat otak berada dalam keadaan waspada dan rileks. Sementara konsentrasi penuh merupakan kunci sukses menerima, mengolah, dan menyimpan informasi. Untuk dapat membawa murid dalam keadaan ‘alfa’ ini, kita bisa pilih gerakan brain gym berupa Mengisi Energi (energizer).
Langkah yang harus dilakukan oleh murid; pertama, duduk di kursi dengan meletakkan kedua tangan di atas meja, menyejajarkan kedua kaki lurus ke depan, badan tegak, dan posisi kepala lurus mengadap ke depan. Kedua, memejamkan mata sambil memfokuskan pikiran. Proses ini harus dilakukan dalam kondisi rileks. Ketiga, murid diajak untuk membayangkan bagaimana mereka meraih sukses yang luar biasa.
Terapi ini dilakukan selama kurang lebih 5 menit. Keempat, murid diminta membuka mata dan memvisualisasikan apa yang mereka bayangkan dan diakhiri yel-yel ‘Saya Sukses’ atau ‘Saya Bisa (3x). selama murid alam posisi langkah ketiga, mereka diajak untuk membayangkan hal-hal lain sesuai degan tujuan yang ingin dicapai. Untuk mengoptimalkan kondisi alfa, kita bisa menggunakan media muzak.
Muzak yaitu background musik yang berfungsi sebagai stimulan otak. Para trainer dan motivator ESQ dan SSQ yakin bahwa jenis musik tertentu dapat membantu mencapai hasil yang optimal. Seperti yang pernah diungkap oleh Colin Rose bahwa apa yang dicapai dalam praktik meditasi berminggu-minggu dapat dicapai oleh musik dalam beberapa menit.
Jenis musik yang bisa digunakan seperti karya Erwin Gutawa, Kenny G, Kitaro, atau musik klasik karya Beethoven dan Mozart. Menurut Lozanov, musik yang palik membantu adalah musik barok, seperti Bach, Handel, Pachelbel, dan Vivaldi. Namun yang perlu diperhatikan adalah menyesuaikan jenis musik dengan tujuan brain gym yang ingin dicapai.
Terapi brain gym dalam pembelajaran tersebut telah penulis ujicobakan dan secara pelaan namun pasti dapat memberi efek positif dalam meningkatkan motivasi dan prestasi belajar. Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan kita dapat menjadi tidak hanya sebagai seorang guru yang unggul tetapi juga seorang trainer dan motivator yang unggul bagi murid-murid. (*)

http://www.koranpendidikan.com/artikel/998/optimalisasi-pembelajaran-dengan-brain-gym.html

Metodologi Subtansi Pembelajaran


Selasa, 26 Februari 2008 08:02:21 - oleh : redaksi
Makna pendidikan yang sarat dengan muatan nilai-nilai moral bergeser pada pemaknaan pengajaran yang berkonotasi sebagai transfer pengetahuan. Misalnya, mata pelajaran pendidikan agama di sekolah-sekolah unggulan tidak menjadi favorit atau mendapat volume jam pembelajaran yang lebih dibanding dengan mata pelajaran lain yang di-UN-kan. Sehingga mata pelajaran yang mempunyai muatan nilai, moral, norma, dan karakter daerah setempat terabaikan. Lemahnya perhatian terhadap mata pelajaran yang berbasis nilai, akan mengikis karakter, kepribadian, budaya dan nilai-nilai lokal. Padahal, pendidikan nilai itu sangat penting artinya bagi masyarakat yang cepat berubah pada era global ini.. Pendidikan nilai menjadi cagar budaya untuk mengimbangi pesatnya dampak negatif teknologi. Misalnya, kemudahan mengakses gambar-gambar pornografi di internet akan dilakukan bagi anak yang memiliki landasan nilai yang lemah.
Menurut Ahmad Tafsir (2006), tugas pendidikan di sekolah tidak membuat life style manusia menjadi hedonis, yang paling utama, ialah menanamkan nilai-nilai. Pendidikan ini mengharuskan untuk menggerakkan potensi peserta didik berbudaya.
Persoalan metodologi menempati posisi penting bagi proses pembelajaran yang membutuhkan kajian mendalam. Metodologi mempunyai kedudukan utama ketimbang materi yang lebih harus dikuasainya. Metodologi merupakan tahapan mendalami suatu masalah dengan pendekatan “apa” yang dapat diterima oleh peserta didik. Pendekatan pembelajaran selama ini sering tidak mempertimbangkan “apa”, “bagaimana”, dan “untuk apa”. Dampaknya adalah peserta didik merasa pada ruang hampa dan pendidik tidak menjadi magnet bagi peserta didik. Mata pelajaran maupun pendidik tidak menjadi daya tarik bagi peserta didik untuk mempelajari dan menumbuhkan motivasi dari dalam. Artinya adalah proses pembelajaran tidak merasa milik bagi peserta didik dan peserta didik tidak merasa bermakna apa yang diperoleh dalam mempelajarinya. Jadi, pembalajaran di kelas tidak menjadi kebutuhan peserta didik yang tidak dapat menumbuhkan kesadaran pentingnya belajar. Pendidik menyampaikan pelajaran tidak membekas ke jiwa peserta didik. Dengan demikian, buku A. Fatah Yasin ini mengupas pembelajaran pendidikan agama Islam dengan berbagai metodologi yang selama ini tidak diperhatikan oleh para penulis dan pakar pendidikan lain. Menurutnya, metodologi pendidikan Islam sebagai unsur penting dalam proses pembelajaran, aspek metodologi merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan Islam, dan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap tingkat ketercapaian tujuan pendidikan Islam. Pengembangan metodologi pendidikan Islam dalam praktiknya adalah melalui penerapan berbagai pendekatan, metode/ strategi dan teknik yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran guna pemberdayaan peserta didik supaya bersedia dan bias belajar dengan efektif, efisisen, dan menyenangkan diberbagai jalur, jenis dan jenjang pendidikan. Pengembangan aspek metodologi dalam pembelajaran pendidikan Islam, sangat mutlak diperlukan guna tercapainya tujuan pendidikan Islam.

http://www.koranpendidikan.com/artikel/439/metodologi-subtansi-pembelajaran.html

Metode Kinestetik Memperkaya Kosakata


Selasa, 10 Februari 2009 11:13:16 - oleh : redaksi

Dunia anak penuh kesenangan, anak hanya berfikir dapat mengisi sebanyak mungkin kesenangan dalam hidupnya. Begitu pula dengan pendidikan mereka, seorang guru harus melaksanakan pengajaran yang menyenangkan, mengajak anak belajar dengan nuansa bermain. Karenanya seorang guru, terutama guru SD, memiliki sifat dan penyabar, dua hal yang saat ini masih jarang dimiliki oleh kebanyakan guru.
Sebagai seorang pengajar di SD, penulis ingin berbagi pengalaman tentang salah satu strategi mengajar bahasa Inggris pada anak tanpa membosankan bahkan menakutkan. Akan tetapi yang akan saya jabarkan bukanlah suatu permainan yang mengandung pelajaran, melainkan pelajaran yang membuat anak seolah-olah mempunyai kebebasan bermain. Sebagai guru bahasa Inggris SD, dimana yang pertama kali harus dilakukan
oleh guru yaitu memberikan kosa kata (vocabulary) yang sebanyak-banyaknya. Tanpa
mempunyai kosa kata, tidaklah mungkin akan bisa bagi seseorang untuk
belajar berbicara (speaking) atau struktur kalimat (structure). Disinilah pentingnya
bagi anak usia dini yang mulai mengenal bahasa inggris bisa mengenal terlebih dahulu
kosa kata bahasa inggris (vocabulary).
Salah satu cara yang bisa kita pakai untuk mengajarkan anak menghafal vocablary yaitu dengan memanfaatkan kebiasaan mereka suka bergerak (Kinestetik). Dalam hal ini, kita bisa menggunakan cara mengajak siswa melafalkan vocabulary dengan gerakan-gerakan. Pertama, tulislah tiga kosa kata (vocabularies) di papan tulis tanpa memberikan artinya (tanpa bahasa Indonesia), contohSoldier, Door, Sleep. Kedua, guru meminta anak-anak membaca satu persatu vocabulary bergantian dengan guru, dan diulang sampai bisa melafalkan dengan pronouncation yang benar. Ketiga, dari salah satu vocabulary tersebut ambillah satu kata, kemudian berilah gerakan yang sesuai dengan kata tersebut, contohkita ambil kata Soldier. Guru menyebutkan kata Soldier kemudian semua siswa dan guru ambil posisi tangan sedang memegang senjata, setelah siap menembak guru langsung memberikan aba-aba dengan menghitung, One-Two-Three (1-2-3)setelah hitungan ketiga semua siswa dan guru bersama-sama menembakkan kearah kanan sambil berteriak Soldier, kemudian tembakkan ke depan dengan berteriak lagi Soldier.
Setelah itu tembakkan kembali kearah kiri sambil berteriak Soldier. Begitulah seterusnya. Guru bisa lebih kreatif untuk mencari gerakan-gerakan yang sesuai dengan vocabulary yang diajarkan. Perlu diingat bahwa satu kata harus dilakukan dengan tiga gerakan yang
boleh sama tiap gerakannya (dalam satu kata) bahkan boleh dalam gerakan kedua tidak
sama dengan gerakan pertama dan gerakan ketiga tidak sama dengan gerakan
pertama dan kedua. Contoh kata Door, setelah guru menyebutkan kata Door pada siswa, guru mengambil posisi tangan maju kedepan seolah-olah siap membuka pintu, setelah hitungan ketiga siswa dan guru menggerakkan tangan dengan posisi membuka kunci sambil berteriak Door, gerakan kedua, tangan sedang menarik pintu dan berteriak Door, gerakan terakhir tangan menutup pintu dan berteriak Door. Cara mengajarkan anak menghafalkan vocabulary tersebut akan merangsang anak untuk
mencari gerakan yang sesuai dengan vocabulary yang mereka temukan, di sini siswa
tidak akan merasa dituntut untuk menghafal vocabulary satu persatu, melainkan mereka
akan berfikir gerakan seperti apa yang pantas untuk suatu vocabulary yang mereka
temukan.
Bahkan dengan sendirinya anak-anak tidak menyadari kalau mereka telah
menghafal satu kosa kata (vocabulary) karena yang mereka fikirkan adalah bagaimana
mencari gerakan yang sangat cocok dengan kosa kata (vocabulary) tersebut. Strategi
mengajarkan vocabulary ini tidaklah bisa digunakan untuk semua tingkatan sekolah
dasar, lebih efektif ketika diterapkan dikelas II dan III, namun masih bisa
diterapkan dikelas I dengan kesulitan bahwa siswa kelas I cenderung mengikuti apa
yang diajarkan oleh gurunya saja, artinya mereka akan menggunakan gerakan suatu
vocabulary apabila sudah pernah diberikan atau diketahui dari gurunya.
Di kelas besar atau kecil, kita bisa menerapkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan
guru untuk menguasai kelas. Penulis yakin dengan sedikit pengalaman yang dijabarkan
ini yang insyaallah sudah terbukti, bisa bermanfaat bagi para guru bahasa inggris
untuk menambah strategi pengajaran bahasa inggris yang lebih kreatif dan inovatif. (*)

http://www.koranpendidikan.com/artikel/2588/metode-kinestetik-memperkaya-kosakata.html

Konsep Pendidikan Nilai yang Menyenangkan


Selasa, 26 Februari 2008 07:16:49 - oleh : redaksi
TATIK REJEKI SPd

Hingga sekarang, dunia pendidikan masih diwarnai perilaku siswa membolos, berkelahi atau tawuran, mencuri dan menganiaya, hingga mengkonsumsi minuman keras dan narkotika. Bahkan sudah ada gejala peredaran adegan porno yang perankan oleh para pelajar. Fenomena ini tentunya tidak akan terjadi apabila orang tua dan lembaga pendidikan berhasil mengajarkan nilai moral yang berlaku di masyarakat.
Nilai-nilai yang dapat dikembangkan dalam diri siswa adalah nilai-nilai nurani (values of being) yang meliputi ketaqwaan kepada Tuhan YME, kejujuran, rasa percaya diri, kesabaran, ketertiban, dan keberanian. Sedangkan nilai-nilai yang memberi (values of giving) meliputi kesetiaan, dapat dipercaya, menghormati, empati dan simpati, kasih sayang, ramah, dan adil.
Pendidikan nilai sebenarnya sudah didapatkan anak semenjak berada di lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitar. Secara sadar atau tidak, mereka sudah mulai mengembangkan pendidikan nilai melalui pengamatan terhadap orang tua, teman, media, yang pada akhirnya mereka akan meniru apa yang telah mereka lihat setiap hari. Pengembangan pendidikan nilai dilanjutkan pada lembaga pendidikan atau sekolah.
Bagaimana metode pendidikan nilai yang menyenangkan? Sebagai guru pertama bagi anak, orangtua berperan penting menjadi pelaku nilai, baik nilai-nilai nurani maupun nilai-nilai memberi. Mulailah dari hal kecil seperti membiasakan salam, berkata santun, hingga pada hal paten seperti salat lima waktu bagi keluarga muslim. Sebagai teladan, orangtua harus menunjukkan kepada anak bahwa orangtua “menjunjung tinggi nilai itu”.
Selanjutnya sekolah sebagai subkontraktor pendidikan nilai mempunyai tanggung jawab melanjutkan penanaman pendidikan nilai. Di sekolah ada guru yang mengajarkan pendidikan agama, guru pendidikan kewarganegaraan, dan bahkan guru bimbingan dan konseling, tetapi pada kenyataannya jam pelajaran sangatlah minim dibandingkan dengan kuantitas jam pelajaran pada disiplin ilmu lainnya.
Karena itu seharusnya guru yang mengajarkan disiplin ilmu lain, ikut aktif menanamkan pendidikan nilai. Sehingga pelaksanaannya kontinyu tidak terpusat pada satu atau dua mata pelajaran. Sehingga semua yang terlibat pada proses pembelajaran di sekolah, bisa menjadi pelaku nilai moral, karena seorang guru panutan bagi siswanya baik dalam berucap ataupun bersikap.
Kegagalan orang tua atau guru dalam menanamkan pendidikan nilai bisa jadi karena metode yang kita gunakan kurang efisien atau membosankan. Untuk itu sudah saatnya kita mencoba membenahinya dengan metode lainnya, sehingga tujuan akan tercapai. Pertama, diskusi atau problem solving dimana anak kita libatkan untuk mengemukakan ide dalam mencari solusi masalah yang sering mereka alami.
Sementara kita membantu mereka mengembangkan minat dan kemampuan mereka sendiri untuk berbicara. Nilai-nilai yang kita ajarkan perlahan-lahan namun pasti akan menular kepada mereka apabila kita sering berinteraksi. Kedua, permainan (game) skenario kita betul-betul menempatkan diri anak dalam situasi yang memperlihatkan konsekuensi serta hubungan sebab akibat dalam berbagai pilihan atau perilaku.
Ketiga, penghargaan dan pujian yang positif, perhatian positif yang kita berikan saat seorang anak menunjukkan citra diri (self - image) dan individualitasnya dapat membangun rasa percaya dirinya dan hal ini diperlukan untuk mendapatkan keandalan diri (self - reliance). Pujilah mereka saat menunjukkan tindakan pengembangan nilai karena akan membuat mereka bangga dan merasa dapat diandalkan.
Keempat, membiasakan pepatah-pepatah atau kata-kata bijak, untuk menanamkan nilai moral yang kuat kedalam benak seorang anak kita harus membiasakan pepatah atau kata bijak yang menyatakan suatu nilai moral. Kelima, out bond. kegiatan out bond sangat menyenangkan bagi siswa, karena out bond bisa menumbuhkan keberanian dalam menghadapi tantangan, menentukan keputusan, dan juga melatih kerja sama.
Mengingat pentingnya pendidikan nilai pada anak, sudah seharusnya orang tua dan lembaga pendidikan berbenah diri dengan mengubah tradisi dan memanfaatkan sarana prasana yang menunjang pengembangan pendidikan nilai. Mari bahu membahu untuk mewujudkan pribadi generasi kita yang mengaplikasikan pendidikan nilai. Oleh karena itu pendidikan nilai harus kita berikan sekarang dan seterusnya.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/409/konsep-pendidikan-nilai-yang-menyenangkan.html

Beri Kami Otonomi Pengelolaan Pembelajaran

WIJI UTAMI SPd *)
Pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar yang sedianya untuk pengenalan bergeser menjadi beban karena sulitnya pengerjaan ujian setiap akhir semester, khususnya kelas IV dan V. Diawali sekitar tahun 2000, pengenalan Bahasa Inggris di SD menjadi salah satu cara peningkatan kualitas siswa menyambut era millennium. Dan itu merupakan terobosan yang positif mengingat pendidikan bahasa lebih afdol jika dilakukan sejak dini.
Disamping itu merupakan kebijakan yang menguntungkan bagi lulusan –lulusan yang belum tertampung pada lapangan kerja yang memadai. Sehingga otomatis mengurangi pengangguran. Pembelajaran bahasa inggris masih terasa menyenangkan dan membanggakan bagi siswa sampai bergulirnya kurikulum baru yang cenderung tidak fokus dan menggantung.
Jika pada kurikulum sebelumnya tema yang diajarkan telah ditentukan untuk setiap kelas sehingga siswa tidak mengalami kesulitan yang berarti mengerjakan ujian akhir semester karena seputar tema yang telah diajarkan guru dalam satu semester tersebut. Disamping itu bentuk soalnya juga sesuai dengan dua kemampuan bahasa dari empat yang ada, yaitu reading dan writing. Sedangkan untuk speaking dan listening dilakukan secara praktis oleh guru. Namun kenyataanya pada sekitar lima thun terakhir yang katanya KBK maupun KTSP memberikan kebebasan menentukan tema pada guru tidak dibarengi dengan hak untuk membuat soal sendiri. Dan yang terjadi soal ujian akhir semester menjadi sulit dikerjakan karena melenceng dari tema yang diajarkan terlebih lagi ada materi kemampuan bahasa yang seharusnya diujikan secara praktik dilakukan secara tertulis dengan kisaran 50 sampai 70 persen dari soal.
Haruskah peribahasa “Tak kenal Maka Tak Sayang” yang mengandung arti setelah kenal maka semakin sayang menjadi setelah kenal maka semakin bimbang. Mengapa? Karena nilai harian siswa yang cenderung bagus selalu jeblok setiap ujian akhir semester dikarenakan kurikulum yang ngeculno ndhase dighandoli buntute. Secara psikologis siswa akan frustasi karena apa yang dipelajari selama hampir enam bulan tidak memberi hasil yang diharapkan.
Disamping beban mental guru bahasa inggris yang mayoritas honorer menghadapi anggapan wali murid akan kesungguhan dalam mengajar dalam semester tersebut.
Maka dengan ini kami memohon penanganan yang bijaksana dari pihak terkait. Terlebih Malang sebagai kota Pendidikan tidak kekurangan pakar bahasa yang bisa dimintai kontribusi untuk memberikan sumbangsih mengenai pembelajaran Bahasa Inggris untuk siswa SD sebagai pembelajaran bahasa asing pemula.Dan jelas membutuhkan penanganan khusus dan berbeda dengan pembelajar sekolah menengah agar mencapai long lasting achievement. Atau kalau memang terasa memberatkan, berikanlah kami otonomi dalam pengelolaan pembelajaran Bahasa Inggris pada siswa. Toh selama ini kami belum pernah mendapatkan sosialisasi dan pelatihan yang memadai sehubungan dengan kurikulum yang baru, kecuali hanya kewajiban untuk membeli soal dari dinas.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/3401/beri-kami-otonomi-pengelolaan-pembelajaran.htm



PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru

Judul: PAKEM sebagai Pembelajaran Konvensional Memantapkan Identitas Guru
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): Muh. Syukur Salman
Saya Guru di Parepare
Topik: PAKEM
Tanggal: 30 Desember 2008

Seiring dengan perkembangan zaman serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, maka tak bisa ditawar keharusan untuk terus mengadakan pembaharuan disegala lini kehidupan. Terutama sekali yang bersentuhan langsung dengan kemajuan Iptek itu sendiri, yakni Pendidikan. Sistem yang ada di dalam pendidikan harus terus mengadakan "mutasi" kearah yang positif demi mendukung sinergitas dengan kemajuan tadi. Pembelajaran di dalam kelas sebagai suatu sub system yang sangat penting dalam pendidikan tak ayal harus berbenah juga.

Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran gencar ditelorkan demi menghasilkan transfer pengetahuan dari guru ke siswa yang lebih optimal. Salah satu yang sangat gencar diperkenalkan dan dilatihkan adalah Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (Pakem). Hakikat Pakem sebenarnya adalah memberi rasa nyaman dan betah siswa (anak didik) dalam menerima pelajaran. Oleh karena itu Pakem sangat memperhatikan keinginan atau kegemaran anak, yakni bermain. Pembelajaran diolah sedemikian rupa sehingga terdapat unsur permainan di dalamnya. Mulai pembelajaran dalam bentuk lomba, kerjasama atau diskusi, sampai pembelajaran yang dilakukan di luar kelas.

Kemunculan Pakem sebenarnya disebabkan adanya indikasi bahwa siswa jenuh terhadap pembelajaran yang selama ini diterapkan. Pembelajaran yang monoton (tidak kreatif), hanya mendengarkan guru berceramah (pasif, tidak aktif), kurangnya transfer ilmu yang dapat bertahan lama pada siswa (tidak efektif), dan terakhir tentu saja sangat membosankan (tidak menyenangkan). Demikianlah nuansa pembelajaran yang kebanyakan dilakukan oleh guru selama ini. Pembelajaran yang demikian itu, yang selama ini banyak dilakukan, disebutlah sebagai pembelajaran konvensional.

Jika kita berbicara tentang pembelajaran yang konvensional, maka akan terasimilasi pada pembelajaran yang negatif, dalam arti sebaiknya tidak dilakukan lagi. Jika kita bertanya kepada seorang guru atas pilihannya antara Pakem dan pembelajaran yang konvensional tadi, maka dapat dipastikan jawabannya akan memilih Pakem, meskipun nyata-nyata dalam keseharian di sekolah, guru tersebut mempraktekkan pembelajaran yang konvensional tadi. Jika kita kembali menanyakan tentang "keengganannya" mengaplikasikan Pakem, maka dapat saja dia mengatakan bahwa tanpa Pakem pun pembelajaran dapat terlaksana dan lebih mudah pelaksanaannya.

Bukan karena ketidaktahuan mereka terhadap aplikasi Pakem di kelas, tapi lebih disebabkan unsur mudah dan sukarnya pembelajaran itu diterapkan. Lalu, mengapa pembelajaran yang "konvensional" tadi mudah diterapkan dan Pakem terasa sangat sulit untuk diaplikasikan? Sesuatu yang selalu atau berulang-ulang kita lakukan pastilah akan terasa mudah bagi kita untuk mengerjakannya. Hal ini pulalah yang terjadi pada pembelajaran yang dikatakan konvensional tadi. Hampir setiap hari guru melakukan pembelajaran dengan teknik dan metode yang begitu-begitu saja, maka terasa kemudahan dalam penerapannya. Sedangkan Pakem, mendengarnya saja mungkin ada di antara guru kita yang sudah membayangkan kesulitan yang dihadapi nantinya di kelas.

Jika kita kembali untuk mengamati secara lebih teliti pembelajaran yang selama ini menjadi kegandrungan guru dalam menerapkannya, maka akan membuat kita bertanya-tanya, dimana fungsi didaktik dan metodik yang selama ini kita sebagai guru telah fahami dalam pendidikan keguruan, karena tanpa unsur didaktik dan metodik sekalipun pembelajaran konvensional tadi dapat terlaksana. Jika demikian, pada akhirnya akan kita sepakati bahwa meski bukan seorang guru sekalipun pembelajaran yang konvensional tadi, akan dapat terlaksana. Lalu, dimana profesionalitas kita sebagai guru? Kemana kemampuan lebih kita dalam proses pembelajaran dibanding yang bukan guru? Apa hanya dengan memikirkan mudah dan sukarnya penerapan itu, kita korbankan identitas guru kita?

Mari kita tarik benang merah terhadap persoalan di atas. Bahan kita adalah, bahwa Pakem sebenarnya bukanlah pembelajaran yang benar-benar baru bagi guru. Sejak dalam penggodokan di sekolah keguruan kita telah menerima berbagai kiat dalam menggairahkan suasana kelas sehingga siswa belajar atau kemauannya sendiri dan pada akhirnya pengetahuan yang diperolehnya akan bertahan lama. Selain itu, guru tentu lebih banyak tahu teknik dalam menggairahkan siswa dalam proses pembelajaran. Hanya dengan sedikit berpikir (sesuatu yang harus selalu ada pada diri guru) mereka akan mampu menemukan sinkronisasi antara materi yang akan diajarkan dengan teknik yang menggairahkan siswa (Pakem). Lalu, bagaimana kita dapat menerima tantangan bahwa teknik konvensional tadi lebih mudah? Gampang! Jadikan Pakem menjadi pembelajaran yang konvensional, maka jadilah dia (Pakem) itu mudah dilaksanakan. Mulailah hari ini kita terapkan Pakem di kelas kita. Sulit? Bulatkan tekad kita untuk menjadi guru yang benar-benar guru, sehingga kesulitan yang memang biasa dialami jika awal kita melaksanakan tidak akan terasa. Esok hari dan seterusnya, Pakem menjadi pilihan utama kita dalam pembelajaran di kelas, maka jadilah Pakem sebagai pembelajaran yang Konvensional.

Pakem sebagai pembelajaran konvensional tentu saja tidak lagi terkesan negatif, justru akan lebih baik. Pakem dianggap oleh guru sebagai pembelajaran yang mudah direalisasikan dalam pembelajaran di kelas bahkan setiap hari sekalipun. Pakem sebenarnya meneguhkan identitas kita sebagai guru. Seorang guru harus mampu memilih atau berkreasi sendiri atas metode yang akan dilaksanakan sehingga proses trasfer pengetahuan berjalan dengan baik. Guru harus mampu memanfaatkan atau membuat sendiri peraga yang akan digunakan dalam proses pembelajaran demi perhatian siswa dan lebih memudahkan konsep materi yang akan ditransfer. Guru harus mampu mengelola kelas agar bergairah dan menyenangkan siswa. Kesemua kemampuan itu tentu saja hanya dapat dipunyai dan diaplikasikan oleh seorang guru. Oleh karena itu mari kita mantapkan identitas kita sebagai guru dengan mengaplikasikan Pakem sebagai pembelajaran konvensional yang kita gandrungi. Sekian

http://re-searchengines.com/syukur1208.html

MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF

Judul: MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): Marjohan
Saya Guru di batusangkar
Topik: pendidikan efektif
Tanggal: 15 november 2007

MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF

Oleh: Marjohan.
marjohanusman@yahoo.com

Kata efektif adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun butuh usaha maksimum dan kontinyu untuk memperolehnya. Kata ini dapat bergabung dengan kata pendidikan menjadi "pendidikan yang efektif" dan selanjutnya kita dapat bertanya sudah efektifkah pendidikan kita atau hanya sekedar asal-asalan saja?

Dari tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal, maka pendidikan formal paling banyak disorot mulai dari mutu sampai dengan keefektifannya. Pendidikan formal yang mencakupi kurikulum, sarana, dan prasarananya dan lingkungan masyarakat yang ikut mempengaruhinya.

Apakah suatu pendidikan yang diselenggarakan sejak dari bangku SD sampai perguruan tinggi atau paling kurang sampai untuk tingkat SLTA sudah efektif atau belum. Keefektifan sebuah sekolah sangat dipengaruhi oleh latar belakang rumah tangga tempat asal anak-anak didik dan keadaan masyarakat sekeliling sekolah. Rumah tangga dan masyarakat yang memiliki SDM yang sangat memadai dan kondisi keuangan yang cukup mapan akan membantu terselenggaranya suatu sekolah yang efektif.

Sekolah yang efektif tentu akan menjadi sekolah idola dan akan diserbu oleh banyak calon anak didik setiap awal tahun pelajaran dimulai. Anak yang efektif sangat ditentukan oleh faktor rumah dan faktor sekolah yaitu rumah yang efektif dan sekolah yang efektif pula.

Kualitas seorang anak didik sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh budaya dan suasana belajar di rumah dan di sekolah. Beberapa faktor pendukung kualitas anak di rumah adalah seperti tingkat sosial ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua serta pengaruh teman bermain dan hiburan. Sedangkan faktor pendukung di lingkungan sekolah adalah seperti tingkat SDM dan kehangatan pribadi guru, fasilitas penunjang, sarana belajar dan pengaruh budaya dan iklim belajar di sekolah itu sendiri.

Lebih dari separoh waktu kehidupan anak dihabiskan di rumah. Famili dan orang tua mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan pribadi anak. Kualitas mereka sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan (SDM) orang tua dalam mendidik dan menumbuhkembangkan konsep belajar dalam keluarga. Kemampuan ekonomi orang tua punya peran dalam menyediakan fasilitas belajar. Ada anak dengan tingkat pendidikan orang tua rendah, biasa berhasil dalam belajar karena orang tua cukup tebal isi kantongnya untuk membiayai saran belajar. Ada lagi sebagian anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi juga berhasil dalam belajar, karena orang tuanya sendiri kaya dengan wawasan SDM. Yang sangat beruntung adalah anak yang memiliki orang tua dengan SDM tinggi, kantong tebal dan teman-teman bermain memberikan pengaruh positif dalam belajar.

Pendidikan yang efektif tentu akan didukung oleh komponen-komponen yang juga efektif. Mereka adalah seperti sekolah efektif, kepala sekolah efektif, guru efektif dan murid yang efektif.

Sekolah yang efektif tentu mempunyai standar indikator seperti yang digambarkan oleh Sergio Vanio. Ia mengatakan bahwa kalau sekolah efektif murid-muridnya dinilai setiap tahun oleh pihak yang independen maka skor penilaiannya selalu meningkat. Murid-murid di sekolah itu sangat antusias dalam belajar dan ini tercermin dalam peningkatan prosentase kehadirannya. Guru sangat konsekwen dalam memberikan pekerjaan rumah (PR) dan menilai PR itu dengan konsisten. Sekolah memiliki program dan jadwal ekstrakurikuler di sekolah itu terdapat partisipasi orang tua dan masyarakat untuk peduli terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah tersebut.

Sekolah efektif sangat menghargai waktu dan akan memanfaatkannya ibarat memanfaatkan uang. Tentu saja sebagian besar waktu itu digunakan untuk belajar. Guru-guru di sekolah yang efektif mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang bebas dari gangguan dan memberikan pekerjaan rumah dengan cara bertanggung jawab. Sekolah ini mulai dan mengakhiri kegiatan belajar betul-betul tepat waktu. Sementara itu dalam sekolah yang tidak efektif, guru-guru cenderung tidak mendukung pemahaman tujuan sekolah.

Sekolah yang efektif tentu berada di belakang pimpinan kepala sekolah yang efektif pula. Seorang kepala sekolah akan menentukan jatuh atau bangunnya kualitas suatu sekolah. Kepala sekolah asal-asalan cenderung untuk menghancurkan budaya dan iklim belajar sekolah. Sedangkan kepala sekolah yang efektif selalu komit dengan misi dan visi yang mengangkat dan melestarikan kualitas sekolahnya.

Salfen Hasri (2004;20) mendeskripsikan tentang kepala sekolah yang efektif, yang antara lain sebagai berikut: punya visi dan merealisasikannya bersama guru dan staf. Ia mempunyai harapan yang tinggi pada prestasi, selalu mengamati kualitas guru dan kualitas anak didik serta mendorong pemanfaatan waktu. Disamping itu seorang kepala sekolah yang efektif selalu memonitor prestasi individu guru, staff, siswa dan sekolah.

Kepala sekolah yang efektif sangat sadar bahwa keberadaan siswa adalah titik pokok dalam dunia pendidikan (di sekolah), maka ia sangat memonitor perkembangan siswa yang tercermin dalam peningkatan kualitas nilai tes yang bersih dari rekayasa dan manipulasi data. Ia melowongkan waktu (punya jadwal) untuk mengamati guru dalam kelas dan senantiasa berdialog tentang problem dan perbaikan pengajaran/kelas.

Kepala sekolah menjadi efektif karena ia mampu menjadi pemimpin yang efektif. Me Clure (dalam Salfen Hasri, 2004) mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu dalam berbagi tugas bersama siapa yang memiliki kompetensi untuk pekerjaan khusus.

Seorang pemimpin yang efektif harus mampu untuk melaksanakan "problem solving" dan "decision making", memiliki bakat memimpin serta mampu untuk bersosial yaitu untuk bekerja sama. Namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah sedikit sekali yang menghabiskan waktu untuk urusan kurikulum dan pengajaran.

Marjohan, Guru SMA Negeri 3 (Program Layanan Keunggulan) Batusangkar. Sumatra Barat.

http://re-searchengines.com/1107marjohan.html

E-learning di Sekolah dan KTSP


Judul: E-learning di Sekolah dan KTSP
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian SISTEM PENDIDIKAN / EDUCATION SYSTEM.
Nama & E-mail (Penulis): Drs. Sutrisno, M.Sc., Ph.D
Saya Dosen di Universitas Jambi
Topik: Pembelajaran di Sekolah
Tanggal: 17 Agustus 2007

E-learning di Sekolah dan KTSP

Pergeseran paradigma dalam pranata pendidikan yang semula terpusat menjadi desentralistis membawa konsekuensi dalam pengelolaan pendidikan, khususnya di tingkat sekolah. Kebijakan tersebut dapat dimaknai sebagai pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada sekolah dalam mengelola sekolah, termasuk di dalamnya berinovasi dalam pengembangan kurikulum dan model-model pembelajaran.

Otonomi yang luas itu, hendaknya diimbangi dengan perubahan yang berorientasi kepada kinerja dan partisipasi secara menyeluruh dari komponen pendidikan yang terkait. Kondisi ini gayut dengan perubahan kurikulum yang sedang diluncurkan dewasa ini oleh pemerintah, yakni kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Konsekuensi yang harus ditanggung oleh sekolah adalah restrukturisasi dalam pengelolaan sekolah (capacity building), profesionalisme guru, penyiapan infrastruktur, kesiapan siswa dalam proses belajar dan iklim akademik sekolah.

Kebijakan penerapan KTSP dan pemberian otonomi pendidikan juga diharapkan melahirkan organisasi sekolah yang sehat serta terciptanya daya saing sekolah. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan pembelajaran berbasis teknologi informasi yang sangat pesat, hendaknya sekolah menyikapinya dengan seksama agar apa yang dicita-citakan dalam perubahan paradigma pendidikan dapat segera terwujud. Kecenderungan yang telah dikembangkan dalam pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran adalah program e-learning.

Beragam istilah dan batasan telah dikemukakan oleh para ahli teknologi informasi dan pakar pendidikan. Secara sederhana e-learning dapat difahami sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi (internet, intranet, ekstranet) dan multimedia (grafis, audio, video) sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara pengajar (guru/dosen) dan pembelajar (siswa/mahasiswa).

Model pembelajaran berbasis TIK dengan menggunakan e-learning berakibat pada perubahan budaya belajar dalam kontek pembelajarannya. Setidaknya ada empat komponen penting dalam membangun budaya belajar dengan menggunakan model e-learning di sekolah. Pertama, siswa dituntut secara mandiri dalam belajar dengan berbagai pendekatan yang sesuai agar siswa mampu mengarahkan, memotivasi, mengatur dirinya sendiri dalam pembelajaran. Kedua, guru mampu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan, memfasilitasi dalam pembelajaran, memahami belajar dan hal-hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Ketiga tersedianya infrastruktur yang memadai dan yang ke empat administrator yang kreatif serta penyiapan infrastrukur dalam memfasilitasi pembelejaran.

Permasalahan yang dihadapi sekolah saat ini adalah pada tingkat kesiapan peserta belajar, guru, infrastruktur sekolah, pembiayaan, efektifitas pembelajaran, sistem penyelenggaraan dan daya dukung sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Lalu, apakah mungkin program e-learning dapat dilaksanakan di sekolah? Ini yang menjadi esensi dari kebermaknaan e-learning di sekolah.

Menyiapkan program e-learning

Pengalaman menunjukan dalam menyiapkan program e-learning tidaklah sesulit dalam bayangan kita, asalkan kita memiliki kemauan dan komitmen yang kuat untuk menuju ke arah itu. Tanpa komitmen dan dukungan secara teknis maka program e-learning di sekolah tidak mungkin akan terealiasi. Ada tip tentang kunci sukses terealisasinya program e-learning, sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh (Bates, 2005) dalam journal of e-learning volume 5 tahun 2005, yakni adanya perencanaan dan leadership yang terarah dengan mempertimbangkan efektifitas dalam pembiayaan, integritas sistem teknologi serta kemampuan guru dalam mengadapsi perubahan model pembelajaran yang baru yang sudah barang tentu didukung kemampuan mencari bahan pembelajaran melalui internet serta mempersiapkan budaya belajar bagi siswa.

Ada empat langkah dalam manajemen pengelolaan program e-learning yakni pertama menentukan strategi yang jelas tentang target audience, pembelajarannya, lokasi audience, ketersediannya infrastruktur, budget dan pengembalian investasi yang tidak hanya berupa uang tunai. Kedua menentukan peralatan misalnya hoste vs installed LMS dan Commercial or OS-LMS, ketiga adalah adanya hubungan dengan perusahan yang mengembangkan penelitian berkaitan dengan program e-learning yang dikembangkan di sekolah. Ke empat menyiapkan bahan-bahan yang akan dibutuhkan bersifat spesifik, usulan yang dapat diimplementasikan serta menyiapkan short response time. Kesemuanya itu, hendaknya perlu dipikirkan masak-masak dalam konteks investasi jangka panjang.

Membudayakan belajar berbasis TIK

Berkembangnya teknologi pembelajaran berbasis TIK mulai tahun 1995 an, salah satu kendalanya adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk membudayakan anak didik dengan teknologi. Model ini telah dikembangkan di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk bersinggungan dengan budaya teknologi.

Kompetensi guru dalam pembelajaran Ada tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional (instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter) sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan. Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa. Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.

Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi: kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari peserta didik.

Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas pemanfaatan internet dalam ruang multi media.

Dengan mencermati perkembangan teknologi informasi dalam dunia pendidikan dan beberapa komponen penting yang perlu disiapkan serta pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning maka program e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan sesegera mungkin untuk diwujudkan.

http://re-searchengines.com/0807sutrisno2.html

STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN QUANTUM LEARNING

Metodologi / Methodology
Saturday, March 10, 2007 11:09:14 Clicks: 1955
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah
Nama & E-mail (Penulis):
JELARWIN DABUTAR
butar_lbt@yahoo.co.id
Saya Guru di SMK NEG.1 LAGUBOTI-TOBA SAMOSIR SUMUT
Tanggal: 21/2/2007

STRATEGI PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING DAN QUANTUM LEARNING

Seperti kita ketahui, di dalam dua tiga dasa warsa terakhir ini perkembangan teknologi itu berjalan dengan amat cepat. Teknologi yang di hari keamarin masih dianggap modern (sunrise teohnology ) bukan tak mungkin hari ini sudah mulai basi (sunset technology).

Teknologi baru terutama multimedia mempunyai peranan semakin penting dalarn pembelajaran. Banyak orang percaya bahwa multimedia akan dapat membawa kita kepada situasi belajar dimana learning with effort akan dapat digantikan dengan learning with fun. Apalagi dalam pembelajaran orang dewasa, learning with effort menjadi hal yang cukup menyulitkan untuk dilaksanakan karena berbagai faktor pembatas, seperti kemauan berusaha, mudah bosan dll. Jadi proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif, tidak membosankan menjadi pilihan para guru/fasilitator. Jika situasi belajar seperti ini tidak tercipta, paling tidak multimedia dapat membuat belajar lebih efektif menurut pendapat beberapa pengajar.

Pada saat ini kita semua memahami bahwa proses belajar dipandang sebagai proses yang aktif dan partisipatif, konstruktif, kumulatif, dan berorientasi pada tujuan pembelajaran, baik Tujuan Pembelajaran Umum (TPU) maupun Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK) untuk mencapai kompetensi tertentu.

SMK yang sudah mapan pada umumnya menggunakan teknologi multimedia di dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Pada beberapa tahun lalu yang masih menggunakan Overhead Projector (OHP) dan menggunakan media Overhead Transparancy (OHT), pada saat ini menjadi tidak mode dan mulai ditinggalkan. Beberapa kelebihan multimedia seperti tidak perlu pencetakan hard copy dan dapat dibuat/diedit pada saat mengajar menjadi hal yang memudahkan guru dalam penyampaian materinya. Berbagai variasi tampilan/visual bahkan audio mulai dicoba seperti animasi bergerak, potongan video, rekaman audio, paduan warna dll dibuat untuk mendapatkan sarana bantu mengajar yang sebaik-baiknya. Bahkan pada beberapa kesempatan telah diadakan ToT Multimedia dan juga In House Training

Pembelajaran yang Efektif

Sejauh ini multimedia mampu mengubah pembelajaran secara drastis dan fundamental. Namun pertanyaannya adalah, kapan multimedia efektif digunakan dalam proses pembelajaran peserta diktat ? dan mengapa efektif ?

Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas, kita harus merniliki pemahaman yang menyeluruh tentang multimedia. Ketika membahas multimedia, biasanya yang kita maksudkan adalah gabungan alat-alat teknik seperti komputer, memori elektronik, jaringan informasi, dan alat-alat display yang dapat menyajikan informasi melalui berbagai format seperti teks, gambar nyata atau grafik dan melalui multi saluran sensorik. Hal ini analog dengan pernikiran jika kita menganggap komputer sebagai mesin tik misalnya. Padahal komputer jelas-jelas merniliki berbagai fungsi dan manfaat yang lebih banyak dibanding mesin tik manual.

Beberapa kesalahan konsep mengenai multimedia dapat diringkas sebagai berikut :

1.Sebagian besar pengguna teknologi multi media masih menganggap multi media hanya sebagai alat penampil suatu materi yang akan disampaikan

2.Multimedia dipandang sebagai wahana yang selalu memberikan dampak positif pada pembelajaran.

3.Karena multimedia memanfaatkan banyak ragam media (audio, visual, animasi gerak, dll) maka serta merta akan menghasilkan proses kognitif yang banyak pula. Dengan bahasa sederhana dikatakan bahwa dengan memberikan banyak hal (teks, gambar, animasi, dll.) maka peserta didik akan mendapatkan lebih banyak.

Kembali pada topik terkemuka, sebelum kita mencari jawaban atas pertanyaan di atas hendaknya kita memaharni level-level pada multimedia. Secara keseluruhan, multimedia terdiri dari tiga level (Mayer, 2001) yaitu :

1.Level teknis, yaitu multimedia berkaitan dengan alat-alat teknis ; alat-alat ini dapat diartikan sebagai wahana yang meliputi tanda-tanda (signs).

2.Level semiotik, yaitu representasi hasil multimedia seperti teks, gambar, grafik, tabel, dll.

3.Level sensorik, yaitu yang berkaitan dengan saluran sensorik yang berfungsi untuk menerima tanda (signs).

Dengan memanfaatkan ketiga level di atas diharapkan kita dapat mengoptimalkan multimedia dan mendapatkan efektifitas pemanfaatan multimedia pada proses pembelajaran.

Berikut ini dipaparkan hasil-hasil penelitian berkaitan dengan pemanfaatan multimedia. Pengaruh multimedia dalam pembelajaran menurut YG Harto Pramono antara lain :

a.Multi bentuk representasi

b.Animasi

c.Multi saluran sensorik

d.Pembelajaran non-linearitas

e.Interaktivitas.

1.Multi Bentuk Representasi

Yang dimaksud dengan multi bentuk representasi adalah perpaduan antara teks, gambar nyata, atau grafik. Berdasarkan hasil penelitian tentang pemanfaatan multi bentuk representasi, informasi/materi pengajaran melalui teks dapat diingat dengan baik jika disertai dengan gambar. Hal ini dijelaskan dengan dual coding theory (Paivio, 1986). Menurut teori ini, sistem kognitif manusia terdiri dua sub sistem : sistem verbal dan sistem gambar (visual). Kata dan kalimat biasanya hanya diproses dalam sistem verbal (kecuali untuk materi yang bersifat kongkrit), sedangkan gambar diproses melalui sistem gambar maupun sistem verbal. Jadi dengan adanya gambar dalam teks dapat meningkatkan memori oleh karena adanya dual coding dalam memori (bandingkan dengan single coding).

Seseorang yang membaca/memahami teks yang disertai gambar, aktifitas yang dilakukannya yaitu : memilih informasi yang relevan dari teks, membentuk representasi proporsi berdasarkan teks tersebut, dan kemudian mengorganisasi informasi verbal yang diperoleh ke dalam mental model verbal.

Demikian juga ia memilih informasi yang relevan dari gambar, lalu membentuk image, dan mengorganisasi informasi visual yang dipilih ke dalam mental mode visual. Tahap terakhir adalah menghubungkan 'model' yang dibentuk dari teks dengan model yang dibentuk dari gambar .Model ini kemudian dapat menjelaskan mengapa gambar dalam teks dapat menunjang memori dan pemahaman peserta didik.

Fitur penting lain dalam multimedia adalah animasi. Berbagai fungsi animasi antara lain : untuk mengarahkan perhatian peserta diklat pada aspek penting dari materi yang sedang dipelajari (tetapi awas, animasi dapat juga mengalihkan perhatian peserta dari topik utama), Menurut Schnotz dan Bannert (2003), pemahaman melalui teks dan gambar dapat mendukung pembentukan mental model melalui berbagai route (yang juga ditunjang oleh latar belakang pengetahuan sebelurnnya atau prior knowledge).

Menurut model ini, gambar dapat menggantikan teks dan demikian pula sebaliknya. Model ini dapat juga menjelaskan perbedaan tiap-tiap individu dalam belajar menggunakan multimedia Beberapa hasil penelitian menunjukkan peserta diklat yang memiliki latar belakang pengetahuan sebelurnnya (prior knowledge) tinggi tidak memperoleh banyak keuntungan dengan adanya gambar pada teks, sedangkan peserta diklat dengan prior knowledge rendang sangat terbantu dengan adanya gambar pada teks.

Berarti bagi guru/fasilitator cukup jelas kapan menggunakan gambar pada teks dan kapan tidak menggunakannya. Tetapi perlu diingat juga bahwa pada dasarnya gambar sebagai penunjang penjelasan substansi materi yang tertera pada teks, jadi jangan sekali-sekali porsi gambar melebihi teks yang ada. Juga gambar harus relevan dan berkaitan dengan narasi pada teks.

2.Animasi

Menurut Reiber (1994) bagian penting lain pada multimedia adalah animasi. Animasi dapat digunakan untuk menarik perhatian peserta diklat jika digunakan secara tepat, tetapi sebaliknya anirnasi juga dapat mengalihkan perhatian dari substansi materi yang disampaikan ke hiasan animatif yang justru tidak penting. Animasi dapat membantu proses pelajaran jika peserta diklat banya akan dapat melakukan proses kognitif jika dibantu dengan animasi, sedangkan tanpa animasi proses kognitif tidak dapat dilakukan. Berdasarkan penelitian, peserta diklat yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengetahuan rendah cenderung memerlukan bantuan, salah satunya animasi, untuk menangkap konsep materi yang disampaikan.

3.Multi Saluran Sensorik

Dengan penggunaan multimedia, peserta diklat sangat dimungkinkan mendapatkan berbagai variasi pemaparan materi. Atau sebaliknya guru/fasilitator dapat menggunakan berbagai saluran sensorik yang tersedia pada media tersebut. Dengan penggunaan multi saluran sensorik, dimungkinkan penggunaan bentuk-bentuk auditif dan visual. Menurut basil penelitian, pemerolehan pengetahuan melalui teks yang menggunakan gambar disertai animasi, basil belajar peserta akan lebih baik jika teks disajikan dalam bentuk auditif dari pada visual.

4.Pembelajaran Non Linear

Pembelajaran non linear dirnaksudkan sebagai proses pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan materi-materi dari guru/widyaiswara, tetapi peserta diklat hendaknya menambah pengetahuan dan ketrampilan dari berbagai somber ekstemal seperti narasumber di lapangan, studi literatur dari beberapa perpustakaan, situs internet, dan sumber-sumber lain yang relevan dan menunjang peningkatan diri. Berdasarkan suatu penelitian dikatakan bahwa tingkat pemahaman dengan sistem pembelajaran non linear merniliki hasil yang lebih baik dibanding peserta diktat mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan hanya dari fasilitator. Jadi tugas guru/fasilitator untuk dapat merangsang dan menciptakan suatu kondisi semangat menambah ilmu para peserta diklat dari berbagai sumber lain.

5.Interaktivitas

Interaktivitas disini diterjermahkan sebagai tingkat interaksi dengan media pembelajaran yang digunakan, yakni multimedia. Karena kelebihan yang dimiliki multimedia, memungkinkan bagi siapapun (guru/fasilitator dan peserta diklat) untuk eksplore dengan memanfaatkan detail-detail di dalam multimedia dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Permasalahannya tinggal bagaimana aktivitas behavioristik terhadap multimedia memberikan dampak positif bagi kedua belah pihak (guru & peserta).

http://re-searchengines.com/jelarwindabutar3-07.html