Judul: Keikutsertaan Warga Belajar Pada Program Kejar Paket C (Studi Kasus di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya di Kota Palangka Raya).
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Hendrowanto Nibel, S.Pd, M.Pd
Saya Mahasiswa di Universitas Negeri Malang
Topik: Program Kejar Paket C
Tanggal: 21-10-2007
Keikutsertaan Warga Belajar Pada Program Kejar Paket C (Studi Kasus di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya di Kota Palangka Raya).
Oleh: HENDROWANTO NIBEL
ABSTRAK: Fenomena perbedaaan perkembangan program kejar paket C diantara kedua SKB di Kota Palangka Raya dimana PKBM Kejar Mendawai berkembang pesat dan PKBM Tilung Raya kurang berkembang. Yang dipersoalkan dalam penelitian ini adalah mengapa jumlah warga belajar program kejar paket C setara SMA di PKBM Kejar Mendawai selalu jauh lebih banyak dibanding dengan jumlah warga belajar pada program kejar paket C setara SMA di PKBM Tilung Raya. Adakah hal yang mempengaruhi warga belajar di kedua PKBM tersebut berkenaan dengan penyelenggaraan kelembagaan dan pembelajaran sehingga respons keikutsertaan mereka menjadi betul-betul berbeda.
Penelitian ini bertujuan :
(1) mengetahui gambaran tentang penyelenggaraan Program Kejar Paket C di PKBM Mendawai dan PKBM Tilung Raya,
(2) mengetahui alasan keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai, dan
(3) mengetahui alasan keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, penelitian ini dirancang menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Peneliti akan menalaah sebuah kasus yang dilakukan secara intensif, mendalam, dan komprehensif, terhadap terjadinya sebuah fenomena. Informan utama dalam penelitian ini adalah warga belajar, tutor PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya dan tokoh masyarakat serta instansi Dinas Pendidikan Palangka Raya. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik :
(1) wawancara tidak terstruktur,
(2) observasi,
(3) dokumentasi.
Data dianalisis menggunakan 3 tahap yakni :
(1) reduksi data,
(2) penyajian data,
(3) menarik kesimpulan atau verifikasi.
Temuan penelitian adalah :
(1) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai sangat tinggi karena lokasi sangat mendukung, pengelolaan sesuai petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggaraan PLS, tutor miliki ijasah S1 dan D-II sesuai bidang, sarana administrasi sudah memadai, lulusanya terbukti bekerja di instansi pemerintah dan swasta. Segi pembelajaran warga belajar dilatar belakangi ijazah dan putus sekolah dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal, tutor dan pengelola selalu memberikan saran kepada warga belajar, proses belajar tanpa dipaksa, tujuan belajar tidak hanya sekedar lulus saja, tetapi ilmu yang mereka peroleh dapat digunakan, pola pembelajaran orang dewasa, hubungan harmonis antara tutor dengan warga belajar, evaluasi daya serap warga belajar baik. Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan sudah sangat baik sehingga dapat menunjang proses pembelajaran yang baik pula yang akan diserap oleh warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai.
(2) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya sangat rendah karena pengelolaan tidak sesuai Visi dan Misi, tutor tidak sesuai profesinya, penyelenggaraan belum optimal, tidak pernah mengikuti pelatihan tutor, tidak ada pengawasan terhadap PKBM Tilung Raya, lokasinya jauh dari pemukiman penduduk, hubungan renggang tutor dan pihak pengelola serta warga belajar, warga belajar tidak mengenal tutornya sendiri, jarak rumah tutor jauh dari lokasi PKBM, tutor terpaku modul kejar paket C, hampir separuh warga belajar tidak bisa menjawab materi, pengaruh kehadiran warga belajar mengurangi motivasi tutor untuk hadir, tutor sering marah-marah dengan warga belajar, peraturan yang mengikat warga belajar. Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan belum optimal sehingga tidak dapat menunjang proses pembelajaran yang baik terhadap warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Tilung Raya.
Kata Kunci: Kejar Paket C, PKBM, Pendidikan Luar Sekolah.
Keikutsertaan adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan atau partisipasi (Putri, 2002: 308). Djohani (2003: 77) partisipasi adalah sebuah proses bertahap, tetapi tidak boleh dan tidak dapat dimulai dengan cara dan proses yang tidak partisipatif. Menurut Sudjana (2000: 172-174), partisipasi warga belajar terhadap kegiatan proses pembelajaran juga dipengaruhi oleh strategi pembelajaran. Pembelajaran partispatif merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang dapat digunakan dan dikembangkan di dalam program pendidikan luar sekolah. Suatu program pendidikan luar sekolah yang menggunakan strategi pembelajaran partisipatif mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Berdasarkan kebutuhan belajar (learning needs based) yakni kebutuhan belajar adalah setiap keinginan atau kehendak yang dirasakan dan dinyatakan oleh seseorang, masyarakat, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, nilai dan/atau sikap tertentu melalui kegiatan pembelajaran. Sumber informasi tentang kebutuhan belajar adalah peserta didik atau calon peserta didik, masyarakat dan/atau organisasi. Penting kebutuhan belajar didasarkan atas asumsi bahwa peserta didik akan belajar secara efektif apabila semua komponen program pembelajaran dapat membantu peserta didik untuk memenuhi kebutuhan belajarnya.
2. berorientasi pada tujuan kegiatan pembelajaran (learning goals and objectives oriented) yakni kegiatan pembelajaran partisipatif direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam perencanaan, tujuan belajar disusun dan dirumuskan berdasarkan kebutuhan belajar. Tujuan belajar itupun dengan mempertimbangkan latarbelakang pengalaman peserta didik, potensi yang dimilikinya, sumber-sumber yang tersedia pada lingkungan kehidupan mereka, serta kemungkinan hambatan dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu kebutuhan belajar, potensi dan sumber-sumber serta kemungkinan hambatan, perlu diidentifikasi terlebih dahulu supaya tujuan belajar bisa dirumuskan secara tepat dan proses kegiatan pembelajaran partisipatif dapat dirancang dan dilaksanakan dengan efektif.
3. Berpusat pada peserta didik (participant centered) yakni kegiatan pembelajaran yang dilakukan berdasarkan atas dan disesuaikan dengan latarbelakang kehidupan peserta didik. Latarbelakang kehidupan tersebut perlu menjadi perhatian utama dan dijadikan dasar dalam penyusunan rencana kegiatan pembelajaran partisipatif. Peserta didik diikutsertakan pula dalam kegiatan identifikasi kebutuhan belajar, sumber-sumber dan kemungkinan hambatan serta dalam kegiatan merumuskan tujuan belajar. Para peserta didik diikutsertakan dan memegang peranan penting dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan belajar. Dengan berpusat pada peserta didik, mengandung makna bahwa peserta didik lebih banyak berperan dalam proses kegiatan pembelajaran partisipatif.
4. berangkat dari pengalaman belajar (experiential learning) Kegiatan pembelajaran disusun dan dilaksanakan dengan berangkat dari hal-hal yang telah dikuasai peserta didik atau dari pengalaman di dalam melaksanaan tugas dan pekerjaan serta dengan cara-cara belajar (learning styles) yang bisa dilakukan peserta didik. Untuk itu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pemecahan masalah karena pemecahan masalah merupakan pembelajaran yang lebih banyak menumbuhkan partisipasi para peserta didik.
Sehubungan dengan hal itu, sistem pembelajaran partisipatif diupayakan dapat mewujudkan proses pembelajaran yang dibangun atas beberapa komponen sebagai berikut:
(1) warga belajar diperankan sebagai subyek, bukan obyek,
(2) pembelajaran atau instruktur
berfungsi sebagai fasilitator dan mitra belajar dengan warga belajar, bukan pengawas dan instruktor,
(3) materi pembelajaran disusun bersama antara pembelajar dengan warga belajar,
(4) metode pembelajaran berpusat pada cara belajar melalui pengalaman,
(5) evaluasi pembelajaran menitik beratkan pada penilaian proses belajar dan penilaian diri, bukan sekedar hasil belajar,
(6) media pembelajaran disesuaikan pada karakteristik materi, lingkungan dan kondisi warga belajar, dan
(7) jadwal pembelajaran disusun secara fleksibel.
Lebih lanjut Marzuki, S. (1992) memberikan identifikasi bahwa pembelajaran partisipatif memiliki beberapa ciri sebagai berikut:
(1) melibatkan warga belajar dalam menentukan, merevisi serta mengidentifikasi tujuan,
(2) tutor membantu warga belajar dalam kegiatan dan membantu mengatur kegiatan tersebut,
(3) melibatkan warga belajar dalam mengambil keputusan, mengembangkan ide-ide dan pemikiran, menyumbangkan saran dan menerima kritik dari warga belajar,
(4) mendorong kerja sama antara warga belajar dan menciptakan suasana belajar terbuka, saling mempercayai dan saling memperhatikan satu sama lain, dan
(5) melibatkan warga belajar dalam penilaian. Sebagai metodedan teknik, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan dalam memfasilitasi proses pembelajaran bersama masyarakat.
Menurut Chambers (dalam Djohani, 2003: 67-69) pembalikan proses pembelajaran, belajar secara tepat dan bertahap, mengatasi bias orang luar, mengoptimalkan manfaat pembelajaran, triangulasi dalam pembelajaran, mempertimbangkan kerumitan dan keberagaman, menyerahkan proses pada masyarakat, mengembang proses penyadaran kritis, menentukan agendanya sendiri, saling berbagi. Berdasarkan beberapa definisi, maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi warga belajar dalam mengikuti program kejar paket C dikarenakan proses kegiatan pembelajaran dipengaruhi oleh strategi pembelajaran dengan mempertimbangkan prinsip berdasarkan kebutuhan belajar, berorientasi pada tujuan kegiatan pembelajaran, berpusat pada peserta didik, berangkat dari pengalaman belajar.
Soekamto (1985) mengartikan kelompok sebagai himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup bersama oleh adanya hubungan di antara mereka. Rogers (1994: 100) mengingatkan bahwa group lebih dari sekedar kumpulan orang-orang. Maka dari itu kelompok terjadi karena adanya dua orang atau lebih yang lebih berinteraksi, memiliki kesatuan maksud (atau tujuan), dan memiliki sistem nilai, kepercayaan, pengetahuan, dan sentimen atau emosi yang sama. Sedangkan pendapat Jalal (2001:10) mengatakan program ini dirancang untuk memberi pelayanan pendidikan bagi warga masyarakat yang belum memiliki pendidikan setara SMU/SMK.
Kurikulum disusun berdasarkan kurikulum SMU jurusan. Bahan belajar disusun dalam bentuk modul, sehingga memungkinkan warga belajar dapat belajar sendiri. Mata pelajaran muatan lokal diarahkan pada penguasaan keterampilan, agar setelah selesai belajar Paket C memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mencari nafkah. Lama pendidikan sekurang-kurangnya 3 tahun jika mulai belajar setara kelas I. Apabila mereka telah selesai belajar sampai setara kelas 3, maka untuk uji kualitas diadakan ujian secara nasional. Selanjutnya, perlu diketahui bahwa kebijakan yang ditetapkan dalam pengembangan Program Paket C ini ialah:
(1) lulusan Paket C tidak dipersiapkan untuk memasuki Perguruan Tinggi;
(2) pemerintah tidak menyediakan anggaran khusus, dan hanya memberikan dukungan terhadap pelatihan tutor dan penyediaan modul sesuai dengan kemampuan anggaran yang tersedia.
Program kejar paket C adalah program pendidikan pada jalur nonformal yang dituju bagi warga masyarakat yang karena keterbatasan sosial, ekonomi, waktu, kesempatan, dan geografis tidak dapat mengikuti pendidikan di Sekolah Menengah Atas/yang sederajat. Lulusan program kejar paket C berhak mendapat ijazah SMA. (Dirjen PLS, 2004: 10). Maka dari itu menurut Napitupulu (1975: 22) memberikan tiga pengertian terhadap istilah KEJAR.
Yang pertama, arti halafiah, yaitu menutup kekurangan atau mengejar ketinggalan. Kedua, akronim dari kata-kata bekerja dan belajar. Ketiga, akronim dari kelompok belajar. Oleh karena itu Program Kejar adalah program pendidikan luar sekolah yang sifat dan bentuknya mengejar ketinggalan, bekerja sambil belajar atau sebaliknya, dan wadah sebagai kelompok belajar. Secara eksplisit, Johnson dan Johnson (dalam Supriyono, 1999: 77) memberi definisi, "A learning group is a group whose purpose is to ensure that group members learn specific subject matter, informations, knowledges, skill, and procedures". Program paket C berfungsi untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai yang setara dengan SMA, dan yang sesuai dengan kompetensi dan kebutuhan kepada peserta didik yang karena berbagai hal kebutuhannya tidak dapat dipenuhi oleh sekolah, sehingga mendapat akses terhadap pendidikan setara SMA bagi orang dewasa. (Dirjen PLS, 2004: 12).
Maka dari itu, istilah kejar dalam program kejar paket C secara harfiah dapat menunjukkan tujuan program yakni "ingin mengejar ketertinggalan dalam segala bidang kehidupan". Dalam pengertian ini tujuan belajar program kejar paket C adalah untuk mengejar ketertinggalan dan meningkatkan pengetahuan, dan keterampilan masyarakat dalam berbagai lapangan kehidupan sehingga diharapkan hasil pendidikan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup para warga masyarakat melalui usaha sendiri.
Metode
Penelitian ini dirancang dengan menggunakan studi kasus, karena pada tahun 2003 kejar paket C berjumlah 30 orang, tahun 2004 meningkat menjadi 32 orang, kemudian tahun 2005 lebih meningkat 37 orang, tahun 2006 menunjukkan peningkatan 50 orang warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai. Dibandingkan dengan program kejar paket C di PKBM Tilung Raya khusus program kejar paket C tahun 2003 berjumlah 7 orang, tahun 2004 berjumlah 7 orang, pada tahun 2005 mengalami penurunan menjadi 6 orang dan pada tahun 2006 meningkat menjadi 20 orang. Studi kasus memiliki beberapa keunggulan seperti yang dikemukakan oleh Black dan Champion (1992) yaitu:
(1) bersifat luwes berkaitan dengan pengumpulan data yang digunakan,
(2) menjangkau dimensi yang sesungguhnya dari topik yang diselidiki,
(3) dapat dilaksanakan secara praktis di dalam banyak lingkungan sosial,
(4) menawarkan kesempatan menguji teori dan,
(5) studi kasus bisa sangat murah, tergantung pada jangkauan penyelidikan dan teknik pengumpulan data yang digunakan.
Studi kasus merupakan permasalahan yang muncul tanpa disadari maupun disadari yang benar-benar menarik untuk dipertanyakan dan digali oleh seorang peneliti agar permasalahan itu bisa terungkap. Implementasinya, peneliti yang menggunakan studi kasus pada kelompok belajar di PKBM Kejar Mendawai dan Tilung Raya khusus program kejar paket C. Bentuk ini melukiskan proses penelitian yang berawal dari eksplorasi yang bersifat luas dan mendalam, kemudian berlanjut dengan kegiatan pengumpulan data dan analisis data yang lebih menyempit dan terarah pada suatu topik (Yin, 1996).
Kegiatan pada akhirnya diarahkan untuk mencari jawaban-jawaban secara menyeluruh tentang: Gambaran tentang penyelenggaraan program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya, keikutsertaan warga belajar program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai, keikutsertaan warga belajar program kejar paket C di PKBM Tilung Raya. Lokasi penelitian di PKBM Kejar Mendawai beralamat Jalan Mendawai Komplek Perumbansos nomor 123 Kelurahan Palangka Kecamatan Jekan Raya dan PKBM Tilung Raya. Jalan Tilung 18 Kelurahan Langkai Kecamatan Jekan Raya Kota Palangka Raya Propinsi Kalimantan Tengah.
Hasil
Dari kegiatan wawancara mendalam dengan informan (1) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai sangat tinggi karena lokasi sangat mendukung, pengelolaan sesuai petunjuk teknis standar pelayanan minimal penyelenggaraan PLS. Segi pembelajaran warga belajar dilatar belakangi ijazah dan putus sekolah dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal, proses belajar tanpa dipaksa, tujuan belajar tidak hanya sekedar lulus saja, tetapi ilmu yang mereka peroleh dapat digunakan, pola pembelajaran orang dewasa, hubungan harmonis antara tutor dengan warga belajar, evaluasi daya serap warga belajar baik.
Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan sudah sangat baik sehingga dapat menunjang proses pembelajaran yang baik pula yang akan diserap oleh warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai. (2) keikutsertaan warga belajar Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya sangat rendah karena pengelolaan tidak sesuai Visi dan Misi, tutor tidak sesuai profesinya, penyelenggaraan belum optimal, tidak pernah mengikuti pelatihan tutor, tidak ada pengawasan terhadap PKBM Tilung Raya, lokasinya jauh dari pemukiman penduduk, hubungan renggang tutor dan pihak pengelola serta warga belajar, tutor terpaku modul kejar paket C, hampir separuh warga belajar tidak bisa menjawab materi, peraturan yang mengikat warga belajar.
Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan belum optimal sehingga tidak dapat menunjang proses pembelajaran yang baik terhadap warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Tilung Raya.
Pembahasan
Jika diamati program kejar paket C setara SMA di PKBM Kejar Mendawai dan PKBM Tilung Raya ini, sangat membantu warga masyarakat, sebagaimana pendapat Sudjana (2000: 74) mengatakan bahwa, yang pertama: Sebagai pelengkap (complementary education), pendidikan luar sekolah dapat menyajikan berbagai mata pelajaran atau kegiatan belajar yang belum termuat dalam kurikulum pendidikan sekolah sedangkan materi pelajaran atau kegiatan belajar tersebut sangat dibutuhkan oleh anak didik dan masyarakat yang menjadi layanan sekolah tersebut. Kedua: sebagai penambah (suplementary education), pendidikan luar sekolah dapat memberikan kesempatan tambahan pengalaman belajar dalam mata pelajaran yang sama yang ditempuh di sekolah kepada mereka yang masih bersekolah atau mereka yang telah menamatkan jenjang pendidikan sekolah.
Tambahan pengalaman belajar ini dilakukan di tempat yang sama atau di tempat lain dengan waktu yang berbeda. Ketiga, sebagai pengganti (substitute education), pendidikan luar sekolah dapat menggantikan fungsi sekolah di daerah-daerah yang lain, karena berbagai alasan seperti penduduknya belum terjangkau oleh pendidikan sekolah. Program kejar paket C setara SMA termasuk dalam tipe program institusional yakni tumbuh dan berkembangnya kemampuan, keterampilan, pengetahuan, dan kompetensi individu, terutama mengembangkan disiplin atau bidang pengetahuan dari guru atau lembaga, fokusnya penguasaan konten atau pengetahuan yang disampaikan, terlibat dalam penerapan pengalaman belajar, menyebarkan pengetahuan melalui proses belajar mengajar Boyle. (dalam Sanapiah Faisal. 2002).
Alasannya hubungan yang renggang antara tutor dengan tutor dan pihak pengelola serta warga belajar. Hal ini disebabkan tutor tidak bisa menyesuaikan diri dengan warga belajar yang mayoritas orang dewasa yang memiliki berbagai karakteristik dan pandangan yang berbeda dengan mereka dan pola pikir yang berbeda pula. Rendahnya minat warga belajar untuk mengikuti program kejar paket C bahkan ditandai dengan kenyataan bahwa warga belajar tidak mengenal tutornya sendiri kalaupun kenal nama, tetapi tidak kenal orangnya. Knowles melihat andragogi sebagai cakupan proses pembelajaran dan belajar melebihi daripada hanya belajar atau membelajarkan. Dalam konteks ini Knowles (dalam Syamsu dan Basleman, 1994: 126) menawarkan tujuh prinsip belajar mengajar yang bersifat andragogik, seperti:
(1) menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar,
(2) mengadakan struktur untuk saling merencanakan,
(3) mendiagnosis kebutuhan belajar,
(4) merumuskan arah belajar,
(5) merancang pola pengalaman belajar,
(6) mengelola pelaksanaan pengalaman belajar,
(7) mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajar.
Teori andragogi menurut Knowles (1975) adalah suatu percobaan untuk mengembangkan satu teori yang khas tentang pembelajaran orang dewasa. Knowles menegaskan orang dewasa adalah terarah diri dan bertanggungjawab atas keputusannya. Program pembelajaran orang dewasa seharusnya menampung aspek asas ini. Knowles (1975) menuturkan andragogi membuat andaian-andaian berikut tentang desain pembelajaran:
(1) Orang dewasa perlu mengetahui sebab ia dikehendaki mempelajari sesuatu
(2) Orang dewasa perlu belajar secara eksperimen,
(3) Orang dewasa menganggap pembelajaran sebagai penyelesaian masalah, dan
(4) Pembelajaran orang dewasa paling berkesan jika topik pelajarannya mempunyai nilai segera. Apabila dalam pendekatan pembelajaran tidak menggunakan pendekatan andragogi, maka sulit untuk dapat menggerakkan para warga belajar untuk senantiasa berpartisipasi tinggi dalam proses pembelajaran.
Selanjutnya Srinivasan (1981) mengatakan orang dewasa bisa termotivasi dalam mengikuti suatu program pembelajaran apabila metode dan teknik pembelajaran yang dipergunakan melibatkan warga belajar. Pelibatan tersebut meliputi hal-hal yang berkaitan dengan identifikasi kebutuhan belajar, merumuskan tujuan belajar, menyusun pengalaman belajar dan menilai kegiatan belajar. Oleh sebab itu, teknik dan metode semacam ini disebutnya sebagai ¡§teknik perlibatan warga belajar¡¨ dalam program belajar.
Dari temuan ini dapat diketahui bahwa suatu program pembelajaran bagi orang dewasa tetapi perencanaannya yang kurang mempertimbangkan prinsip pembelajaran bagi orang dewasa akan mengurangi tingkat partisipasi dari khalayak sasarannya. Demikian pula tentang berbagai macam syarat-syarat pendaftaran program kejar paket C dalam proses belajar mengajar dan bagaimana implementasi yang baik di lapangan untuk mendapatkan perhatian, agar dapat menarik warga sasarannya untuk berpartisipasi sepenuhnya. Temuan ini pula sekaligus mendukung model pembelajaran dengan ¡§teknik pelibatan warga belajar¡¨ dari Srinivansan (1981).
Kesimpulan
1. Program Kejar Paket C di PKBM Kejar Mendawai dilihat dari segi:
a. Pengelola
f{ Lokasi yang nampak bahwa PKBM Kejar Mendawai sangat mendukung sekali walau ada juga warga belajar yang bertempat tinggal jauh, tetapi mereka sangat antusias sekali untuk masuk dan mengikuti program kejar paket C, dengan alasan jika mereka tidak masuk maka mereka sendiri merasa rugi karena tertinggal mata pelajaran dari teman yang lainnya.
f{ Segi pengelolaan program nampak bahwa persyaratan sudah sesuai dengan persyaratan petunjuk teknis yang digariskan dalam standar pelayanan minimal penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. Syarat seorang untuk menjadi tutor Program Kejar Paket C sekurang-kurangnya miliki ijasah S1 dan D-II sesuai dengan jurusan pendidikan.
f{ Sarana administrasi minimal yang telah dipersiapkan dalam setiap kelompok belajar sudah nampak sekali. Seperti contohnya daftar hadir warga belajar, daftar hadir tutor, buku tamu, buku rencana pembelajaran keaksaraan fungsional, buku penilaian hasil belajar kelompok belajar, jadwal belajar/pertemuan, buku harian/jurnal kegiatan belajar mengajar. Penyelenggaraan program yang optimal dapat menciptakan kondisi yang memenuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, spiritual, dan kejiwaan warga belajar, sehingga Ijazah dan lulusanya terbukti dapat bekerja di instansi pemerintah dan swasta.
b. Pembelajaran
f{ Warga belajar menunjukkan semangat yang luar biasa, latar belakang warga belajarnya rata-rata: 1) memiliki ijazah SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau Paket B setara SMP, 2) Putus sekolah (droup out) pada jenjang SMA atau Madrasah Aliyah (MA) yang dibuktikan dengan surat keterangan/raport dari sekolah asal, 3) berusia 15-44 tahun dengan prioritas usia (15-24 tahun).
f{ Tutor dan pengelola selalu memberikan saran-saran dan masukkan kepada warga belajar yang ingin serius mengikuti belajar di PKBM Kejar Mendawai tersebut. Selama mengikuti program belajar di PKBM Kejar Mendawai mereka melihat bahwa proses belajarnya bermutu, baik tanpa dipaksa oleh pihak tutor ataupun pihak lembaga manapun.
f{ Tujuan mereka belajar pada program kejar paket C disebabkan mereka ingin mewujudkan cita-cita tidak hanya sekedar lulus saja, tetapi dapat dipergunakan sebagaimana mestinya ilmu yang mereka peroleh dari PKBM Kejar Mendawai ini. Disamping itu PKBM ini menerapkan pola pembelajaran orang dewasa
f{ Terjalinnya hubungan yang harmonis antara tutor dengan warga belajar sehingga antusias warga belajar dan tutor sangat tinggi sekali dalam belajar untuk saling mengisi pengetahuan, warga belajar menjadi tertarik untuk belajar karena mereka menganggap ilmu dan pengetahuan yang mereka peroleh lebih banyak.
f{ Evaluasi proses dan hasil belajar menjadi bukti untuk mengetahui besarnya daya serap warga belajar terhadap materi yang disampaikan selama proses belajar mengajar.
Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan sudah sangat baik sehingga dapat menunjang menghasilkan pembelajaran yang baik pula yang akan diserap oleh warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Kejar Mendawai tersebut.
2. Program Kejar Paket C di PKBM Tilung Raya dilihat dari segi:
a. Pengelola
f{ Pengelolaan yang tidak sesuai dengan Visi dan Misi yang mereka pegang, serta tenaga pengajar yang tidak sesuai dengan pendidikan/profesi, dan penyelenggaraan masih belum optimal karena jadwal kegiatan rapat tidak pernah ditentukan, tidak pernah mengikuti pelatihan tutor dari Dinas Pendidikan, tidak ada pengawasan terhadap PKBM Tilung Raya dari Dinas pendidikan untuk mengevaluasi pengelolaan program tersebut.
f{ PKBM Tilung Raya lokasinya jauh dari pemukiman penduduk dan tidak ada transportasinya yang mendukung. Hal ini membuat keengganan warga belajar untuk mengikuti program kejar paket C di tempat tersebut. Bahkan ada warga belajar yang mengundurkan diri walau dia sudah mendaftar.
f{ Hubungan yang renggang antara tutor dengan tutor dan pihak pengelola serta warga belajar. Hal ini disebabkan tutor tidak bisa menyesuaikan diri dengan warga belajar yang mayoritas orang dewasa berbagai karakteristik dan pandangan yang berbeda dan pola pikir yang berbeda pula.
f{ Warga belajar program kejar paket C rata-rata menengah ke bawah hal ini dapat mempengaruhi rendahnya tingkat kehadiran mengikuti prgram kejar paket C karena disamping itu mereka bekerja memenuhi kebutuhan keluarga.
b. Pembelajaran
f{ Rendahnya minat warga belajar pada program kejar paket C mengakibatkan warga belajar tidak mengenal tutornya sendiri. Walau kenal nama tetapi tidak mengenal orangnya. Fakta lain jarak rumah tutor yang mengajar sangat jauh dengan lokasi PKBM Tilung Raya.
f{ Tutor terpaku pada modul kejar paket C saja dan tidak ada niat untuk menambah bahan dari SMA baik semester 1, 2, dan 3. Yang mengherankan adalah warga belajar hanya sebagian saja yang membawa buku modul paket C yang telah diberikan oleh tutor. Terbukti pada saat mereka mengerjakan soal latihan hampir separuh dari mereka yang tidak bisa menjawab dan ada yang menjawab tetapi salah, dari sini jelas bahwa kurangnya keikutsertaan warga belajar pada saat proses belajar berlangsung. Ada sebagian warga belajar yang jarang masuk untuk belajar sehingga mempengaruhi motivasi tutor untuk hadir.
f{ Dalam proses belajar tutor sering marah-marah dengan warga belajar. Apa yang diharapkan tutor tidak sesuai dengan keinginan. Peraturan yang mengikat warga belajar untuk harus ditaatinya, misal waktu masuk belajar tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, akan mengganggu proses belajar mengajar, harus berpakaian rapi tidak boleh memakai kaos oblong. Warga belajar sering merasa malu karena tutor selalu memperlakukan mereka dengan cara mengerjakan soal-soal latihan di depan ruangan kelas dan jadwal belajar sudah ditentukan oleh tutor beserta pengelola.
Jika dikaitankan pengelolaan dengan pembelajaran, hal ini menunjukan pengelolaan belum optimal sehingga tidak dapat menunjang proses pembelajaran yang baik terhadap warga belajar yang mengikuti program kejar paket C di PKBM Tilung Raya.
Saran
Saran yang berguna adalah
1) PKBM Kejar Mendawai sebaiknya membuka cabang yang lokasinya dekat dengan masyarakat, standar pelayanan minimal penyelenggaraan PLS harus dipertahankan, ditingkatkan pengelolaan lebih optimal terutama sarana adminitrasi, rekrutme tutor sesuai profesi, lebih ditingkatkan lagi saran dari tutor bagi warga belajar, tutor harus meningkatkan hubungan yang harmonis dengan pendekatan orang dewasa, sebaiknya tutor saat akhir memberikan materi latihan.
2) PKBM Tilung Raya alangkah baiknya berpedoman pada visi dan misi, sebaiknya satu bulan sekali mengadakan rapat, pengelola sebaiknya menginformasikan kepada tutor untuk mengikuti pelatihan, tempat atau lokasi yang mudah dijangkau, sebaiknya pengelola atau tutor menjalin hubungan yang harmonis, sebaiknya pengelola merektrut tutor sesuai profesi, diperhatikan juga jarak rumah tutor dengan lokasi PKBM, tutor jangan terpaku pada modul paket C, tutor jangan terpengaruh ketidakhadiran warga belajar, jangan mengikat warga belajar dengan peraturan.
3) Sebaiknya Dinas Pendidikan bagian Kasubdin PLS mengadakan evaluasi keberlangsungan PKBM dari segi pengelolaan dan pembelajaran, Dinas Pendidikan bagian Kasubdin PLS harus memberikan peringatan kepada pengelola jika tutornya tidak mengikuti pelatihan tutor.
http://re-searchengines.com/1007hendrowonto.html
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN PESERTA DIDIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MANAJEMEN PESERTA DIDIK. Tampilkan semua postingan
Senin, 18 Mei 2009
Problematika Anak Remaja
Judul: Problematika Anak Remaja
Bahan ini cocok untuk Sekolah Lanjutan TP bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): ILAL GUMILAR, Cfc.
Saya Konsultan di Konsultan Pendidikan Grahita-Indonesia
Topik: Problematika Anak Remaja
Tanggal: 29 Juni 2007
PROBLEMATIKA ANAK REMAJA
86 % Penghuni penjara didunia, telah memulai karier negatifnya sejak usia mereka 12 tahun ( Monterdue, 2004 ).
Prilaku negatif anak remaja akan tersembunyi secara rapi dibalik norma yang berlaku didalam keluarga mereka.
Mereka bisa saja tampak tenang dan stabil dirumah, namun sangat agresif diluar rumah atau sebaliknya ... mereka bisa tampak nakal dan agresif di rumah, namun sangat stabil dan tenang diluar rumah.
" Healthscoutnews 2006 " : 97 % wanita perokok di Amerika mulai merokok sejak usia mereka 12 - 15 tahun.
Robert Kiyushaki, seorang motivator bisnis terkenal didunia merasa mulai karier profesinya sejak ia berusia 11 tahun.
Donald Trump, telah mengawali dunia usahanya ketika ia berusia 12 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Bussiness News tahun 2002, telah menemukan bahwa; hampir sebagian besar pengusaha yang berhasil di benua eropa, asia dan amerika telah mengawalinya ketika mereka berusia 10 - 14 tahun.
Julius Robert Oppenheimer, penemu Bom Atom telah memulai penyelidikannya sejak ia berusia 11 tahun.
Vilfredo Pareto, penemu Diagram Pareto sudah gemar membuat pemetaan dan grafik sejak usia 10 tahun.
Pada tanggal, 22 april 1915 satu jam setelah ia merayakan ulang tahunnya, ia dimaki-maki ayah dan ibunya karena bermain-main dengan kereta bayi dan dinamit.
Masalahnya ......
"Hanya 8% anak remaja yang benar-benar bisa belajar di rumah mereka"
"13% anak remaja mengalami gangguan kinaestetik dan konsentarsi belajar akibat ketidak-seimbangan kerja hemisphere".
Beberapa tokoh terkenal :
· Kris Dayanti
· Susilo Bambang Yudoyono
· Kris Watimena
· Shanti Manohutu
· Tukul Arwana
· Subronto Laras
· Mashushita
Hampir sebagian besar perubahan kehidupan anak-anak remaja disebabkan oleh kekecewaan yang dialaminya.
Jadi bukan karena ia cerdas atau tidak cerdas
Kekecewaan sosial remaja :
· 11% akibat konflik dengan teman sebaya
· 4% akibat konflik dengan guru sekolah
· 84% akibat konflik dengan orang tua mereka
· 1% oleh lainnya
Itu berarti bahwa :
· 11% akibat konflik dengan teman sebaya
· 88% akibat konflik dengan orang dewasa disekitarnya
· 1% akibat hal lainnya
Ada Apa Dengan Orang Dewasa ?
Beberapa pelanggaran orang dewasa menurut anak remaja :
Pertama :
Orang dewasa selalu ingin menguasai anak remaja.
Kedua :
Orang dewasa selalu menganggap anak remaja sebagai anak yang masih kecil.
Ketiga :
Orang dewasa lebih senang mencela/mengkritik dari pada mensupport pada anak remaja.
Keempat : Orang dewasa sering menarik kembali hak yang telah diberikan kepada anak remaja.
Kelima :
Orang dewasa lebih cepat emosi, dan mau menang sendiri ketika berdiskusi dengan anak remaja.
Keenam :
Masih banyak lagi, dan tidak terhitung jumlahnya.
Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya ?
1. Harus adanya pendidikan bagi mereka yang menekankan pada Pendidikan Watak & Kepribadiannya.
2. Harus adanya usaha yang besar dari orang tua / orang dewasa untuk Menanamkan Moralitas & Keyakinan Beragama pada anaknya.
3. Harus didorong & dibina tumbuhnya Tanggung Jawab Sosial pada anak, sesuai dengan Fase Perkembangannya.
Kemudian harus bagaimana tahapan-tahapannya ?
Selidiki....
Amati....
& Pikirkanlah....
" INNER WILL " Mereka.
http://re-searchengines.com/0607ilal.html
Bahan ini cocok untuk Sekolah Lanjutan TP bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): ILAL GUMILAR, Cfc.
Saya Konsultan di Konsultan Pendidikan Grahita-Indonesia
Topik: Problematika Anak Remaja
Tanggal: 29 Juni 2007
PROBLEMATIKA ANAK REMAJA
86 % Penghuni penjara didunia, telah memulai karier negatifnya sejak usia mereka 12 tahun ( Monterdue, 2004 ).
Prilaku negatif anak remaja akan tersembunyi secara rapi dibalik norma yang berlaku didalam keluarga mereka.
Mereka bisa saja tampak tenang dan stabil dirumah, namun sangat agresif diluar rumah atau sebaliknya ... mereka bisa tampak nakal dan agresif di rumah, namun sangat stabil dan tenang diluar rumah.
" Healthscoutnews 2006 " : 97 % wanita perokok di Amerika mulai merokok sejak usia mereka 12 - 15 tahun.
Robert Kiyushaki, seorang motivator bisnis terkenal didunia merasa mulai karier profesinya sejak ia berusia 11 tahun.
Donald Trump, telah mengawali dunia usahanya ketika ia berusia 12 tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Bussiness News tahun 2002, telah menemukan bahwa; hampir sebagian besar pengusaha yang berhasil di benua eropa, asia dan amerika telah mengawalinya ketika mereka berusia 10 - 14 tahun.
Julius Robert Oppenheimer, penemu Bom Atom telah memulai penyelidikannya sejak ia berusia 11 tahun.
Vilfredo Pareto, penemu Diagram Pareto sudah gemar membuat pemetaan dan grafik sejak usia 10 tahun.
Pada tanggal, 22 april 1915 satu jam setelah ia merayakan ulang tahunnya, ia dimaki-maki ayah dan ibunya karena bermain-main dengan kereta bayi dan dinamit.
Masalahnya ......
"Hanya 8% anak remaja yang benar-benar bisa belajar di rumah mereka"
"13% anak remaja mengalami gangguan kinaestetik dan konsentarsi belajar akibat ketidak-seimbangan kerja hemisphere".
Beberapa tokoh terkenal :
· Kris Dayanti
· Susilo Bambang Yudoyono
· Kris Watimena
· Shanti Manohutu
· Tukul Arwana
· Subronto Laras
· Mashushita
Hampir sebagian besar perubahan kehidupan anak-anak remaja disebabkan oleh kekecewaan yang dialaminya.
Jadi bukan karena ia cerdas atau tidak cerdas
Kekecewaan sosial remaja :
· 11% akibat konflik dengan teman sebaya
· 4% akibat konflik dengan guru sekolah
· 84% akibat konflik dengan orang tua mereka
· 1% oleh lainnya
Itu berarti bahwa :
· 11% akibat konflik dengan teman sebaya
· 88% akibat konflik dengan orang dewasa disekitarnya
· 1% akibat hal lainnya
Ada Apa Dengan Orang Dewasa ?
Beberapa pelanggaran orang dewasa menurut anak remaja :
Pertama :
Orang dewasa selalu ingin menguasai anak remaja.
Kedua :
Orang dewasa selalu menganggap anak remaja sebagai anak yang masih kecil.
Ketiga :
Orang dewasa lebih senang mencela/mengkritik dari pada mensupport pada anak remaja.
Keempat : Orang dewasa sering menarik kembali hak yang telah diberikan kepada anak remaja.
Kelima :
Orang dewasa lebih cepat emosi, dan mau menang sendiri ketika berdiskusi dengan anak remaja.
Keenam :
Masih banyak lagi, dan tidak terhitung jumlahnya.
Apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya ?
1. Harus adanya pendidikan bagi mereka yang menekankan pada Pendidikan Watak & Kepribadiannya.
2. Harus adanya usaha yang besar dari orang tua / orang dewasa untuk Menanamkan Moralitas & Keyakinan Beragama pada anaknya.
3. Harus didorong & dibina tumbuhnya Tanggung Jawab Sosial pada anak, sesuai dengan Fase Perkembangannya.
Kemudian harus bagaimana tahapan-tahapannya ?
Selidiki....
Amati....
& Pikirkanlah....
" INNER WILL " Mereka.
http://re-searchengines.com/0607ilal.html
Strategi Mengelola Kelas Berkemampuan Campuran
Selasa, 14 Oktober 2008 07:50:19 - oleh : redaksi
FATAH NASIKH A, AMd SPd
Seperti umumnya negara berkembang, pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia menghadapi berbagai persoalan. Setidaknya ada lima masalah dalam pembelajaran di kelas; (1) tingkat kemampuan siswa berbeda, (2) kelas terlalu besar, (3) bahasa Inggris belum menjadi alat komunikasi, (4) siswa kurang kooperatif dan pasif, (5) siswa kesulitan dalam listening.
Pada komposisi kelas yang berisi siswa dengan berbagai tingkat kemampuan dapat didekati menggunakan tiga alternatif. Pertama, guru memberi tugas atau latihan sesuai kemampuan, meski yang diajarkan memiliki kompetensi atau tujuan instruksional sama. Tipsnya, kelompokkan siswa berdasarkan level kompetensinya, misalnya dikelompokkan dalam kategori novice, elementary, dan intermediate.
Prinsipnya, guru dimungkinkan melatih suatu lingkup kompetensi yang sama di suatu kelas yang terdiri dari siswa berkemampuan campuran, tanpa harus menggunakan materi yang benar-benar berbeda. Dalam pemahaman ini terdapat dua pilihan, yaitu: guru mengajarkan suatu “kompetensi yang sama” memakai “materi yang sama” dilanjutkan dengan “tugas dan latihan yang berbeda”.
Hanya saja, pada pendekatan pertama ini, guru harus memerhatikan bahwa reading ability melandasi writing ability dan listening ability melandasi speaking ability. Implikasinya, siswa dari kelompok novice dan elementary harus lebih banyak diberikan porsi reading dan listening, sedangkan kelompok intermediate dan advanced dapat diberi aktifitas yang melatihkan keterampilan bahasa speaking dan writing secara lebih intens.
Kedua, guru dapat mengesampingkan masalah heterogenitas kemampuan siswa ini. Maksudnya? Pendekatan kedua dapat ditempuh berdasarkan asumsi atau keyakinan kuat bahwa di dalam kelas campuran, siswa akan menemukan atau mencapai tingkat atau level kemampuan mereka sendiri-sendiri secara alami. Dalam speaking dan writing, misalnya, siswa-siswa yang berkemampuan lebih baik otomatis akan lebih percaya diri dibandingkan yang berkemampuan lebih rendah.
Apalagi jika itu hanya aktifitas reading dan listening. Mereka akan semakin lebih mampu memahami pelajaran secara lengkap dan cepat. Meski demikian, bahayanya strategi kedua ini adalah bahwa siswa berkemampuan baik akan cenderung merasa bosan dikarenakan oleh lambatnya siswa novice dalam belajar, atau justru frustasi sendiri karena mereka terkadang gagal meningkatkan kemampuan individualnya lantaran guru cenderung memperhatikan kelompok menengah saja.
Guru melakukan ini biasanya untuk menjaga kondisi alamiah kelas yang heterogen. ‘Guru berada di tengah’ untuk mengangkat siswa novice ke elementary, siswa elementary ke intermediate, sedangkan siswa intermediate tidak terbimbing naik ke level advanced dan seterusnya, mereka nyaris berusaha sediri.
Ketiga, guru menggunakan bantuan siswa yang pintar dalam proses pembelajaran, baik dalam pengerjaan tugas atau latihan dan, bahkan, untuk keperluan menjelaskan materi kepada siswa-siswa yang lemah. Siswa yang diketahui mampu dapat ditugaskan membimbing siswa lemah di dalam kelompok atau pasangan, atau sengaja dipersiapkan dan ditampilkan oleh guru sebagai contoh atau model dalam pembelajaran, terutama, speaking dan writing.
Dengan demikian, saat guru membagi kelas kedalam kelompok-kelompok, para guru harus memastikan bahwa murid-murid yang lemah telah bergabung atau berpasangan dengan siswa yang berkemampuan baik. Meski demikian, pendekatan ini harus ditempuh dengan kepekaan yang luar biasa sehingga para siswa tidak merasa terpinggirkan oleh siswa-siswa yang sudah sangat baik bahasa Inggrisnya, atau, bagi yang berkemampuan baik, merasa tertekan oleh kewajiban membimbing teman yang lemah seperti telah ditugaskan bapak atau ibu guru.
Para guru yang mengajarkan bahasa Inggris di kelas-kelas dengan siswa berkemampuan campuran, dapat mengambil salah satu atau kombinasi dari tiga pendekatan strategi penulis paparkan di atas sebagai suatu alternatif solusi atas tantangan yang hampir tak mungkin terhindarkan. Akhirnya, English is difficult. So don’t make it more. Teach and help your students with love. Amin.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/1656/strategi-mengelola-kelas-berkemampuan-campuran.html
FATAH NASIKH A, AMd SPd
Seperti umumnya negara berkembang, pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia menghadapi berbagai persoalan. Setidaknya ada lima masalah dalam pembelajaran di kelas; (1) tingkat kemampuan siswa berbeda, (2) kelas terlalu besar, (3) bahasa Inggris belum menjadi alat komunikasi, (4) siswa kurang kooperatif dan pasif, (5) siswa kesulitan dalam listening.
Pada komposisi kelas yang berisi siswa dengan berbagai tingkat kemampuan dapat didekati menggunakan tiga alternatif. Pertama, guru memberi tugas atau latihan sesuai kemampuan, meski yang diajarkan memiliki kompetensi atau tujuan instruksional sama. Tipsnya, kelompokkan siswa berdasarkan level kompetensinya, misalnya dikelompokkan dalam kategori novice, elementary, dan intermediate.
Prinsipnya, guru dimungkinkan melatih suatu lingkup kompetensi yang sama di suatu kelas yang terdiri dari siswa berkemampuan campuran, tanpa harus menggunakan materi yang benar-benar berbeda. Dalam pemahaman ini terdapat dua pilihan, yaitu: guru mengajarkan suatu “kompetensi yang sama” memakai “materi yang sama” dilanjutkan dengan “tugas dan latihan yang berbeda”.
Hanya saja, pada pendekatan pertama ini, guru harus memerhatikan bahwa reading ability melandasi writing ability dan listening ability melandasi speaking ability. Implikasinya, siswa dari kelompok novice dan elementary harus lebih banyak diberikan porsi reading dan listening, sedangkan kelompok intermediate dan advanced dapat diberi aktifitas yang melatihkan keterampilan bahasa speaking dan writing secara lebih intens.
Kedua, guru dapat mengesampingkan masalah heterogenitas kemampuan siswa ini. Maksudnya? Pendekatan kedua dapat ditempuh berdasarkan asumsi atau keyakinan kuat bahwa di dalam kelas campuran, siswa akan menemukan atau mencapai tingkat atau level kemampuan mereka sendiri-sendiri secara alami. Dalam speaking dan writing, misalnya, siswa-siswa yang berkemampuan lebih baik otomatis akan lebih percaya diri dibandingkan yang berkemampuan lebih rendah.
Apalagi jika itu hanya aktifitas reading dan listening. Mereka akan semakin lebih mampu memahami pelajaran secara lengkap dan cepat. Meski demikian, bahayanya strategi kedua ini adalah bahwa siswa berkemampuan baik akan cenderung merasa bosan dikarenakan oleh lambatnya siswa novice dalam belajar, atau justru frustasi sendiri karena mereka terkadang gagal meningkatkan kemampuan individualnya lantaran guru cenderung memperhatikan kelompok menengah saja.
Guru melakukan ini biasanya untuk menjaga kondisi alamiah kelas yang heterogen. ‘Guru berada di tengah’ untuk mengangkat siswa novice ke elementary, siswa elementary ke intermediate, sedangkan siswa intermediate tidak terbimbing naik ke level advanced dan seterusnya, mereka nyaris berusaha sediri.
Ketiga, guru menggunakan bantuan siswa yang pintar dalam proses pembelajaran, baik dalam pengerjaan tugas atau latihan dan, bahkan, untuk keperluan menjelaskan materi kepada siswa-siswa yang lemah. Siswa yang diketahui mampu dapat ditugaskan membimbing siswa lemah di dalam kelompok atau pasangan, atau sengaja dipersiapkan dan ditampilkan oleh guru sebagai contoh atau model dalam pembelajaran, terutama, speaking dan writing.
Dengan demikian, saat guru membagi kelas kedalam kelompok-kelompok, para guru harus memastikan bahwa murid-murid yang lemah telah bergabung atau berpasangan dengan siswa yang berkemampuan baik. Meski demikian, pendekatan ini harus ditempuh dengan kepekaan yang luar biasa sehingga para siswa tidak merasa terpinggirkan oleh siswa-siswa yang sudah sangat baik bahasa Inggrisnya, atau, bagi yang berkemampuan baik, merasa tertekan oleh kewajiban membimbing teman yang lemah seperti telah ditugaskan bapak atau ibu guru.
Para guru yang mengajarkan bahasa Inggris di kelas-kelas dengan siswa berkemampuan campuran, dapat mengambil salah satu atau kombinasi dari tiga pendekatan strategi penulis paparkan di atas sebagai suatu alternatif solusi atas tantangan yang hampir tak mungkin terhindarkan. Akhirnya, English is difficult. So don’t make it more. Teach and help your students with love. Amin.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/1656/strategi-mengelola-kelas-berkemampuan-campuran.html
Pembelajaran Akhlak Untuk Pendidik dan Anak Didik
Senin, 13 April 2009 18:40:00 - oleh : redaksi
KHOLIFATUL JAMIYYAH
Seringkali kita memberi nasihat kepada anak didik atas kelakuan atau perilaku mereka yang melanggar norma. Kita juga sering menglaim mereka tidak berakhlak ketika mereka melakukan perbuatan tercela. Bahkan kita juga memarahi mereka atas perlakuan atau perilaku mereka yang tidak terpuji. Semua itu kita lakukan karena kita menginginkan mereka menjadi anak yang baik dan berbudi luhur.
Perihal akhlak seorang murid kepada guru pun telah menjadi bahasan tersendiri dalam sebuah kitab Ta’lim Muta’alim. Kitab ini biasanya dibahas oleh murid-murid yang belajar di pesantren. Bahkan pembahasannya sangat terperinci. Kitab itu pun ditulis karena sang Pengarang ingin memberikan pesan kepada pembaca betapa terpujinya jika seorang murid memiliki akhlak yang baik.
Tapi kita tidak boleh lupa, bahwa sebagai manusia kita juga seringkali melakukan kesalahan yang mungkin dinilai itu perbuatan kurang baik atau tercela. Itu pun kita tanpa kita sadari atau tidak, kita lakukan di hadapan murid-murid. Seringkali kita lupa itu dan jarang mau menyadari atau introspeksi diri. Kita selalu menuntut mereka berperilaku baik pada kita dan kita tuntut mereka menjadi orang baik, tapi kita tidak melihat diri kita, apakah kita sudah berperilaku baik apa belum dihadapan mereka.
Mungkin kita masih ingat dengan beberapa kasus pencabulan terhadap anak didik di beberapa daerah tanah air. Mereka melakukan perbuatan tercela di hadapan murid-murid. Bahkan itu perbuatan tidak senonoh yang mana melanggar norma agama, adat dan Undang-Undang Negara.
Ada juga kekerasan terhadap anak-anak didik yang dilakukan beberapa guru dengan mengatasnamakan pembelajaran kedisiplinan. Mungkin hal ini harus kita renungi bersama dan kaji ulang. Apakah itu memang benar-benar sebuah pembelajaran kedisiplinan atau itu sebuah kekerasan? Dan apakah kedisiplinan itu harus dengan kekerasan?
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang beralaskan syarat “paksaan hukuman-ketertiban”’ itu dianggap memperkosa hidup kebatinan anak. Pendidikan seharusnya berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual.
Pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan. Pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan, pendidikan hendaknya harus memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri, setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.
Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa sebagai seorang guru atau pengajar, haruslah, belas kasih kepada anak didik dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Ketika mengajarkan suatu pelajaran kepada mereka haruslah dengan kasih sayang, ketika mereka melakukan kesalahan harus diingatkan dengan halus. Karena ketika kita mengingatkan dengan sebuah kekerasan itu akan mengakibatkan sebuah pertentangan atau protes dari anak didik dan akan mengurangi kewibawaan seorang guru.
Melihat pemikiran diatas, pembelajaran akhlak sebenarnya bukan hanya untuk anak didik saja, tetapi pembelajaran akhlak juga berlaku untuk pendidik. Jika ada pelajaran akhlak murid kepada guru, sebaliknya ada akhlak guru kepada murid. Karena adanya sekolah atau lembaga pendidikan adalah untuk mendidik seorang anak didik menjadi manusia yang terdidik. Jadi pendidikannya pun haruslah orang yang terdidik dengan baik.
Sebagai seorang pendidik, marilah kita sama-sama saling memahami tugas satu sama lain dengan mempraktikannya, untuk menghasilkan anak didik yang terdidik dengan baik yang kelak menjadi harapan agama dan bangsa kita tercinta ini. (*)
http://www.koranpendidikan.com/artikel/3197/pembelajaran-akhlak-untuk-pendidik-dan-anak-didik.html
KHOLIFATUL JAMIYYAH
Seringkali kita memberi nasihat kepada anak didik atas kelakuan atau perilaku mereka yang melanggar norma. Kita juga sering menglaim mereka tidak berakhlak ketika mereka melakukan perbuatan tercela. Bahkan kita juga memarahi mereka atas perlakuan atau perilaku mereka yang tidak terpuji. Semua itu kita lakukan karena kita menginginkan mereka menjadi anak yang baik dan berbudi luhur.
Perihal akhlak seorang murid kepada guru pun telah menjadi bahasan tersendiri dalam sebuah kitab Ta’lim Muta’alim. Kitab ini biasanya dibahas oleh murid-murid yang belajar di pesantren. Bahkan pembahasannya sangat terperinci. Kitab itu pun ditulis karena sang Pengarang ingin memberikan pesan kepada pembaca betapa terpujinya jika seorang murid memiliki akhlak yang baik.
Tapi kita tidak boleh lupa, bahwa sebagai manusia kita juga seringkali melakukan kesalahan yang mungkin dinilai itu perbuatan kurang baik atau tercela. Itu pun kita tanpa kita sadari atau tidak, kita lakukan di hadapan murid-murid. Seringkali kita lupa itu dan jarang mau menyadari atau introspeksi diri. Kita selalu menuntut mereka berperilaku baik pada kita dan kita tuntut mereka menjadi orang baik, tapi kita tidak melihat diri kita, apakah kita sudah berperilaku baik apa belum dihadapan mereka.
Mungkin kita masih ingat dengan beberapa kasus pencabulan terhadap anak didik di beberapa daerah tanah air. Mereka melakukan perbuatan tercela di hadapan murid-murid. Bahkan itu perbuatan tidak senonoh yang mana melanggar norma agama, adat dan Undang-Undang Negara.
Ada juga kekerasan terhadap anak-anak didik yang dilakukan beberapa guru dengan mengatasnamakan pembelajaran kedisiplinan. Mungkin hal ini harus kita renungi bersama dan kaji ulang. Apakah itu memang benar-benar sebuah pembelajaran kedisiplinan atau itu sebuah kekerasan? Dan apakah kedisiplinan itu harus dengan kekerasan?
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang beralaskan syarat “paksaan hukuman-ketertiban”’ itu dianggap memperkosa hidup kebatinan anak. Pendidikan seharusnya berdasarkan pada asih, asah dan asuh. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap individu hendaknya membantu peserta didik untuk menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual.
Pendidikan hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari orang kebanyakan. Pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan, pendidikan hendaknya harus memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan harga diri, setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.
Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa sebagai seorang guru atau pengajar, haruslah, belas kasih kepada anak didik dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Ketika mengajarkan suatu pelajaran kepada mereka haruslah dengan kasih sayang, ketika mereka melakukan kesalahan harus diingatkan dengan halus. Karena ketika kita mengingatkan dengan sebuah kekerasan itu akan mengakibatkan sebuah pertentangan atau protes dari anak didik dan akan mengurangi kewibawaan seorang guru.
Melihat pemikiran diatas, pembelajaran akhlak sebenarnya bukan hanya untuk anak didik saja, tetapi pembelajaran akhlak juga berlaku untuk pendidik. Jika ada pelajaran akhlak murid kepada guru, sebaliknya ada akhlak guru kepada murid. Karena adanya sekolah atau lembaga pendidikan adalah untuk mendidik seorang anak didik menjadi manusia yang terdidik. Jadi pendidikannya pun haruslah orang yang terdidik dengan baik.
Sebagai seorang pendidik, marilah kita sama-sama saling memahami tugas satu sama lain dengan mempraktikannya, untuk menghasilkan anak didik yang terdidik dengan baik yang kelak menjadi harapan agama dan bangsa kita tercinta ini. (*)
http://www.koranpendidikan.com/artikel/3197/pembelajaran-akhlak-untuk-pendidik-dan-anak-didik.html
Menyikapi Sifat Kinestetik Anak dalam PBM
Kamis, 25 September 2008 08:11:23 - oleh : redaksi
NANOK TRIYONO *)
Sifat kinestetik pada anak, muncul terutama menginjak usia antara 5 – 11 tahun. Pada masa ini, terkadang pendidik masih salah dalam melakukan persepsi terhadap anak. Kesalahannya banyak terletak pada perilaku generalisasi terhadap anak yang memiliki tingkat kinestetik tinggi. Dalam objek ini, generalisasi tidak boleh semerta-merta diterapkan pada seseorang.
Pengalaman pembelajaran tersebut juga dapat diterapkan pada anak yang memiliki perilaku kinestetik tinggi. Bukan berarti si anak memiliki sifat membandel atau sulit diatur bahkan beberapa pendidik juga menggeneralisasikan sebagai anak dengan tingkat pemikiran low atau dibawah standar. Seperti dalam hukum Gestalt, dimana keseluruhan lebih penting dari sebagian.
Hal ini dapat diartikan sebagai, pemahaman yang hanya sebagian dapat menjerumuskan sesuatu, karena penilaian dilakukan tidak menyeluruh. Untuk permasalahan kinestetik anak, seorang pendidik dapat mengacu pada karakter fungsi guru, dimana guru tidak hanya mengajar tetapi juga harus mendidik. Mendidik diartikan sebagai pengubah sikap yang kurang sesuai menjadi sosok yang teratur.
Pendidik yang hanya mengutamakan pengajaran bidang studi masih dirasa kurang sesuai apabila follow up tentang kepribadian anak kurang diperhatikan. Inilah yang terkadang membuat peserta didik hanya merasa sebagai individu yang harus menerima ilmu teori-teori saja, tanpa ada perhatian dan sikap bijak pendidik. Anak-anak yang cenderung bebas bergerak dalam kelas perlu diberikan beberapa kriteria pengalihan sikap, salah satunya yakni dengan melaksanakan langkah guru sebagai model dan metode reward/ hadiah khusus untuk peserta didik.
Dalam buku belajar mengajar karangan Prof Dr S Nasution MA dipaparkan mengenai beberapa langkah guru sebagai model. Siswa yang cenderung bebas bergerak dan acuh, menurut teori ini perlu sekali mendapat perhatian guru, dalam artian siswa tidak dibiarkan bebas dikarenakan psikologi anak secara umum akan terganggu apabila si anak didik diberikan kebebasan yang tak terbatas.
Anak akan merasa tidak diperhatikan dan terlebih lagi si anak dapat mengalami permasalahan mental sampai nanti melanjutkan ke tingkat pendidikan selanjutnya. Fungsi guru disini adalah sebagai pemimpin anak, dimana guru harus meluruskan segala tingkat behaviour anak. Guru harus tegas dalam mengatur anak didik sampai tercipta tingkah laku yang meningkat dalam artian pemanfaatan kinestetik anak dapat terwujud positif di kelas. Beberapa artikel belajar mengajar menyebutkan bahwa memperturutkan kemauan anak bukan termasuk mendidik, sehingga guru harus jeli akan tindakan yang dilakukan di kelas.
Langkah kedua yakni dengan menggunakan metode reward. Reward diartikan sebagai hadiah atau pemberian yang dapat memperkuat pengarahan kinestetik anak ke arah positif di kelas. Pada Metode penggunaan media reward juga diperlukan, media yang biasa digunakan yakni dengan pemberian barang, pemberian nilai, ajang kreasi pewarnaan pada draft reward yang dapat ditukar dengan sesuatu dan pemberian sapaan halus untuk anak.
Anak dapat diarahkan apabila ketentuan reward dibahas pada awal permulaan PBM (proses belajar mengajar). Metode ini dapat dikembangkan lagi secara kontinyu dengan cara melakukan penelitian action research/ tindakan kelas. Dari hasil ini nanti dapat dikembangkan media reward yang digunakan. Seperti diungkapkan Wollkfolk & Nicolich dalam bukunya Educational Psychology for Teacher bahwa guru dapat membuat program pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar diluar sekolah.
Pemanfaatan tersebut dimaksudkan agar mutu hasil belajar dapat meningkat dengan baik.
Dari beberapa langkah tersebut, pengarahan kinestetik peserta didik terutama di kelas dapat berjalan maksimal. Hasil pengarahan dapat meningkatkan peningkatan mutu output siswa. Psikologi pendidikan juga diharapkan membantu kinerja pendidik untuk memberikan pengajaran dan mendidik peserta didik dengan baik. Kualitas input proses dan output pun dikualitaskan dengan maksimal dengan proses yang sesuai dan output yang berhasil.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/1552/menyikapi-sifat-kinestetik-anak-dalam-pbm.html
NANOK TRIYONO *)
Sifat kinestetik pada anak, muncul terutama menginjak usia antara 5 – 11 tahun. Pada masa ini, terkadang pendidik masih salah dalam melakukan persepsi terhadap anak. Kesalahannya banyak terletak pada perilaku generalisasi terhadap anak yang memiliki tingkat kinestetik tinggi. Dalam objek ini, generalisasi tidak boleh semerta-merta diterapkan pada seseorang.
Pengalaman pembelajaran tersebut juga dapat diterapkan pada anak yang memiliki perilaku kinestetik tinggi. Bukan berarti si anak memiliki sifat membandel atau sulit diatur bahkan beberapa pendidik juga menggeneralisasikan sebagai anak dengan tingkat pemikiran low atau dibawah standar. Seperti dalam hukum Gestalt, dimana keseluruhan lebih penting dari sebagian.
Hal ini dapat diartikan sebagai, pemahaman yang hanya sebagian dapat menjerumuskan sesuatu, karena penilaian dilakukan tidak menyeluruh. Untuk permasalahan kinestetik anak, seorang pendidik dapat mengacu pada karakter fungsi guru, dimana guru tidak hanya mengajar tetapi juga harus mendidik. Mendidik diartikan sebagai pengubah sikap yang kurang sesuai menjadi sosok yang teratur.
Pendidik yang hanya mengutamakan pengajaran bidang studi masih dirasa kurang sesuai apabila follow up tentang kepribadian anak kurang diperhatikan. Inilah yang terkadang membuat peserta didik hanya merasa sebagai individu yang harus menerima ilmu teori-teori saja, tanpa ada perhatian dan sikap bijak pendidik. Anak-anak yang cenderung bebas bergerak dalam kelas perlu diberikan beberapa kriteria pengalihan sikap, salah satunya yakni dengan melaksanakan langkah guru sebagai model dan metode reward/ hadiah khusus untuk peserta didik.
Dalam buku belajar mengajar karangan Prof Dr S Nasution MA dipaparkan mengenai beberapa langkah guru sebagai model. Siswa yang cenderung bebas bergerak dan acuh, menurut teori ini perlu sekali mendapat perhatian guru, dalam artian siswa tidak dibiarkan bebas dikarenakan psikologi anak secara umum akan terganggu apabila si anak didik diberikan kebebasan yang tak terbatas.
Anak akan merasa tidak diperhatikan dan terlebih lagi si anak dapat mengalami permasalahan mental sampai nanti melanjutkan ke tingkat pendidikan selanjutnya. Fungsi guru disini adalah sebagai pemimpin anak, dimana guru harus meluruskan segala tingkat behaviour anak. Guru harus tegas dalam mengatur anak didik sampai tercipta tingkah laku yang meningkat dalam artian pemanfaatan kinestetik anak dapat terwujud positif di kelas. Beberapa artikel belajar mengajar menyebutkan bahwa memperturutkan kemauan anak bukan termasuk mendidik, sehingga guru harus jeli akan tindakan yang dilakukan di kelas.
Langkah kedua yakni dengan menggunakan metode reward. Reward diartikan sebagai hadiah atau pemberian yang dapat memperkuat pengarahan kinestetik anak ke arah positif di kelas. Pada Metode penggunaan media reward juga diperlukan, media yang biasa digunakan yakni dengan pemberian barang, pemberian nilai, ajang kreasi pewarnaan pada draft reward yang dapat ditukar dengan sesuatu dan pemberian sapaan halus untuk anak.
Anak dapat diarahkan apabila ketentuan reward dibahas pada awal permulaan PBM (proses belajar mengajar). Metode ini dapat dikembangkan lagi secara kontinyu dengan cara melakukan penelitian action research/ tindakan kelas. Dari hasil ini nanti dapat dikembangkan media reward yang digunakan. Seperti diungkapkan Wollkfolk & Nicolich dalam bukunya Educational Psychology for Teacher bahwa guru dapat membuat program pembelajaran dengan memanfaatkan media dan sumber belajar diluar sekolah.
Pemanfaatan tersebut dimaksudkan agar mutu hasil belajar dapat meningkat dengan baik.
Dari beberapa langkah tersebut, pengarahan kinestetik peserta didik terutama di kelas dapat berjalan maksimal. Hasil pengarahan dapat meningkatkan peningkatan mutu output siswa. Psikologi pendidikan juga diharapkan membantu kinerja pendidik untuk memberikan pengajaran dan mendidik peserta didik dengan baik. Kualitas input proses dan output pun dikualitaskan dengan maksimal dengan proses yang sesuai dan output yang berhasil.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/1552/menyikapi-sifat-kinestetik-anak-dalam-pbm.html
Mengatasi anak usia dini malas sekolah
MENGATASI ANAK MALAS SEKOLAH Anak usia dini biasanya pada awal masuk sekolah akan merasa jenuh, takut, atau bahkan malas hal ini sudah menjadi salah satu keluhan umum para orang tua. Kasus yang biasa terjadi adalah anak lebih suka bermain dari pada belajar. Kata malas kalau dijabarkan sebagai tidak mau berbuat sesuatu, segan, tak suka, tak bernafsu. Malas sekolah berarti tidak mau, enggan, tak suka, tak bernafsu untuk sekolah (Muhammad Ali, Kamus Bahasa Indonesia) Jika anak-anak tidak suka sekolah dan lebih suka bermain, itu berarti sekolah dianggap sebagai kegiatan yang tidak menarik buat mereka, dan mungkin tanpa mereka sadari juga dianggap sebagai kegiatan yang tidak ada gunanya/untungnya karena bagi ana-anak tidak secara langsung dapat menikmati hasil belajar atau sekolah. Berbeda dengan kegiatan bermain, jelas-jelas kegiatan bermain menarik buat anak-anak, dan keuntungannya dapat mereka rasakan secara langsung (perasaan senang yang dialami ketika bermain adalah suatu keuntungan). Penyebab Anak Malas Sekolah 1. Faktor intinsik (dalam diri anak sendiri) a. Takut b. Sedang sakit c. Sedang sedih (bertengkar dengan teman sekolah, kehilangan barang kesayangan dll) d. IQ/EQ anak 2. Faktor ekstrinsik a. Suasana sekolah yang tidak nyaman b. Letak sekolah yang terlalu jauh c. Bermasalah di sekolah (tidak suka/phobia sekolah, sehingga apapun yang berhubungan dengan sekolah jadi enggan untuk dikerjakan). Termasuk dalam hal ini adalah guru dan teman sekolah. Mengatasi Malas Sekolah Anak Mencari penyebab anak menjadi malas sekolah adalah langkah pertama. Saran berikutnya antara lain sbb: 1. Menanamkan pengertian yang benar tentang seluk beluk sekolah pada anak sejak dini. Terangkan dengan bahasa yang dimengerti anak. menumbuhkan inisiatif sekolah pada anak, menanamkan kesadaran serta tanggung jawab untuk sekolah pada anak merupakan hal lain yang bermanfaat jangka panjang. 2. Mengantar anak sekolah, mendampingi pada awal masuk sekolah. Mengantarkan anak pada hari pertama masuk sekolah sangatlah penting khususnya pada anak usia dini. Hal yang akan dihadapi biasanya pada anak yang penakut atau kurang percaya diri biasanya akan menangis atau mogok. Peran guru dan orang tua disini sangat besar perannya dalam meyakinkan anak untuk berani dan mandiri. Orang tua harus percaya kepada guru untuk mendidik dan memberi motivasi untuk mandiri. 2. Berikan insentif jika anak ingin sekolah. Insentif yang dapat diberikan ke anak tidak selalu harus berupa materi, tapi bisa juga berupa penghargaan dan perhatian. Pujilah anak saat ia mau sekolah tanpa mesti disuruh 3. Komunikasi Hendaklah ortu membuka diri , berkomunikasi dengan anaknya guna memperoleh secara langsung informasi yang tepat mengenai dirinya. Carilah situasi dan kondisi yang tepat untuk dapat berkomunikasi secara terbuka dengannya. Setelah itu ajaklah anak untuk mengungkapkan penyebab ia malas sekolah. Pergunakan setiap suasana yang santai seperti saat membantu ibu di dapur, berjalan-jalan atau sambil bermain, tidak harus formal yang membuat anak tidak bisa membuka permasalahan dirinya. 4. Menciptakan disiplin. Jadikan sekolah sebagai rutinitas yang pasti. 5. Menegakkan kedisiplinan. Menegakkan kedisiplinan harus dilakukan bilamana anak mulai meninggalkan rutinitas yang telah disepakati. Bilamana anak melakukan pelanggaran sedapat mungkin hindari sanksi yang bersifat fisik (menjewer, menyentil, mencubit, atau memukul). gunakanlah konsekuensi-konsekuensi logis yang dapat diterima oleh akal pikiran anak. 6. Menghibur dan memberikan solusi yang baik dan bijaksana pada anak dalam hal ini jika anak sakit/sedih. Beberapa hal yang tidak kalah pentingnya dalam menyikapi anak yang sedang dilanda malas sekolah adalah 1. Memilihkan sekolah yang berkualitas dan religi serta dapat dipercaya untuk mendidik dan membimbing putra putri kita. 2.Memantu perkembangan anak di sekolah artinya tidak 100% tugas itu diserahkan kepada guru. PENTINGNYA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemberian layanan pendidikan bagi anak sejak usia dini (0-6 tahun) masih sangat rendah. Hal itu disebabkan antara lain karena kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan anak usia dini itu sendiri. "Meskipun selama ini pemerintah dan masyarakat telah menyelenggarakan berbagai program layanan pendidikan bagi anak usia dini. Namun, kenyataannya hingga saat ini masih banyak anak usia dini yang belum memperoleh layanan pendidikan. Banyak anggapan sebelumnya yang mengatakan bahwa pendidikan yang tepat diberikan kepada anak asalah pada saat anak mulai masuk usia kematangan yang siap untuk bersekolah yaitu antara 5 - 7 tahun. Sedangkan yang sebenarnya adalah bahwa pendidikan bisa dimulai dari usia 0 - 6 tahun. Disamping saat ini belum ada sistem yang bersifat holistik untuk menjamin keterpaduan dalam penanganan anak usia dini. Masih banyaknya anak usia dini yang tidak tersentuh pendidikan apa pun juga disebabkan masih sangat terbatasnya jumlah tenaga pendidik dan kependidikan untuk mereka. Hal itu diperburuk oleh relatif rendahnya kualitas tenaga yang sudah ada. Faktor lain adalah letak geografis yang membuat mereka sulit untuk menjangkau lokasi belajar dan yang lebih parah lagi adalah tingkat ekonomi yang menjadi penyebab utama mengapa orang tua tidak sesegera mungkin mempersiapkan anaknya untuk belajar sejak dini.
http://www.koranpendidikan.com/artikel/3318/mengatasi-anak-usia-dini-malas-sekolah.html
http://www.koranpendidikan.com/artikel/3318/mengatasi-anak-usia-dini-malas-sekolah.html
Menerapkan Kedisiplinan pada Anak Usia Dini
Senin, 10 Maret 2008 07:45:51 - oleh : redaksi
OLEH: SITI NUR CHOLIFAH, SAg
Banyak kalangan sepakat bila disiplin merupakan kunci menuju kesuksesan. Namun menanamkan kedisiplinan tidak mudah, apalagi bagi anak usia dini, butuh proses panjang dan harus diawali dengan kebiasaan. Sebab hampir semua aktivitas sehari-hari -di rumah, di sekolah maupun lingkungan masyarakat- bisa dijadikan sarana efektif untuk menerapkan kedisilinan bagi anak usia dini.
Beberapa aktivitas itu seperti mengajarkan tata cara/adab makan dan minum. Anak mulai dibiasakan agar cuci tangan dan berdoa sebelum atau sesudahnya, serta tidak diperbolehkan makan dan minum sambil berdiri. Setiap upaya menerapkan kebiasaan ini pada anak harus diikuti dengan penjelasan yang mudah dimengerti. Misalnya, kalau tidak cuci tangan maka kuman bisa masuk ke perut dan akibatnya akan sakit.
Demikian pula dengan kebiasaan membereskan tempat tidur, melipat selimut, merapikan bantal dan lain-lain. Ketika anak belum bisa melipat selimut dengan rapi tetap hargailah kerja kerasnya karena sudah mau berusaha membereskan tempat tidurnya. Menurut ukuran orang dewasa hal tersebut belumlah rapi, namun menurut dia apa yang telah dilakukannya adalah hal yang luar biasa yang sudah sepatutnya untuk kita hargai.
Selain soal menanamkan kebiasaan, disiplin bagi anak juga membutuhkan keteladanan. Dalam membiasakan membuang sampah misalnya, orang tua/guru hendaknya memberikan contoh membuang bungkus makanan ke tempat sampah. Berikan penjelasan manfaat membuang sampah pada tempatnya, berikan penjelasan juga tentang akibat membuang sampah tidak pada tempatnya.
Kebiasaan-kebiasaan inilah yang harus kita ajarkan kepada anak sejak usia dini karena aktivitas ini merupakan aktivitas pribadi anak setiap hari. Dari sini akan berimplikasi pada kedisplinan yang lain. Ini adalah bentuk tanggung jawab anak yang paling sederhana. Dari hal kecil ini nantinya anak akan bisa menyesuaikan dengan aturan yang berlaku lainnya yang ketentuannya lebih kompleks dan cakupannya lebih luas.
Komitmen orangtua/guru terhadap aturan yang dibuat akan berpengaruh pada keberhasilan menerapkan kedisiplinan. Ini penting agar orangtua/guru tidak bisa sekadar berbicara (lip service) saja namun memberikan keteladanan dari apa yang dikatakannya. Penerapan konsistensi ini tidak hanya pada saat mengajarkan kedisiplinan pada anak, tetapi pada semua aktivitas apapun hal ini harus diutamakan.
Pada permainan bola sekalipun dimana untuk memperoleh kemenangan yang diharapkan maka merekapun harus menjaga konsistensi permainan, yaitu kekompakan semua tim, mulai dari manajer, pelatih dan pemain itu sendiri. Kenapa orang tua atau guru harus menjaga konseistensi ini? Karena pengaruh konsistensi ini sangat besar sekali terhadap keberlangsungan pola disiplin yang sudah dipolanya sejak awal.
Jangan sampai suatu saat orang tua atau guru memberikan larangan tetapi suatu saat membolehkan tanpa alasan yang jelas. Bagaimana jika anak melanggar aturan-aturan yang sudah diterapkan? Dalam menanggapi hal ini seorang guru atau orang tua harus bijak. Sebaiknya orang tua atau guru melihat dulu akar permasalahannya, kenapa dia sampai melakukan hal itu, kemudian melakukan dialog dengan si anak. Bukan memberikan punishment atau hukuman tanpa alasan yang jelas.
Orang tua harus fair dalam arti ketika aturan –aturan itu dibuat, maka harus ada kesepakatan-kesepakatan awal terlebih dahulu, konsekuensi apa yang harus diterima jika kesepakatan itu dilanggar.
Sebaliknya orang tua atu guru jangan lupa memberikan reward kepada anak jika anak tidak melanggar kesepakatan-kesepakatan yang telah disetujui bersama. Bagaimana jika apa yang kita terapkan di atas belum menemukan hasil sesuai yang kita harapkan?. Di sinilah kesabaran guru/orang tua sedang diuji. Segala sesuatu memang membutuhkan proses, yakin dan percaya bahwa tidak ada yang sia-sia jika kita terus berusaha mendidik, membimbing dan mengarahkan mereka dengan sepenuh hati dan jiwa insya Allah apa yang kita harapkan akan tampak di depan mata. Tentunya tak lupa untuk terus berdoa memohon bantuan padaNya. (*)
http://www.koranpendidikan.com/artikel/532/menerapkan-kedisiplinan-pada-anak-usia-dini.html
OLEH: SITI NUR CHOLIFAH, SAg
Banyak kalangan sepakat bila disiplin merupakan kunci menuju kesuksesan. Namun menanamkan kedisiplinan tidak mudah, apalagi bagi anak usia dini, butuh proses panjang dan harus diawali dengan kebiasaan. Sebab hampir semua aktivitas sehari-hari -di rumah, di sekolah maupun lingkungan masyarakat- bisa dijadikan sarana efektif untuk menerapkan kedisilinan bagi anak usia dini.
Beberapa aktivitas itu seperti mengajarkan tata cara/adab makan dan minum. Anak mulai dibiasakan agar cuci tangan dan berdoa sebelum atau sesudahnya, serta tidak diperbolehkan makan dan minum sambil berdiri. Setiap upaya menerapkan kebiasaan ini pada anak harus diikuti dengan penjelasan yang mudah dimengerti. Misalnya, kalau tidak cuci tangan maka kuman bisa masuk ke perut dan akibatnya akan sakit.
Demikian pula dengan kebiasaan membereskan tempat tidur, melipat selimut, merapikan bantal dan lain-lain. Ketika anak belum bisa melipat selimut dengan rapi tetap hargailah kerja kerasnya karena sudah mau berusaha membereskan tempat tidurnya. Menurut ukuran orang dewasa hal tersebut belumlah rapi, namun menurut dia apa yang telah dilakukannya adalah hal yang luar biasa yang sudah sepatutnya untuk kita hargai.
Selain soal menanamkan kebiasaan, disiplin bagi anak juga membutuhkan keteladanan. Dalam membiasakan membuang sampah misalnya, orang tua/guru hendaknya memberikan contoh membuang bungkus makanan ke tempat sampah. Berikan penjelasan manfaat membuang sampah pada tempatnya, berikan penjelasan juga tentang akibat membuang sampah tidak pada tempatnya.
Kebiasaan-kebiasaan inilah yang harus kita ajarkan kepada anak sejak usia dini karena aktivitas ini merupakan aktivitas pribadi anak setiap hari. Dari sini akan berimplikasi pada kedisplinan yang lain. Ini adalah bentuk tanggung jawab anak yang paling sederhana. Dari hal kecil ini nantinya anak akan bisa menyesuaikan dengan aturan yang berlaku lainnya yang ketentuannya lebih kompleks dan cakupannya lebih luas.
Komitmen orangtua/guru terhadap aturan yang dibuat akan berpengaruh pada keberhasilan menerapkan kedisiplinan. Ini penting agar orangtua/guru tidak bisa sekadar berbicara (lip service) saja namun memberikan keteladanan dari apa yang dikatakannya. Penerapan konsistensi ini tidak hanya pada saat mengajarkan kedisiplinan pada anak, tetapi pada semua aktivitas apapun hal ini harus diutamakan.
Pada permainan bola sekalipun dimana untuk memperoleh kemenangan yang diharapkan maka merekapun harus menjaga konsistensi permainan, yaitu kekompakan semua tim, mulai dari manajer, pelatih dan pemain itu sendiri. Kenapa orang tua atau guru harus menjaga konseistensi ini? Karena pengaruh konsistensi ini sangat besar sekali terhadap keberlangsungan pola disiplin yang sudah dipolanya sejak awal.
Jangan sampai suatu saat orang tua atau guru memberikan larangan tetapi suatu saat membolehkan tanpa alasan yang jelas. Bagaimana jika anak melanggar aturan-aturan yang sudah diterapkan? Dalam menanggapi hal ini seorang guru atau orang tua harus bijak. Sebaiknya orang tua atau guru melihat dulu akar permasalahannya, kenapa dia sampai melakukan hal itu, kemudian melakukan dialog dengan si anak. Bukan memberikan punishment atau hukuman tanpa alasan yang jelas.
Orang tua harus fair dalam arti ketika aturan –aturan itu dibuat, maka harus ada kesepakatan-kesepakatan awal terlebih dahulu, konsekuensi apa yang harus diterima jika kesepakatan itu dilanggar.
Sebaliknya orang tua atu guru jangan lupa memberikan reward kepada anak jika anak tidak melanggar kesepakatan-kesepakatan yang telah disetujui bersama. Bagaimana jika apa yang kita terapkan di atas belum menemukan hasil sesuai yang kita harapkan?. Di sinilah kesabaran guru/orang tua sedang diuji. Segala sesuatu memang membutuhkan proses, yakin dan percaya bahwa tidak ada yang sia-sia jika kita terus berusaha mendidik, membimbing dan mengarahkan mereka dengan sepenuh hati dan jiwa insya Allah apa yang kita harapkan akan tampak di depan mata. Tentunya tak lupa untuk terus berdoa memohon bantuan padaNya. (*)
http://www.koranpendidikan.com/artikel/532/menerapkan-kedisiplinan-pada-anak-usia-dini.html
MEMAHAMI KEBERAGAMAN KEMAMPUAN PESERTA DIDIK
Selasa, 30 November 1999 00:00:00 - oleh : endang prapti swarsi handayani
Ternyata kemampuan anak itu berbeda Hal ini sejalan dengan teori bahwa pada dasarnya ada 7(tujuh) kecerdasan yang dimiliki manusia, diantaranya meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal , kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal (Gardner, 1983). Berbicara kemampuan yang dimiliki seseorang tak dapat dilepaskan dari kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Di mana seseorang disebut sukses, apabila hidup dengan harta berlimpah , memiliki fasilitas lengkap untuk melakukan aktivitas apa saja yang disukai. Namun ukuran sukses bagi seorang siswa adalah bila nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasionalnya berada diatas kriteria . Memang ukuran idealnya sukses bukan hanya diukur dengan nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional saja, akan tetapi juga karena kemampuan mengelola emosi dan mental spiritualnya.Tak dapat disangkal kecerdasan intelektual dapat menentukan kelulusan seorang siswa, tetapi bila tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan, tetap saja berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di masa depan. Belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah persiapan mental spiritualnya. Belajar dan berdoa. Sebagai pendidik yang kebetulan bukan termasuk penyaji materi pelajaran yang di ujikan secara nasional, penting kiranya mengetahui bakat siswa yang memiliki kelemahan dalam salah satu pelajaran yang diujikan secara nasional, akan tetapi istimewa untuk salah satu pelajaran non nas. Letak pentingnya adalah, perhatian guru terhadap siswa sangat mempengaruhi motivasi pribadi siswa. Terutama bila siswa merasa respek dengan guru tadi. Mengingat dalam keseharian siswa perlu tokoh yang dijadikan pola anutan untuk mempersiapkan masa depannya. Siswa perlu mengetahui, bahwa dirinya sangatlah berarti di mata Sang Pencipta. Menyadarkan siswa akan potensi dirinya, diperlukan kearifan pendidik. Pendidik ataupun orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, perlu melakukan upaya yang dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Bakat yang dimiliki anak perlu kita cermati dengan jeli dan penuh perhatian. Siswa sebagai pribadi yang unik, dengan bakat dan minat tentu berbeda satu dengan yang lain. Maksudnya kita layak memperhatikan keunikan tadi, serta tidak menganggapnya sebagai kertas putih yang siap ditulisi apasaja, apalagi menganggapnya sebagai bejana kosong yang siap untuk diisi. Di era serba cepat ini, teori tadi perlu dipikirkan lagi. Upaya positif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa adalah hal yang mutlak.Meskipun terkadang potensi siswa yang kita kembangkan tidak selalu berupa mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Tentunya, hal ini sudah disadari oleh para pakar pendidikan. Kalaupun materi ujian nasional tetap dilaksanakan, tentu tidak lebih hanya sebagai tolok ukur secara nasional. Namun parahnya ujian nasional itu juga menentukan gengsi sekolah. Sehingga jangan heran bila segenap daya dan dana diupayakan untuk mengeksploitasi siswa agar mendapatkan nilai ujian nasional semaksimal mungkin. Masih lumayan, bila saja sekolah juga memperhatikan kegiatan non akademik yang berupa kegiatan pengembangan potensi siswa, bagaimana bila tidak? Sebagai contoh pengalaman empiris sepuluh tahun yang lalu ada seorang siswa yang membuat penulis tertegun karena hafal dengan ciri tembang macapat untuk mata pelajaran Bahasa Jawa. Tertegun, karena ada sebelas jenis tembang macapat (asmaradana, dandhang gula, durma, gambuh, kinanthi, maskumambang, magatruh, mijil, pangkur, pucung, sinom) dengan paugeran guru lagu, guru wilangan bahkan guru gatra yang berbeda. Pernah juga penulis tertawa karena ada seorang siswa berasal dari suku Sunda yang merayu penulis untuk memberikan les Bahasa Jawa. Bagaimana tidak tertawa melihat kenyataan ini, karena penulis tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengajar Bahasa Jawa. Tugas ini penulis terima, hanya karena banyak teman guru yang tidak mau mengajar bahasa Jawa, karena kesulitan menggunakan pengantar bahasa Jawa. Kalaupun pilihan tugas jatuh kepada penulis adalah karena lulusan Sekolah Pendidikan Guru, yang mendapat pelajaran bahasa Jawa lebih banyak daripada lulusan SMA. Disamping itu juga untuk memenuhi tuntutan jam mengajar . Di lain kesempatan seusai mengajar pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, seorang siswa meminta penulis menjelaskan tentang peristiwa lahirnya Supersemar. Pada masa itu membicarakan peristiwa lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret haruslah seperti dalam buku teks. Ada alasan politis yang tidak mungkin dijelaskan. Beberapa contoh di atas membuat penulis heran,mengingat mata pelajaran yang penulis berikan bukanlah pelajaran yang diujikan secara nasional. Beberapa contoh di atas sengaja penulis tampilkan karena saat ini mereka sudah terjun di masyarakat dengan pekerjaan yang diperhitungkan. Untuk situasi yang dilanda krisis seperti sekarang ini, mereka tampak tidak tergoyahkan dalam bekerja, bahkan mereka nampak sangat percaya diri. Sekali lagi ,baru berdasarkan pengalaman empiris saja, siswa yang memiliki nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional baik, biasanya nilai pelajaran non nas juga baik. Bisa juga siswa yang memiliki satu keunggulan dalam salah satu mata pelajaran non nas , akan menjadi anak yang percaya diri. Hal ini akan memotivasi siswa yang bersangkutan untuk lebih giat belajar mata pelajaran nas. Sehingga pengurangan jam mata pelajaran non nas apalagi sampai menghapusnya dari kegiatan tatap muka menjelang ujian nasional merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Nasib baik , yang oleh orang dikatakan sebagai kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional.Meski tidak dapat dipungkiri , kecerdasan logis matematis sangat berhubungan dengan daya nalar seseorang. Gardner(1983) berpendapat“Siswa yang memiliki dan mengembangkan kecerdasan linguistik dan logis matematis dijamin pasti akan berhasil dalam situasi sekolah tradisional” Masalahnya bagaimana kalau sekarang mendapati siswa yang dikategorikan ke dalam bimbingan kelas khusus karena mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran matematika, bahasa inggris atau IPA , malah tidak ikut bimbingan? Tidakkah mereka menyadari masa depan yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka, bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan gratis. Melainkan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya. Bertanya, menjelaskan dan kreatif dalam mengerjakan tugas pelajaran non nas, bukankah ini kecerdasanyang terpancar? Sadarkah bapak dan ibu guru akan hal ini? Karena bila siswa mendapatkan penghargaan sesuai potensi dirinya yang kebetulan bukan pelajaran nas, maka siswa tersebut akan menjadi percaya diri. Serta mantab dalam mempersiapkan masa depannya menghadapi tantangan global, dengan cara belajar sungguh sungguh. Adakah ini penting? Penulis : Dra.Endang Prapti S.A. (Guru SMP Negeri 1 Turen) DAFTAR PERPUSTAKAAN Jasmine Julia M.A. (2007). Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk: implementasi multiple intelligences, Bandung : Nuansa. Murdoko, E. Widijo Hari S.Psi.(2008). Memaksimalkan Potensi Anak ( Katahui dan Arahkan Bakat Anak Anda) , Yogyakarta : Pelangi Nyedhaki akhir taun pelajaran , kabeh lembaga pendhidhikan wis padha cecawis kanggo ngadhepi Ujian Nasional . Kumandhange wis keprungu wiwit awal taun ajaran baru. Para guru , wali murid magita-gita ngupakara kepriye carane supaya para putra bisa kasil ing sajroning Ujian mengko. Akeh cara kang ditrapake minangka sarana ngupakara bocah sing dicawisake ngadhepi ujian. Perlune kejaba ngrengkuh gegayuhane bocah, kasil ing ujian dadi gegadhangane wong tuwa, uga guru rumangsa bombing atine yen para siswa kang digula wenthah bisa kasil oleh biji sing dhuwur. Apadene bisa ningkatake gengsi sekolah. Yen ngrembug bab pelajaran kang kalebu ujian nasional, mesthine para sutresna guru wis padha pirsa. Umyege para guru pelajaran matematika, basa Inggris, basa jawa lan ora kari pelajaran IPA padha dirasakake. Yen nganti biji try out kanggo pelajaran mau ana ing ngisore kriteria kelulusan, pendheke mesthi ana kawigaten tartamtu. Wong tuwane diaturi pirsa. Ora melu bimbingan belajar, bocahe didangu, saperlu kanggo oleh biji maksimal, paling sethithik ndhuwure kriteria lulusan. Kejaba ora tega yan nganti bocahe ora lulus, ana alasan liyane maneh yaiku bab mutu sekolah. Mesthine kahanan ing dhuwur ya sah sah bae. Nanging ngelingi tugas ku minangka guru basa jawa, ora kalebu ujian nasional; merga mung pelajaran muatan local.Kahanan kaya mangkono bisa dadi rasa nelangsa ing jero batin.Mung kanggo ngayem-ayem piker, wong senajan muatan local, bayarane ya padha bae, Dadi tak kira bab tanggung jawab nggula wenthah murid ya ora beda.Apa maneh yen manut panemune Gardner(1983) kecerdasan iku ana pitu kejaba kecerdasan linguistic, kcerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musical, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, lan kecerdasan intrapersonal. Pasinaon basa jawa iku wahana pembentukan budi pekerti luhur, guru minangka wakile wong tuwa ing sekolah nduweni tugas mulya kang go nggulawenthah putra kanthi lila legawa. Nate ditulis ing kalawarti iki yen tugas nggulawenthah putra diarani tugas mulya, merga ing tembene bakal nemtokake karaktere putra. Lan masa depane masyarakat lan bangsa. Mulane para murid diangkah ora mung duwe kepinteran ngatasi maneka warna masalah, nanging uga duwe prestasi kang becik ing bidhang ilmu. Siswa perlu duwe lan ngembangake kecerdasan Linguistik( magepokan karo basa), nanging uga kecerdasan logis matematis( magepokan karo nalar logika lan matematika), kanggo ngadhepi tantangan ing era digital iki. Sing tak aturake iki, merga ana sawetara sekolah sing nganggep basa jawa ngono ora perlu melu bingung, menehi pelajaran sadurunge ujian nasional.. Mangka senajan ora kalebu ujian nasional, standar kompetensine uga dirancang kanthi permati.Contone ana tulisan jawa kang isine bab candra, paribasan tembung entar lan uga tembung saroja. Malah sing dadi gegojegan rame ing sekolahanku merga kanggo nyetel kesenian tradisional jawa timur,aku bingung nata jam pelajaran , supaya bisa runtut anggonku nggunakake ruang media. Pungkasane kudu nembung kanca guru liyane,supaya jam mulange bisa ijol karo aku. Oalah wong atase muatan local kok ya nyonyol-nyonyol golek jam.Para guru begedegan rame, wong yen bisa jam pelajaran mata pelajaran nasaional ditingkatake, iki malah mbingungi golek jam. Yen digawe cilik ati pancen ya nelangsa, nanging yen ngelingi tanggung jawab dadi guru professional, ya kudu dak lakoni. Itung itung ana murid sing bakal dadi panata cara, ora kelangan wawasan bab budaya jawa. Menawa dudu wong jawa, banjur sapa sing arep maelu bab kabudayan jawa? Mestine rak dudu wong negara manca sing kudu ngleluri budaya jawa. Apa maneh nganti wong jawa sinau basa jawa ing negara manca,. Masalahnya bahasa jawa dipandang sebelah mata, disamping tidak menentikan kelulusan, juga mempelajari bahasa jawa tidak menaikkan gengsi pribadi Tidakkah mereka menyadari masa depan yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka, bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan gratis. Melainkan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya. Bertanya, menjelaskan dan kreatif dalam mengerjakan tugas pelajaran non nas, bukankah ini kecerdasanyang terpancar? Sadarkah bapak dan ibu guru akan hal ini? Karena bila siswa mendapatkan penghargaan sesuai potensi dirinya yang kebetulan bukan pelajaran nas, maka siswa tersebut akan menjadi percaya diri. Serta mantab dalam mempersiapkan masa depannya menghadapi tantangan global, dengan cara belajar sungguh sungguh. Adakah ini penting? Penulis : Dra.Endang Prapti S.A. (Guru SMP Negeri 1 Turen) DAFTAR PERPUSTAKAAN Jasmine Julia M.A. (2007). Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk: implementasi multiple intelligences, Bandung : Nuansa. Murdoko, E. Widijo Hari S.Psi.(2008). Memaksimalkan Potensi Anak ( Katahui dan Arahkan Bakat Anak Anda) , Yogyakarta : Pelangi
http://www.koranpendidikan.com/artikel/2773/memahami-keberagaman-kemampuan-peserta-didik.html
Ternyata kemampuan anak itu berbeda Hal ini sejalan dengan teori bahwa pada dasarnya ada 7(tujuh) kecerdasan yang dimiliki manusia, diantaranya meliputi kecerdasan linguistik, kecerdasan logis matematik, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal , kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal (Gardner, 1983). Berbicara kemampuan yang dimiliki seseorang tak dapat dilepaskan dari kenyataan yang terjadi di dalam masyarakat. Di mana seseorang disebut sukses, apabila hidup dengan harta berlimpah , memiliki fasilitas lengkap untuk melakukan aktivitas apa saja yang disukai. Namun ukuran sukses bagi seorang siswa adalah bila nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasionalnya berada diatas kriteria . Memang ukuran idealnya sukses bukan hanya diukur dengan nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional saja, akan tetapi juga karena kemampuan mengelola emosi dan mental spiritualnya.Tak dapat disangkal kecerdasan intelektual dapat menentukan kelulusan seorang siswa, tetapi bila tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi kegagalan, tetap saja berbahaya bagi kelangsungan hidupnya di masa depan. Belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah persiapan mental spiritualnya. Belajar dan berdoa. Sebagai pendidik yang kebetulan bukan termasuk penyaji materi pelajaran yang di ujikan secara nasional, penting kiranya mengetahui bakat siswa yang memiliki kelemahan dalam salah satu pelajaran yang diujikan secara nasional, akan tetapi istimewa untuk salah satu pelajaran non nas. Letak pentingnya adalah, perhatian guru terhadap siswa sangat mempengaruhi motivasi pribadi siswa. Terutama bila siswa merasa respek dengan guru tadi. Mengingat dalam keseharian siswa perlu tokoh yang dijadikan pola anutan untuk mempersiapkan masa depannya. Siswa perlu mengetahui, bahwa dirinya sangatlah berarti di mata Sang Pencipta. Menyadarkan siswa akan potensi dirinya, diperlukan kearifan pendidik. Pendidik ataupun orangtua sebagai pendidik pertama dan utama, perlu melakukan upaya yang dapat mengembangkan potensi siswa secara maksimal. Bakat yang dimiliki anak perlu kita cermati dengan jeli dan penuh perhatian. Siswa sebagai pribadi yang unik, dengan bakat dan minat tentu berbeda satu dengan yang lain. Maksudnya kita layak memperhatikan keunikan tadi, serta tidak menganggapnya sebagai kertas putih yang siap ditulisi apasaja, apalagi menganggapnya sebagai bejana kosong yang siap untuk diisi. Di era serba cepat ini, teori tadi perlu dipikirkan lagi. Upaya positif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa adalah hal yang mutlak.Meskipun terkadang potensi siswa yang kita kembangkan tidak selalu berupa mata pelajaran yang diujikan secara nasional. Tentunya, hal ini sudah disadari oleh para pakar pendidikan. Kalaupun materi ujian nasional tetap dilaksanakan, tentu tidak lebih hanya sebagai tolok ukur secara nasional. Namun parahnya ujian nasional itu juga menentukan gengsi sekolah. Sehingga jangan heran bila segenap daya dan dana diupayakan untuk mengeksploitasi siswa agar mendapatkan nilai ujian nasional semaksimal mungkin. Masih lumayan, bila saja sekolah juga memperhatikan kegiatan non akademik yang berupa kegiatan pengembangan potensi siswa, bagaimana bila tidak? Sebagai contoh pengalaman empiris sepuluh tahun yang lalu ada seorang siswa yang membuat penulis tertegun karena hafal dengan ciri tembang macapat untuk mata pelajaran Bahasa Jawa. Tertegun, karena ada sebelas jenis tembang macapat (asmaradana, dandhang gula, durma, gambuh, kinanthi, maskumambang, magatruh, mijil, pangkur, pucung, sinom) dengan paugeran guru lagu, guru wilangan bahkan guru gatra yang berbeda. Pernah juga penulis tertawa karena ada seorang siswa berasal dari suku Sunda yang merayu penulis untuk memberikan les Bahasa Jawa. Bagaimana tidak tertawa melihat kenyataan ini, karena penulis tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk mengajar Bahasa Jawa. Tugas ini penulis terima, hanya karena banyak teman guru yang tidak mau mengajar bahasa Jawa, karena kesulitan menggunakan pengantar bahasa Jawa. Kalaupun pilihan tugas jatuh kepada penulis adalah karena lulusan Sekolah Pendidikan Guru, yang mendapat pelajaran bahasa Jawa lebih banyak daripada lulusan SMA. Disamping itu juga untuk memenuhi tuntutan jam mengajar . Di lain kesempatan seusai mengajar pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, seorang siswa meminta penulis menjelaskan tentang peristiwa lahirnya Supersemar. Pada masa itu membicarakan peristiwa lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret haruslah seperti dalam buku teks. Ada alasan politis yang tidak mungkin dijelaskan. Beberapa contoh di atas membuat penulis heran,mengingat mata pelajaran yang penulis berikan bukanlah pelajaran yang diujikan secara nasional. Beberapa contoh di atas sengaja penulis tampilkan karena saat ini mereka sudah terjun di masyarakat dengan pekerjaan yang diperhitungkan. Untuk situasi yang dilanda krisis seperti sekarang ini, mereka tampak tidak tergoyahkan dalam bekerja, bahkan mereka nampak sangat percaya diri. Sekali lagi ,baru berdasarkan pengalaman empiris saja, siswa yang memiliki nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional baik, biasanya nilai pelajaran non nas juga baik. Bisa juga siswa yang memiliki satu keunggulan dalam salah satu mata pelajaran non nas , akan menjadi anak yang percaya diri. Hal ini akan memotivasi siswa yang bersangkutan untuk lebih giat belajar mata pelajaran nas. Sehingga pengurangan jam mata pelajaran non nas apalagi sampai menghapusnya dari kegiatan tatap muka menjelang ujian nasional merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Nasib baik , yang oleh orang dikatakan sebagai kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional.Meski tidak dapat dipungkiri , kecerdasan logis matematis sangat berhubungan dengan daya nalar seseorang. Gardner(1983) berpendapat“Siswa yang memiliki dan mengembangkan kecerdasan linguistik dan logis matematis dijamin pasti akan berhasil dalam situasi sekolah tradisional” Masalahnya bagaimana kalau sekarang mendapati siswa yang dikategorikan ke dalam bimbingan kelas khusus karena mengalami kesulitan dalam menyerap pelajaran matematika, bahasa inggris atau IPA , malah tidak ikut bimbingan? Tidakkah mereka menyadari masa depan yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka, bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan gratis. Melainkan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya. Bertanya, menjelaskan dan kreatif dalam mengerjakan tugas pelajaran non nas, bukankah ini kecerdasanyang terpancar? Sadarkah bapak dan ibu guru akan hal ini? Karena bila siswa mendapatkan penghargaan sesuai potensi dirinya yang kebetulan bukan pelajaran nas, maka siswa tersebut akan menjadi percaya diri. Serta mantab dalam mempersiapkan masa depannya menghadapi tantangan global, dengan cara belajar sungguh sungguh. Adakah ini penting? Penulis : Dra.Endang Prapti S.A. (Guru SMP Negeri 1 Turen) DAFTAR PERPUSTAKAAN Jasmine Julia M.A. (2007). Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk: implementasi multiple intelligences, Bandung : Nuansa. Murdoko, E. Widijo Hari S.Psi.(2008). Memaksimalkan Potensi Anak ( Katahui dan Arahkan Bakat Anak Anda) , Yogyakarta : Pelangi Nyedhaki akhir taun pelajaran , kabeh lembaga pendhidhikan wis padha cecawis kanggo ngadhepi Ujian Nasional . Kumandhange wis keprungu wiwit awal taun ajaran baru. Para guru , wali murid magita-gita ngupakara kepriye carane supaya para putra bisa kasil ing sajroning Ujian mengko. Akeh cara kang ditrapake minangka sarana ngupakara bocah sing dicawisake ngadhepi ujian. Perlune kejaba ngrengkuh gegayuhane bocah, kasil ing ujian dadi gegadhangane wong tuwa, uga guru rumangsa bombing atine yen para siswa kang digula wenthah bisa kasil oleh biji sing dhuwur. Apadene bisa ningkatake gengsi sekolah. Yen ngrembug bab pelajaran kang kalebu ujian nasional, mesthine para sutresna guru wis padha pirsa. Umyege para guru pelajaran matematika, basa Inggris, basa jawa lan ora kari pelajaran IPA padha dirasakake. Yen nganti biji try out kanggo pelajaran mau ana ing ngisore kriteria kelulusan, pendheke mesthi ana kawigaten tartamtu. Wong tuwane diaturi pirsa. Ora melu bimbingan belajar, bocahe didangu, saperlu kanggo oleh biji maksimal, paling sethithik ndhuwure kriteria lulusan. Kejaba ora tega yan nganti bocahe ora lulus, ana alasan liyane maneh yaiku bab mutu sekolah. Mesthine kahanan ing dhuwur ya sah sah bae. Nanging ngelingi tugas ku minangka guru basa jawa, ora kalebu ujian nasional; merga mung pelajaran muatan local.Kahanan kaya mangkono bisa dadi rasa nelangsa ing jero batin.Mung kanggo ngayem-ayem piker, wong senajan muatan local, bayarane ya padha bae, Dadi tak kira bab tanggung jawab nggula wenthah murid ya ora beda.Apa maneh yen manut panemune Gardner(1983) kecerdasan iku ana pitu kejaba kecerdasan linguistic, kcerdasan logis matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musical, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, lan kecerdasan intrapersonal. Pasinaon basa jawa iku wahana pembentukan budi pekerti luhur, guru minangka wakile wong tuwa ing sekolah nduweni tugas mulya kang go nggulawenthah putra kanthi lila legawa. Nate ditulis ing kalawarti iki yen tugas nggulawenthah putra diarani tugas mulya, merga ing tembene bakal nemtokake karaktere putra. Lan masa depane masyarakat lan bangsa. Mulane para murid diangkah ora mung duwe kepinteran ngatasi maneka warna masalah, nanging uga duwe prestasi kang becik ing bidhang ilmu. Siswa perlu duwe lan ngembangake kecerdasan Linguistik( magepokan karo basa), nanging uga kecerdasan logis matematis( magepokan karo nalar logika lan matematika), kanggo ngadhepi tantangan ing era digital iki. Sing tak aturake iki, merga ana sawetara sekolah sing nganggep basa jawa ngono ora perlu melu bingung, menehi pelajaran sadurunge ujian nasional.. Mangka senajan ora kalebu ujian nasional, standar kompetensine uga dirancang kanthi permati.Contone ana tulisan jawa kang isine bab candra, paribasan tembung entar lan uga tembung saroja. Malah sing dadi gegojegan rame ing sekolahanku merga kanggo nyetel kesenian tradisional jawa timur,aku bingung nata jam pelajaran , supaya bisa runtut anggonku nggunakake ruang media. Pungkasane kudu nembung kanca guru liyane,supaya jam mulange bisa ijol karo aku. Oalah wong atase muatan local kok ya nyonyol-nyonyol golek jam.Para guru begedegan rame, wong yen bisa jam pelajaran mata pelajaran nasaional ditingkatake, iki malah mbingungi golek jam. Yen digawe cilik ati pancen ya nelangsa, nanging yen ngelingi tanggung jawab dadi guru professional, ya kudu dak lakoni. Itung itung ana murid sing bakal dadi panata cara, ora kelangan wawasan bab budaya jawa. Menawa dudu wong jawa, banjur sapa sing arep maelu bab kabudayan jawa? Mestine rak dudu wong negara manca sing kudu ngleluri budaya jawa. Apa maneh nganti wong jawa sinau basa jawa ing negara manca,. Masalahnya bahasa jawa dipandang sebelah mata, disamping tidak menentikan kelulusan, juga mempelajari bahasa jawa tidak menaikkan gengsi pribadi Tidakkah mereka menyadari masa depan yang dipersiapkan Tuhan untuk mereka, bukanlah sesuatu yang dapat diambil dengan gratis. Melainkan harus diperjuangkan dengan sungguh sungguh untuk meraihnya. Bertanya, menjelaskan dan kreatif dalam mengerjakan tugas pelajaran non nas, bukankah ini kecerdasanyang terpancar? Sadarkah bapak dan ibu guru akan hal ini? Karena bila siswa mendapatkan penghargaan sesuai potensi dirinya yang kebetulan bukan pelajaran nas, maka siswa tersebut akan menjadi percaya diri. Serta mantab dalam mempersiapkan masa depannya menghadapi tantangan global, dengan cara belajar sungguh sungguh. Adakah ini penting? Penulis : Dra.Endang Prapti S.A. (Guru SMP Negeri 1 Turen) DAFTAR PERPUSTAKAAN Jasmine Julia M.A. (2007). Mengajar Dengan Metode Kecerdasan Majemuk: implementasi multiple intelligences, Bandung : Nuansa. Murdoko, E. Widijo Hari S.Psi.(2008). Memaksimalkan Potensi Anak ( Katahui dan Arahkan Bakat Anak Anda) , Yogyakarta : Pelangi
http://www.koranpendidikan.com/artikel/2773/memahami-keberagaman-kemampuan-peserta-didik.html
PSB Online yang Lebih Berkuwalitas
Judul: PSB Online yang Lebih Berkuwalitas
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Zainul Abidin, S.Pd.
Saya Guru di MTs Negeri 1 Bojonegoro
Topik: PSB Online
Tanggal: 17 Juli 2008
Selesai sudah kesibukan dari dan para wali murid yang mana kurang lebih selama tujuh hari selalu memantau posisi putra-putrinya dalam daftar urutan calon siswa baru pada beberapa sekolah yang menerapkan PSB Online. Begitu juga dengan seluruh panitia yang setiap hari harus memasukkan data-data calon siswa baru dalam data base PSB Online sampai larut malam agar hasil dari PSB Online dapat terupdate setiap hari, bahkan setiap saat.
Kesibukan tersebut akan bertambah bila dalam sistem komputerisasi mengalami kerusakan, ini akan mengakibatkan entri data akan terhambat dan calon siswa baru pun tidak bisa melihat update terakhir saat itu. Kerusakan seperti ini rentan terjadi pada sekolah yang menerapkan sistem PSB Online tapi letak geografis sekolah tersebut jauh dari jaringan internet yang bagus.
Sistem PSB Online sangat membantu dari kerja panitia PSB juga calon siswa baru serta para wali murid. Dengan PSB Online calon siswa cukup mendaftar pada satu tempat (satu sekolah) tapi bisa melakukan banyak pilihan yang disediakan dengan cara mengisi pilihan yang ada pada formulir tersebut, sehingga apabila calon siswa tersebut tidak masuk pada pilihan pertama langsung akan dialihkan pada sekolah pilihan kedua secara otomatis, begitu juga bila tidak masuk pada sekolah pilihan kedua dan seterusnya.
Dengan cara seperti itu calon siswa baru atau wali murid tidak susah payah untuk mencabut berkas pada sekolah tempat mendaftar apabila tidak diterima pada sekolah tersebut. Dengan cara itu pula panitia PSB di setiap sekolah tidak terlalu disibukkan dengan para pendaftar baru limpahan dari sekolah yang lain.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa PSB Online sangat membantu para calon siswa baru dalam proses pendaftaran pada sekolah tertentu Namun bagaimana dengan kuwalitas PSB Online tersebut?
Ada beberapa sisi positif yang dihasilkan dari PSB Online, yaitu dapat meminimalisir unsur nepotisme. Orang tua wali calon siswa baru lebih sulit untuk melobi panitia PSB atau Kepala sekolah, karena semua sistem diproses secara online. Disini kepala sekolah lebih bisa tidur nyenyak……
Sisi positif yang lain adalah calon siswa baru dan orang tuanya serta panitia lebih ringan kerjanya. Calon siswa baru tinggal melihat hasil update setiap saat lewat salah satu sekolah atau lewat internet. Calon siswa tidak usah mencabut berkas bila tidak diterima pada pilihan pertama.
PSB Online lebih berkuwalitas bila ada test tulis.
PSB Online akan lebih berkuwalitas bila sistem yang sudah berjalan saat ini dilengkapi dengan adanya test tulis, pedoman urutan siswa baru yang diterima tidak hanya berdasarkan dari nilai UNAS/UASBN sekolah sebelumnya dan prestasi siswa saja. Dengan adanya test tulis (Bahasa. Indonesia, Matematika, IPA untuk PSB tingkat SMP dan ditambah Bahasa Iggris untuk PSB tingkat SLTA) maka hasil dari PSB tersebut akan lebih berkwalitas tidak hanya dalam segi teknis saja tapi juga dalam segi akademis.
Dengan adanya test tulis calon siswa baru yang nilai UNAS/UASBN rendah masih bisa bersaing dengan calon siswa yang mempunya nilai UNAS/UASBN yang lebih tinggi Test tulis ini juga akan lebih objektif karena calon siswa baru yang test tulis akan mengerjakan soal-soal yang ada dengan kemampuannya sendiri (diasumsikan siswa yang ikut tes tidak saling mengenal karena dari sekolah yang berbeda). Kita semua tahu bahwa siswa yang nilai UNAN/UASBN-nya tinggi tidak semuanya berasal dari siswa yang pandai kesehariannya, bisa dari siswa yang kebetulan tempat duduknya pada saat UNAS/UASBN berdekatan dengan siswa pandai sehingga siswa yang kurang pandai bisa “mencontek” karena mereka saling kenal.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa PSB Online dengan Tes Tulis akan lebih objektif dan lebih berkuwalitas dibandingkan dengan PSB Online tanpa test tulis. Sekarang tinggal dari unsur pendidikan tingkat atas (Diknas tingkat Daerah) yang bisa menentukan bisakah sistem ini diterapkan. Kalau dilihat saat ini dalam segi teknologi kita sudah siap. Jaringan internet dan alat scanner LJK juga sudah tersedia.
http://re-searchengines.com/zainul0708.html
Bahan ini cocok untuk Semua Sektor Pendidikan bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Zainul Abidin, S.Pd.
Saya Guru di MTs Negeri 1 Bojonegoro
Topik: PSB Online
Tanggal: 17 Juli 2008
Selesai sudah kesibukan dari dan para wali murid yang mana kurang lebih selama tujuh hari selalu memantau posisi putra-putrinya dalam daftar urutan calon siswa baru pada beberapa sekolah yang menerapkan PSB Online. Begitu juga dengan seluruh panitia yang setiap hari harus memasukkan data-data calon siswa baru dalam data base PSB Online sampai larut malam agar hasil dari PSB Online dapat terupdate setiap hari, bahkan setiap saat.
Kesibukan tersebut akan bertambah bila dalam sistem komputerisasi mengalami kerusakan, ini akan mengakibatkan entri data akan terhambat dan calon siswa baru pun tidak bisa melihat update terakhir saat itu. Kerusakan seperti ini rentan terjadi pada sekolah yang menerapkan sistem PSB Online tapi letak geografis sekolah tersebut jauh dari jaringan internet yang bagus.
Sistem PSB Online sangat membantu dari kerja panitia PSB juga calon siswa baru serta para wali murid. Dengan PSB Online calon siswa cukup mendaftar pada satu tempat (satu sekolah) tapi bisa melakukan banyak pilihan yang disediakan dengan cara mengisi pilihan yang ada pada formulir tersebut, sehingga apabila calon siswa tersebut tidak masuk pada pilihan pertama langsung akan dialihkan pada sekolah pilihan kedua secara otomatis, begitu juga bila tidak masuk pada sekolah pilihan kedua dan seterusnya.
Dengan cara seperti itu calon siswa baru atau wali murid tidak susah payah untuk mencabut berkas pada sekolah tempat mendaftar apabila tidak diterima pada sekolah tersebut. Dengan cara itu pula panitia PSB di setiap sekolah tidak terlalu disibukkan dengan para pendaftar baru limpahan dari sekolah yang lain.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa PSB Online sangat membantu para calon siswa baru dalam proses pendaftaran pada sekolah tertentu Namun bagaimana dengan kuwalitas PSB Online tersebut?
Ada beberapa sisi positif yang dihasilkan dari PSB Online, yaitu dapat meminimalisir unsur nepotisme. Orang tua wali calon siswa baru lebih sulit untuk melobi panitia PSB atau Kepala sekolah, karena semua sistem diproses secara online. Disini kepala sekolah lebih bisa tidur nyenyak……
Sisi positif yang lain adalah calon siswa baru dan orang tuanya serta panitia lebih ringan kerjanya. Calon siswa baru tinggal melihat hasil update setiap saat lewat salah satu sekolah atau lewat internet. Calon siswa tidak usah mencabut berkas bila tidak diterima pada pilihan pertama.
PSB Online lebih berkuwalitas bila ada test tulis.
PSB Online akan lebih berkuwalitas bila sistem yang sudah berjalan saat ini dilengkapi dengan adanya test tulis, pedoman urutan siswa baru yang diterima tidak hanya berdasarkan dari nilai UNAS/UASBN sekolah sebelumnya dan prestasi siswa saja. Dengan adanya test tulis (Bahasa. Indonesia, Matematika, IPA untuk PSB tingkat SMP dan ditambah Bahasa Iggris untuk PSB tingkat SLTA) maka hasil dari PSB tersebut akan lebih berkwalitas tidak hanya dalam segi teknis saja tapi juga dalam segi akademis.
Dengan adanya test tulis calon siswa baru yang nilai UNAS/UASBN rendah masih bisa bersaing dengan calon siswa yang mempunya nilai UNAS/UASBN yang lebih tinggi Test tulis ini juga akan lebih objektif karena calon siswa baru yang test tulis akan mengerjakan soal-soal yang ada dengan kemampuannya sendiri (diasumsikan siswa yang ikut tes tidak saling mengenal karena dari sekolah yang berbeda). Kita semua tahu bahwa siswa yang nilai UNAN/UASBN-nya tinggi tidak semuanya berasal dari siswa yang pandai kesehariannya, bisa dari siswa yang kebetulan tempat duduknya pada saat UNAS/UASBN berdekatan dengan siswa pandai sehingga siswa yang kurang pandai bisa “mencontek” karena mereka saling kenal.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa PSB Online dengan Tes Tulis akan lebih objektif dan lebih berkuwalitas dibandingkan dengan PSB Online tanpa test tulis. Sekarang tinggal dari unsur pendidikan tingkat atas (Diknas tingkat Daerah) yang bisa menentukan bisakah sistem ini diterapkan. Kalau dilihat saat ini dalam segi teknologi kita sudah siap. Jaringan internet dan alat scanner LJK juga sudah tersedia.
http://re-searchengines.com/zainul0708.html
Orang Tua adalah Guru Pertama dan Utama
Judul: Orang Tua adalah Guru Pertama dan Utama
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Ainun Jariah,S.Pdi
Saya Guru di Batam
Topik: Pendidikan dalam keluarga
Tanggal: 18 april 2008
Setiap anak dilahirkan kedunia ini dalam keadaan fitrah, artinya manusia lahir membawa fitrah beragama dan potensi berbuat baik. Fitrah inilah yang membedakan antara manusia dan makhluk Allah lainnya. Fitrah dan potensi yang sudah ada semenjak dilahirkan itu tidak akan berkembang secara optimal tanpa adanya pemeliharaan dan bimbingan.
Bimbingan untuk pengembangan fitrah dan potensi yang masih berupa bibit atau benih itu dapat melalui proses pendidikan. Seorang anak harus dipandu dan diarahkan agar mereka tidak menyimpang dari fitrah dan potensinya yang sudah mereka bawa semenjak lahir dengan memberikan pendidikan.
Kegiatan dan proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lingkungan ini harus bekerja sama dan saling mendukung untuk hasil yang maksimal dalam membentuk kepribadian seorang anak yang baik dan sholeh.
Lingkungan pertama yang punya peran adalah lingkungan keluarga, disinilah anak dilahirkan,di rawat dan dibesarkan. Disinilah proses pendidikan berawal, orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak, kenapa demikian? Karena orang tua (ayah) adalah orang yang pertama kali melafazdkan adzan dan iqomah ditelinga anak di awal kelahirannya. Orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan anak berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, kakek dan anggota keluarga lainnya. Orang tua adalah orang yang pertama mengajarkan anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya.
Orang tua, ibu khususnya karena seorang ibu yang biasanya punya banyak waktu bersama anak dirumah, bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya, jika seorang ibu mampu mengarahkan, membimbing dan mengembangkan fitrah dan potensi anak secara maksimal pada tahun-tahun pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh oleh lingkungan lain, dalam artian anak masih suci.
Masa-masa anak hanya berinteraksi dengan anggota keluarga, ini adalah saat yang tepat bagi orang tua untuk membentuk karakter seorang anak. Orang tualah yang mengarahkan kehidupan anak dengan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dirumah yang merupakan teladan bagi anak.
Disadari atau tidak oleh orang tua, gerak gerik dan tingkah laku mereka sehari-hari yang setiap waktu bahkan setiap saat dilihat, dirasakan dan di dengar oleh anak adalah proses belajar bagi mereka.
Kalau materi yang sering diterima anak baik, sebuah keluarga yang harmonis, hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang, secara otomatis unsur-unsur kebaikan itu akan tertransfer kedalam diri anak, disaat itu bisa dikatakan orang tua telah berhasil menjadi seorang guru yang bagi anaknya. Namun jika materi yang sering diterima anak tidak baik, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perhatian dan kasih sayang yang kurang karena orang tua sibuk dengan urusan masing-masing, ucapan-ucapan yang tidak baik, disaat itu orang tua telah gagal menjadi guru pertama dan utama bagi anak.
Proses kehidupan dalam sebuah keluarga adalah proses belajar pertama bagi anak sebelum mereka hidup dalam lingkungan yang lebih luas yaitu sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu seharusnya setiap orang tua harus mampu memanfaatkan masa-masa ini untuk mengembangkan potensi anak untuk membentuk pribadi yang sempurna.
Setiap oarng tua selalu mengatakan dan berharap punya anak yang baik dan sholeh. Jadi untuk mewujudkan keinginan dan harapan itu, jadilah orang tua sekaligus guru bagi anak dirumah, dengan menyajikan materi-materi yang mereka butuhkan yaitu suasana yang tenang tanpa pertengkaran dan kekerasan, kasih sayang dan perhatian yang cukup dari sosok seorang ibu dan ayah (jadilah ayah dan ibu ideal bagi anak-anak anda).
Selanjutnya agar fitrah dan potensi anak semakin berkembang dan terarah, yang mungkin dalam hal ini orang tua punya keterbatasan, anak mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru disekolah sebagai lembaga pendidikan secara formal. Disini anak di didik dan dibimbing oleh seorang guru, dan anak berinteraksi dengan teman sebaya.
Di sekolah terlihat hasil dari pola asuh orang tua dirumah sebelum anak terjun kelingkungan sekolah. Ada anak yang baik dan punya sopan santun, dan ada juga yang terbiasa berkata tidak sopan dan banyak lagi macam karakter-karakter anak yang lain. Semua model karakter anak tersebut adalah hasil dari didikan orang tua dirumah.
Sesuatu yang ditanamkan dan dibiasakan oleh orang tua sebagai dasar karakter anak itulah yang kelihatan dalam diri anak pada tahap berikutnya. Perbedaan-perbedaan ini bisa terlihat ketika anak-anak berkumpul dan bergabung jadi satu, disanalah terlihat bermacam-macam kepribadian dan karakter mereka.
Tugas guru disini membantu orang tua untuk membimbing dan mengembangkan potensi anak agar lebih terarah. Sekali lagi sifatnya hanya membantu, semaksimal apapun usaha yang dilakukan seorang guru tanpa bantuan dari orang tua hasilnya sia-sia. Karena waktu guru bersama anak dan orang tua bersama anak berbanding 25% dan 75%. Anak lebih kurang hanya punya waktu 25% perhari bersama guru disekolah, sisanya 75% lagi anak menghabiskan waktu bersama orang tua dirumah. Lagi pula saat anak berada disekolah, seorang guru tidak akan mampu memperhatikan anak didiknya satu persatu yang kadang jumlahnya melebihi kapasitas, dan dalam masalah ini guru tidak punya wewenang apa-apa, guru hanya menjalankan tugas mengajar dan menjadi seorang pendidik.
Intinya walaupun anak sudah diserahkan kesekolah bukan berarti urusan pendidikan anak adalah tanggung jawab sekolah dan orang tua lepas tangan dan melalaikan pendidikan anak. Yang harus dilakukan adalah orang tua menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik dengan pihak sekolah atau guru, agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam mendidik anak.
Setelah orang tua dibantu oleh guru disekolah, selanjutnya anak akan masuk pada lingkungan sosial yaitu masyarakat. Kematangan anak untuk masuk pada lingkungan masyarakat tidak terlepas dari peran orang tua. Tentunya orang tua telah mempersiapkan anaknya untuk memasuki lingkungan masayarakat, disekolah juga anak telah belajar hidup bersosial dengan adanya interaksi antara anak yang satu dengan yang lainnya. Pelajaran yang diperoleh anak dari orang tua dan guru menjadi bekal bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Tugas lingkungan masyarakat adalah memelihara dan melestarikan apa yang sudah dimiliki anak, dengan cara menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat dan bebas dari penyimpangan-penyimpangan yang bisa merusak jiwa anak. Usaha ini masih titik awalnya berasal dari setiap orang tua, karena masyarakat itu merupakan gabungan dari satu keluarga dengan keluarga lainnya. Apabila setiap orang tua yang ada disatu lingkungan yang disebut masyarakat sudah melaksanakan kewajiban, tugas dan tanggung jawab masing-masing pada anaknya niscaya akan tercipta lingkungan yang baik dan sehat selanjutnya anak juga akan berkembang dengan baik dan sempurna.
Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa titik awal dari pembentukan kepribadian seorang anak dan masayarakat adalah orang tua. Seandainya setiap orang tua menyadari tugas dan tanggung jawabnya serta mampu menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, mungkin akan terlahir generasi muda yang punya kepribadian tangguh dan anak-anak sholeh.
Untuk menyudahi catatan kecil ini saya kutip arti sebuah hadits yang sudah tidah asing lagi dan sudah sering didengar, mudah-Mudahan bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua
"Abu hurairah ra. menceritakan, bahwa nabi saw pernah bersabda: tidak ada seorang anakpun yang lahir kedunia ini kecuali dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, majusi dan nasrani. (hr. Bukhori)"
Batam, 18 April 2008
1http://re-searchengines.com/0408ainun.html
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Ainun Jariah,S.Pdi
Saya Guru di Batam
Topik: Pendidikan dalam keluarga
Tanggal: 18 april 2008
Setiap anak dilahirkan kedunia ini dalam keadaan fitrah, artinya manusia lahir membawa fitrah beragama dan potensi berbuat baik. Fitrah inilah yang membedakan antara manusia dan makhluk Allah lainnya. Fitrah dan potensi yang sudah ada semenjak dilahirkan itu tidak akan berkembang secara optimal tanpa adanya pemeliharaan dan bimbingan.
Bimbingan untuk pengembangan fitrah dan potensi yang masih berupa bibit atau benih itu dapat melalui proses pendidikan. Seorang anak harus dipandu dan diarahkan agar mereka tidak menyimpang dari fitrah dan potensinya yang sudah mereka bawa semenjak lahir dengan memberikan pendidikan.
Kegiatan dan proses pendidikan dapat terjadi dalam tiga lingkungan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiga lingkungan ini harus bekerja sama dan saling mendukung untuk hasil yang maksimal dalam membentuk kepribadian seorang anak yang baik dan sholeh.
Lingkungan pertama yang punya peran adalah lingkungan keluarga, disinilah anak dilahirkan,di rawat dan dibesarkan. Disinilah proses pendidikan berawal, orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Orang tua adalah guru agama, bahasa dan sosial pertama bagi anak, kenapa demikian? Karena orang tua (ayah) adalah orang yang pertama kali melafazdkan adzan dan iqomah ditelinga anak di awal kelahirannya. Orang tua adalah orang yang pertama kali mengajarkan anak berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, kakek dan anggota keluarga lainnya. Orang tua adalah orang yang pertama mengajarkan anak bersosial dengan lingkungan sekitarnya.
Orang tua, ibu khususnya karena seorang ibu yang biasanya punya banyak waktu bersama anak dirumah, bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya, jika seorang ibu mampu mengarahkan, membimbing dan mengembangkan fitrah dan potensi anak secara maksimal pada tahun-tahun pertama kelahiran anak dimana anak belum disentuh oleh lingkungan lain, dalam artian anak masih suci.
Masa-masa anak hanya berinteraksi dengan anggota keluarga, ini adalah saat yang tepat bagi orang tua untuk membentuk karakter seorang anak. Orang tualah yang mengarahkan kehidupan anak dengan kebiasaan yang dilakukan sehari-hari dirumah yang merupakan teladan bagi anak.
Disadari atau tidak oleh orang tua, gerak gerik dan tingkah laku mereka sehari-hari yang setiap waktu bahkan setiap saat dilihat, dirasakan dan di dengar oleh anak adalah proses belajar bagi mereka.
Kalau materi yang sering diterima anak baik, sebuah keluarga yang harmonis, hubungan yang hangat dan penuh kasih sayang, secara otomatis unsur-unsur kebaikan itu akan tertransfer kedalam diri anak, disaat itu bisa dikatakan orang tua telah berhasil menjadi seorang guru yang bagi anaknya. Namun jika materi yang sering diterima anak tidak baik, seperti kekerasan dalam rumah tangga, perhatian dan kasih sayang yang kurang karena orang tua sibuk dengan urusan masing-masing, ucapan-ucapan yang tidak baik, disaat itu orang tua telah gagal menjadi guru pertama dan utama bagi anak.
Proses kehidupan dalam sebuah keluarga adalah proses belajar pertama bagi anak sebelum mereka hidup dalam lingkungan yang lebih luas yaitu sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu seharusnya setiap orang tua harus mampu memanfaatkan masa-masa ini untuk mengembangkan potensi anak untuk membentuk pribadi yang sempurna.
Setiap oarng tua selalu mengatakan dan berharap punya anak yang baik dan sholeh. Jadi untuk mewujudkan keinginan dan harapan itu, jadilah orang tua sekaligus guru bagi anak dirumah, dengan menyajikan materi-materi yang mereka butuhkan yaitu suasana yang tenang tanpa pertengkaran dan kekerasan, kasih sayang dan perhatian yang cukup dari sosok seorang ibu dan ayah (jadilah ayah dan ibu ideal bagi anak-anak anda).
Selanjutnya agar fitrah dan potensi anak semakin berkembang dan terarah, yang mungkin dalam hal ini orang tua punya keterbatasan, anak mendapatkan bimbingan dan arahan dari guru disekolah sebagai lembaga pendidikan secara formal. Disini anak di didik dan dibimbing oleh seorang guru, dan anak berinteraksi dengan teman sebaya.
Di sekolah terlihat hasil dari pola asuh orang tua dirumah sebelum anak terjun kelingkungan sekolah. Ada anak yang baik dan punya sopan santun, dan ada juga yang terbiasa berkata tidak sopan dan banyak lagi macam karakter-karakter anak yang lain. Semua model karakter anak tersebut adalah hasil dari didikan orang tua dirumah.
Sesuatu yang ditanamkan dan dibiasakan oleh orang tua sebagai dasar karakter anak itulah yang kelihatan dalam diri anak pada tahap berikutnya. Perbedaan-perbedaan ini bisa terlihat ketika anak-anak berkumpul dan bergabung jadi satu, disanalah terlihat bermacam-macam kepribadian dan karakter mereka.
Tugas guru disini membantu orang tua untuk membimbing dan mengembangkan potensi anak agar lebih terarah. Sekali lagi sifatnya hanya membantu, semaksimal apapun usaha yang dilakukan seorang guru tanpa bantuan dari orang tua hasilnya sia-sia. Karena waktu guru bersama anak dan orang tua bersama anak berbanding 25% dan 75%. Anak lebih kurang hanya punya waktu 25% perhari bersama guru disekolah, sisanya 75% lagi anak menghabiskan waktu bersama orang tua dirumah. Lagi pula saat anak berada disekolah, seorang guru tidak akan mampu memperhatikan anak didiknya satu persatu yang kadang jumlahnya melebihi kapasitas, dan dalam masalah ini guru tidak punya wewenang apa-apa, guru hanya menjalankan tugas mengajar dan menjadi seorang pendidik.
Intinya walaupun anak sudah diserahkan kesekolah bukan berarti urusan pendidikan anak adalah tanggung jawab sekolah dan orang tua lepas tangan dan melalaikan pendidikan anak. Yang harus dilakukan adalah orang tua menjalin kerja sama dan komunikasi yang baik dengan pihak sekolah atau guru, agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam mendidik anak.
Setelah orang tua dibantu oleh guru disekolah, selanjutnya anak akan masuk pada lingkungan sosial yaitu masyarakat. Kematangan anak untuk masuk pada lingkungan masyarakat tidak terlepas dari peran orang tua. Tentunya orang tua telah mempersiapkan anaknya untuk memasuki lingkungan masayarakat, disekolah juga anak telah belajar hidup bersosial dengan adanya interaksi antara anak yang satu dengan yang lainnya. Pelajaran yang diperoleh anak dari orang tua dan guru menjadi bekal bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Tugas lingkungan masyarakat adalah memelihara dan melestarikan apa yang sudah dimiliki anak, dengan cara menciptakan lingkungan masyarakat yang sehat dan bebas dari penyimpangan-penyimpangan yang bisa merusak jiwa anak. Usaha ini masih titik awalnya berasal dari setiap orang tua, karena masyarakat itu merupakan gabungan dari satu keluarga dengan keluarga lainnya. Apabila setiap orang tua yang ada disatu lingkungan yang disebut masyarakat sudah melaksanakan kewajiban, tugas dan tanggung jawab masing-masing pada anaknya niscaya akan tercipta lingkungan yang baik dan sehat selanjutnya anak juga akan berkembang dengan baik dan sempurna.
Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa titik awal dari pembentukan kepribadian seorang anak dan masayarakat adalah orang tua. Seandainya setiap orang tua menyadari tugas dan tanggung jawabnya serta mampu menjadi guru pertama bagi anak-anaknya, mungkin akan terlahir generasi muda yang punya kepribadian tangguh dan anak-anak sholeh.
Untuk menyudahi catatan kecil ini saya kutip arti sebuah hadits yang sudah tidah asing lagi dan sudah sering didengar, mudah-Mudahan bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua
"Abu hurairah ra. menceritakan, bahwa nabi saw pernah bersabda: tidak ada seorang anakpun yang lahir kedunia ini kecuali dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, majusi dan nasrani. (hr. Bukhori)"
Batam, 18 April 2008
1http://re-searchengines.com/0408ainun.html
Membina Etika Si Buah Hati Demi Kejayaan Bangsa
Judul: Membina Etika Si Buah Hati Demi Kejayaan Bangsa
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Muh. Syukur Salman
Saya Guru di Parepare
Topik: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Tanggal: 7 Mei 2008
MEMBINA ETIKA SI BUAH HATI DEMI KEJAYAAN BANGSA
A. Membentuk Etika Anak Sejak Dini
Anak merupakan titipan dan amanah yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai orangtua. Pemberian amanah tersebut harus dipertanggungjawabkan di hari kemudian kelak. Oleh karena itu bimbingan serta arahan dari orangtua menjadi sangat penting dalam kelangsungan hidup dan kehidupan seorang anak sampai mereka dapat mandiri. Dalam ajaran agama sungguh sangat jelas perintah dan tanggungjawab kita dalam pembimbingan anak, agar si buah hati yang kita lahirkan memiliki etika terpuji sebagai bekal hidupnya kelak. Bahkan, perencanaan dalam pengasuhan seorang anak telah dituntunkan sejak masa dalam kandungan orangtuanya. Umum diketahui, bahwa bayi dalam kandungan ibunya telah dimungkinkan untuk dibina dengan memperdengarkan bacaan-bacaan ayat suci atau lagu-lagu opera dari Mozart atau Bethoven. Begitu ketat dan pentingnya pembentukan etika seorang anak sejak dini.
Kontinyuitas usaha dalam membentuk etika seorang anak tentu harus pula diperhatikan. Orangtua mau tak mau harus bertanggungjawab untuk tetap menganggap hal ini sebagai suatu yang urgen. Untuk itu segala daya dan upaya harus ditempuh dalam menjamin keberlanjutan pembentukan etika yang normatif pada anak. Tanggungjawab yang berada di pundak orangtua ini tentu akan sangat positif jika orangtua secara langsung memberikan pembinaan kepada anaknya. Orangtua merupakan pendidik yang utama dan pertama bagi seorang anak. Namun demikian, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak karena banyak kendala yang dapat saja dirasakan orangtua. Kerasnya tuntutan profesi dan aktifitas lainnya dari orangtua serta keinginan agar sang anak mendapat pembimbingan yang lebih baik dan profesional mengharuskan mereka mengalihtangankan pembinaan putra-putrinya yang masih terbilang balita pada suatu institusi yang telah mapan di bidangnya.
Indonesia sebagai negara berkembang dan terus mengusahakan kemajuan disegala bidang haruslah memperhatikan pembinaan anak-anak diusia sedini mungkin, terutama dari sisi etika. Hal ini tentu menjadi kesepakatan kita bersama karena telah menjadi suatu yang umum di negara kita dewasa ini tingkat penyalahgunaan, kecurangan, dan hal - hal yang menistakan etika, banyak terjadi. Kita tentu mengharap ada perbaikan penyelenggaraan negara dari sisi etika pada masa mendatang dengan semaksimal mungkin memberikan bimbingan etika sejak dini kepada generasi penerus bangsa. Hal ini tentu bukan suatu program yang mustahil tetapi memang tidak mudah direalisasikan. Diperlukan kesabaran dengan biaya yang tidak sedikit, waktu, dan juga kendala-kendala yang akan dihadapi. Namun, bukanlah hal itu yang harus menyurutkan kita dalam berbuat demi kejayaan Bangsa Indonesia di mata dunia.
B. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Salah satu kebijakan pemerintah disektor pendidikan yang mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah diakuinya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya mengenal pendidikan saat masuk sekolah dasar atau bahkan Taman Kanak-kanak, karena dari hasil penelitian dinyatakan bahwa perkembangan seorang anak akan sangat berpengaruh pada usia sekitar 4 tahun. Oleh karena itu pembinaan yang lebih dari sekedar pembinaan oleh orangtua di rumah tangga harus mendapat perhatian yang serius. Pembinaan yang dimaksud dapat di berikan pada institusi Pendidikan Anak Usia Dini atau disingkat PAUD, sebagaimana tertulis pada pasal 28 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. PAUD berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Keberagaman PAUD dari jalur dan jenis satuan pendidikannya merupakan suatu bentuk kemudahan dalam memilih alternatif pembinaan anak di bawah lima tahun. Sebagai orangtua tentu memerlukan pertimbangan-pertimbangan dalam "menyerahkan" anaknya yang masih balita pada suatu institusi pendidikan khusus. Oleh karena itu, suatu hal yang wajar jika orangtua justru tidak memilih PAUD Formal seperti TK atau RA, tetapi justru lebih memilih PAUD Non Formal dan In Formal. Hal ini bukan berarti bahwa salah satu jalur PAUD lebih baik dari jalur PAUD yang lainnya. Kebebasan dalam memilih tempat pembimbingan seorang anak, ada di tangan orangtuanya.
Namun, yang menjadi kendala saat ini adalah bahwa masyarakat kita masih banyak yang kurang memahami arti penting dari PAUD itu sendiri. Selain itu juga didukung oleh belum adanya aturan yang menjadikan PAUD sebagai suatu tingkatan pendidikan yang harus ditempuh sebelum masuk Sekolah Dasar atau Taman Kanak-kanak. Selain itu, meskipun penyelenggaraan PAUD telah dapat dikatakan banyak dan tersebar, namun masih terkesan penyelenggaraan jalur PAUD yang lebih dominan adalah jalur formal yakni TK dan RA. Hal ini bukan tanpa alasan, tetapi lebih dikarenakan kondisi masyarakat kita yang belum memahami sepenuhnya akan PAUD non formal dan in formal tersebut. Menurut Direktur PAUD bahwa pada akhir tahun 2007 jumlah anak yang terlayani PAUD sebanyak 28 juta atau 48 persen. Dia menargetkan, pada 2009 minimal 53,9 persen anak usia 0-6 tahun terlayani PAUD
C. PAUD Non Formal dan In Formal Hubungannya dengan Pembentukan Etika Anak
Penyelenggaraan PAUD tentu akan semakin berkembang jika didukung oleh semua pihak. Pemberdayaan serta dukungan masyarakat sangat diandalkan untuk mengembangkan PAUD. Kesadaran masyarakat akan pentingnya PAUD menjadikan masyarakat itu sendiri yang merasa membutuhkan keberadaan program PAUD. Sebenarnya, jika kita menghubungkan dengan pembinaan seorang anak termasuk etikanya, maka PAUD seharusnya diterapkan pada anak sejak ia lahir atau pada saat usia 0 (nol) tahun. Kita ketahui bahwa ketika anak lahir ia telah dibekali oleh berbagai potensi genetis, lingkunganlah yang memberi peran besar dalam pembentukan sikap, kepribadian, dan pengembangan kemampuan anak. Dahulu, pola seperti ini belum terpikirkan, namun kini PAUD harus diterapkan bukan hanya sebelum masuk SD tetapi juga sebelum masuk Taman Kanak-kanak (TK).
Penyelenggaraan PAUD oleh keluarga atau masyarakat akan semakin mendekatkankan orangtua kepada pembinaan si buah hati yang lebih efektif dan efisien, terutama unsur etika anak. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, keberadaan PAUD Non Formal dan In Formal akan semakin memberi nuansa kedekatan orangtua terhadap anak secara psikologis. Kelompok bermain atau taman penitipan anak sebagai salah satu contoh PAUD Non Formal dan Pendidikan Keluarga atau Lingkungan sebagai contoh PAUD In Formal, tentu merupakan sarana untuk membentuk etika pada anak sejak dini. Keteladanan yang diperlihatkan oleh orangtua sendiri atau pendidik PAUD yang juga merupakan orangtua (ibu) yang dipercaya mampu dan kapabel dalam mendidik anak-anak usia 0-6 tahun.
Tentu proses pembelajaran di PAUD Formal seperti Taman Kanak-kanak juga berbeda dengan PAUD Non Formal dan In Formal. TK lebih mengesankan "aturan-aturan" formal telah dijalankan seperti layaknya sekolah. Ada papan tulis yang terletak di depan ruangan kelas, ada bangku dan meja "murid" yang berjejer rapi, seragam, serta hal-hal formal layaknya di sekolah. Di Play Group dan Pendidikan Keluarga sebagai contoh PAUD Non Formal dan In Formal lebih memberikan aktifitas yang leluasa kepada anak seperti layaknya di rumah atau di lingkungan sendiri. Hal ini tentu dapat dikatakan sebagai nilai tambah PAUD Non Formal dan In Formal karena kesan anak, mereka tidak sedang bersekolah yang terkesan menjenuhkan tetapi mendapat tempat bermain secara lebih leluasa. Namun demikian tentu saja dalam sistem yang telah terprogram secermat mungkin terutama dalam hal peningkatan potensi anak termasuk bimbingan etikanya.
Jalinan hubungan antara anak satu dengan yang lainnya pada saat bermain atau beraktifitas akan menciptakan suasana-suasana yang berbeda. Pada kesempatan inilah pendidik (orangtua) memberikan masukan-masukan nilai-nilai etika pada anak. Bagaimana jika seorang anak memanggil temannya dengan sebutan yang kurang baik? Bagaimana jika seorang anak berkelahi dengan yang lain? Bagaimana jika anak meminjam mainan temannya? Bagaimana jika anak akan keluar ruangan? Bagaimana jika berbicara dengan guru atau orangtua? Bagaimana makan yang baik atau buang air? Kesemuanya itu merupakan sebagian kecil contoh kejadian atau suasana yang dapat dijadikan sarana membentuk etika anak. Tidak perlu mengumpulkan anak dan berceramah di depan mereka tentang prilaku yang baik dan tidak baik.
Hal sedemikian dipercaya kurang efektif bagi anak usia 0-6 tahun yang lebih sarat aktifitas bermainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembinaan di PAUD Non Formal dan In Formal seperti layaknya di rumah sendiri yang sarat akan aktifitas-aktifitas keseharian seorang anak. Sebagai "pembeda" adalah pembimbing atau guru atau orangtua telah profesional dalam membimbing anak terutama etika. Pembentukan etika anak tentu menjadi prioritas sedini mungkin pada suasana atau kondisi yang sederhana terlebih dahulu, baru pada situasi yang kompleks. Jika seorang anak mampu untuk memperlihatkan prilaku yang beretika dalam melakukan aktifitas kesehariannya, maka dapat diyakini mereka akan mampu untuk berprilaku baik jika bersekolah di TK atau masuk SD.
Jiwa-jiwa yang lahir dan dibina dengan etika yang baik akan berdampak luas terhadap perkembangan potensi diri mereka. Anak-anak kita yang telah di bina etikanya di PAUD Non Formal dan In Formal akan mudah untuk mengembangkan diri selanjutnya. Prilaku atau etika yang normatif pada diri anak-anak kita akan menjadikan mereka mudah untuk memilih dan memilah suatu aktifitas positif atau negatif. "Penanaman bibit" etika saat dibina di PAUD Non Formal dan In Formal (utamanya usia 4 tahun) akan tumbuh berkembang pada usia selanjutnya. Kita sebagai orangtua akan merasa mudah dalam mengarahkan anak-anak kita tadi untuk terus memajukan dirinya. Etika yang baik pada anak-anak kita, akan menjadikan orangtua berfungsi sebagai Tut Wuri Handayani. Bangsa Indonesia akan berkembang pesat jika generasi-generasi penerus bangsa ini memiliki etika yang baik, karena dengan etika yang baik serta terpuji akan memudahkan si buah hati kita untuk terus belajar dan memajukan bangsa ini dan bersaing dengan bangsa-bangsa di dunia dan mencapai kejayaan bangsa. SEKIAN
http://re-searchengines.com/0508syukur.html
Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Muh. Syukur Salman
Saya Guru di Parepare
Topik: Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Tanggal: 7 Mei 2008
MEMBINA ETIKA SI BUAH HATI DEMI KEJAYAAN BANGSA
A. Membentuk Etika Anak Sejak Dini
Anak merupakan titipan dan amanah yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai orangtua. Pemberian amanah tersebut harus dipertanggungjawabkan di hari kemudian kelak. Oleh karena itu bimbingan serta arahan dari orangtua menjadi sangat penting dalam kelangsungan hidup dan kehidupan seorang anak sampai mereka dapat mandiri. Dalam ajaran agama sungguh sangat jelas perintah dan tanggungjawab kita dalam pembimbingan anak, agar si buah hati yang kita lahirkan memiliki etika terpuji sebagai bekal hidupnya kelak. Bahkan, perencanaan dalam pengasuhan seorang anak telah dituntunkan sejak masa dalam kandungan orangtuanya. Umum diketahui, bahwa bayi dalam kandungan ibunya telah dimungkinkan untuk dibina dengan memperdengarkan bacaan-bacaan ayat suci atau lagu-lagu opera dari Mozart atau Bethoven. Begitu ketat dan pentingnya pembentukan etika seorang anak sejak dini.
Kontinyuitas usaha dalam membentuk etika seorang anak tentu harus pula diperhatikan. Orangtua mau tak mau harus bertanggungjawab untuk tetap menganggap hal ini sebagai suatu yang urgen. Untuk itu segala daya dan upaya harus ditempuh dalam menjamin keberlanjutan pembentukan etika yang normatif pada anak. Tanggungjawab yang berada di pundak orangtua ini tentu akan sangat positif jika orangtua secara langsung memberikan pembinaan kepada anaknya. Orangtua merupakan pendidik yang utama dan pertama bagi seorang anak. Namun demikian, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mutlak karena banyak kendala yang dapat saja dirasakan orangtua. Kerasnya tuntutan profesi dan aktifitas lainnya dari orangtua serta keinginan agar sang anak mendapat pembimbingan yang lebih baik dan profesional mengharuskan mereka mengalihtangankan pembinaan putra-putrinya yang masih terbilang balita pada suatu institusi yang telah mapan di bidangnya.
Indonesia sebagai negara berkembang dan terus mengusahakan kemajuan disegala bidang haruslah memperhatikan pembinaan anak-anak diusia sedini mungkin, terutama dari sisi etika. Hal ini tentu menjadi kesepakatan kita bersama karena telah menjadi suatu yang umum di negara kita dewasa ini tingkat penyalahgunaan, kecurangan, dan hal - hal yang menistakan etika, banyak terjadi. Kita tentu mengharap ada perbaikan penyelenggaraan negara dari sisi etika pada masa mendatang dengan semaksimal mungkin memberikan bimbingan etika sejak dini kepada generasi penerus bangsa. Hal ini tentu bukan suatu program yang mustahil tetapi memang tidak mudah direalisasikan. Diperlukan kesabaran dengan biaya yang tidak sedikit, waktu, dan juga kendala-kendala yang akan dihadapi. Namun, bukanlah hal itu yang harus menyurutkan kita dalam berbuat demi kejayaan Bangsa Indonesia di mata dunia.
B. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
Salah satu kebijakan pemerintah disektor pendidikan yang mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah diakuinya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya mengenal pendidikan saat masuk sekolah dasar atau bahkan Taman Kanak-kanak, karena dari hasil penelitian dinyatakan bahwa perkembangan seorang anak akan sangat berpengaruh pada usia sekitar 4 tahun. Oleh karena itu pembinaan yang lebih dari sekedar pembinaan oleh orangtua di rumah tangga harus mendapat perhatian yang serius. Pembinaan yang dimaksud dapat di berikan pada institusi Pendidikan Anak Usia Dini atau disingkat PAUD, sebagaimana tertulis pada pasal 28 ayat 1 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. PAUD berfungsi membina, menumbuhkan, dan mengembangkan seluruh potensi anak usia dini secara optimal sehingga terbentuk perilaku dan kemampuan dasar sesuai dengan tahap perkembangannya agar memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.
Keberagaman PAUD dari jalur dan jenis satuan pendidikannya merupakan suatu bentuk kemudahan dalam memilih alternatif pembinaan anak di bawah lima tahun. Sebagai orangtua tentu memerlukan pertimbangan-pertimbangan dalam "menyerahkan" anaknya yang masih balita pada suatu institusi pendidikan khusus. Oleh karena itu, suatu hal yang wajar jika orangtua justru tidak memilih PAUD Formal seperti TK atau RA, tetapi justru lebih memilih PAUD Non Formal dan In Formal. Hal ini bukan berarti bahwa salah satu jalur PAUD lebih baik dari jalur PAUD yang lainnya. Kebebasan dalam memilih tempat pembimbingan seorang anak, ada di tangan orangtuanya.
Namun, yang menjadi kendala saat ini adalah bahwa masyarakat kita masih banyak yang kurang memahami arti penting dari PAUD itu sendiri. Selain itu juga didukung oleh belum adanya aturan yang menjadikan PAUD sebagai suatu tingkatan pendidikan yang harus ditempuh sebelum masuk Sekolah Dasar atau Taman Kanak-kanak. Selain itu, meskipun penyelenggaraan PAUD telah dapat dikatakan banyak dan tersebar, namun masih terkesan penyelenggaraan jalur PAUD yang lebih dominan adalah jalur formal yakni TK dan RA. Hal ini bukan tanpa alasan, tetapi lebih dikarenakan kondisi masyarakat kita yang belum memahami sepenuhnya akan PAUD non formal dan in formal tersebut. Menurut Direktur PAUD bahwa pada akhir tahun 2007 jumlah anak yang terlayani PAUD sebanyak 28 juta atau 48 persen. Dia menargetkan, pada 2009 minimal 53,9 persen anak usia 0-6 tahun terlayani PAUD
C. PAUD Non Formal dan In Formal Hubungannya dengan Pembentukan Etika Anak
Penyelenggaraan PAUD tentu akan semakin berkembang jika didukung oleh semua pihak. Pemberdayaan serta dukungan masyarakat sangat diandalkan untuk mengembangkan PAUD. Kesadaran masyarakat akan pentingnya PAUD menjadikan masyarakat itu sendiri yang merasa membutuhkan keberadaan program PAUD. Sebenarnya, jika kita menghubungkan dengan pembinaan seorang anak termasuk etikanya, maka PAUD seharusnya diterapkan pada anak sejak ia lahir atau pada saat usia 0 (nol) tahun. Kita ketahui bahwa ketika anak lahir ia telah dibekali oleh berbagai potensi genetis, lingkunganlah yang memberi peran besar dalam pembentukan sikap, kepribadian, dan pengembangan kemampuan anak. Dahulu, pola seperti ini belum terpikirkan, namun kini PAUD harus diterapkan bukan hanya sebelum masuk SD tetapi juga sebelum masuk Taman Kanak-kanak (TK).
Penyelenggaraan PAUD oleh keluarga atau masyarakat akan semakin mendekatkankan orangtua kepada pembinaan si buah hati yang lebih efektif dan efisien, terutama unsur etika anak. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, keberadaan PAUD Non Formal dan In Formal akan semakin memberi nuansa kedekatan orangtua terhadap anak secara psikologis. Kelompok bermain atau taman penitipan anak sebagai salah satu contoh PAUD Non Formal dan Pendidikan Keluarga atau Lingkungan sebagai contoh PAUD In Formal, tentu merupakan sarana untuk membentuk etika pada anak sejak dini. Keteladanan yang diperlihatkan oleh orangtua sendiri atau pendidik PAUD yang juga merupakan orangtua (ibu) yang dipercaya mampu dan kapabel dalam mendidik anak-anak usia 0-6 tahun.
Tentu proses pembelajaran di PAUD Formal seperti Taman Kanak-kanak juga berbeda dengan PAUD Non Formal dan In Formal. TK lebih mengesankan "aturan-aturan" formal telah dijalankan seperti layaknya sekolah. Ada papan tulis yang terletak di depan ruangan kelas, ada bangku dan meja "murid" yang berjejer rapi, seragam, serta hal-hal formal layaknya di sekolah. Di Play Group dan Pendidikan Keluarga sebagai contoh PAUD Non Formal dan In Formal lebih memberikan aktifitas yang leluasa kepada anak seperti layaknya di rumah atau di lingkungan sendiri. Hal ini tentu dapat dikatakan sebagai nilai tambah PAUD Non Formal dan In Formal karena kesan anak, mereka tidak sedang bersekolah yang terkesan menjenuhkan tetapi mendapat tempat bermain secara lebih leluasa. Namun demikian tentu saja dalam sistem yang telah terprogram secermat mungkin terutama dalam hal peningkatan potensi anak termasuk bimbingan etikanya.
Jalinan hubungan antara anak satu dengan yang lainnya pada saat bermain atau beraktifitas akan menciptakan suasana-suasana yang berbeda. Pada kesempatan inilah pendidik (orangtua) memberikan masukan-masukan nilai-nilai etika pada anak. Bagaimana jika seorang anak memanggil temannya dengan sebutan yang kurang baik? Bagaimana jika seorang anak berkelahi dengan yang lain? Bagaimana jika anak meminjam mainan temannya? Bagaimana jika anak akan keluar ruangan? Bagaimana jika berbicara dengan guru atau orangtua? Bagaimana makan yang baik atau buang air? Kesemuanya itu merupakan sebagian kecil contoh kejadian atau suasana yang dapat dijadikan sarana membentuk etika anak. Tidak perlu mengumpulkan anak dan berceramah di depan mereka tentang prilaku yang baik dan tidak baik.
Hal sedemikian dipercaya kurang efektif bagi anak usia 0-6 tahun yang lebih sarat aktifitas bermainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pembinaan di PAUD Non Formal dan In Formal seperti layaknya di rumah sendiri yang sarat akan aktifitas-aktifitas keseharian seorang anak. Sebagai "pembeda" adalah pembimbing atau guru atau orangtua telah profesional dalam membimbing anak terutama etika. Pembentukan etika anak tentu menjadi prioritas sedini mungkin pada suasana atau kondisi yang sederhana terlebih dahulu, baru pada situasi yang kompleks. Jika seorang anak mampu untuk memperlihatkan prilaku yang beretika dalam melakukan aktifitas kesehariannya, maka dapat diyakini mereka akan mampu untuk berprilaku baik jika bersekolah di TK atau masuk SD.
Jiwa-jiwa yang lahir dan dibina dengan etika yang baik akan berdampak luas terhadap perkembangan potensi diri mereka. Anak-anak kita yang telah di bina etikanya di PAUD Non Formal dan In Formal akan mudah untuk mengembangkan diri selanjutnya. Prilaku atau etika yang normatif pada diri anak-anak kita akan menjadikan mereka mudah untuk memilih dan memilah suatu aktifitas positif atau negatif. "Penanaman bibit" etika saat dibina di PAUD Non Formal dan In Formal (utamanya usia 4 tahun) akan tumbuh berkembang pada usia selanjutnya. Kita sebagai orangtua akan merasa mudah dalam mengarahkan anak-anak kita tadi untuk terus memajukan dirinya. Etika yang baik pada anak-anak kita, akan menjadikan orangtua berfungsi sebagai Tut Wuri Handayani. Bangsa Indonesia akan berkembang pesat jika generasi-generasi penerus bangsa ini memiliki etika yang baik, karena dengan etika yang baik serta terpuji akan memudahkan si buah hati kita untuk terus belajar dan memajukan bangsa ini dan bersaing dengan bangsa-bangsa di dunia dan mencapai kejayaan bangsa. SEKIAN
http://re-searchengines.com/0508syukur.html
Senin, 06 April 2009
Hak Normatif Mahasiswa
Judul: Hak Normatif Mahasiswa
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): Muhammad Rizal.SE.,M.SI
Saya Dosen di UNIMED
Topik: Kemahasiswaan
Tanggal: 26 Desember 2007
Hak Normatif Mahasiswa Refleksi sembilan tahun gerakan Reformasi)
Pendahuluan
Dalam perjalanan panjang bangsa-bangsa di dunia tidak ada sebuah pergolakan (baca: pergerakan) yang tidak di dorong oleh mahasiswa, sebutlah peristiwa malari tahun 1966 peristiwa lapangan tianmen sampai jatuhnya pemerintahan orde baru 1998. Gerakan mahasiswa ditahun 1998 adalah suatu gerakan yang paling masif dalam sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, dengan melibatkan jutaan mahasiswa dalam sebuah komitmen gerakan reformasi, gerakan ini berhasil melengserkan kekuasaan selama 32 tahun.
Tak satu pun tokoh-tokoh besar politik dunia yang bukan seorang aktifis, di Indonesia sebutlah misalkan Sukarno, Hatta, Amin Rais, Akbar Tanjung dan lain sebagainya. Pertanyaan yang mendasar adalah mengapa mahasiswa yang selalu menjadi motor pergerakan dan perubahan suatu bangsa? dan hak serta kelebihan seperi apa yang di miliki mahasiswa sehingga memiliki predikat agent of Chenges (agen dari perubahan)?
Mahasiswa dan lingkungan Akademik
Mahasiswa sebenarnya adalah sebutan dari sekelompok warga belajar di perguruan tinggi yang mengenyam pendidikan untuk orang dewasa dengan pendekatan kemandiriaan, tidak ada yang istimewa dalam proses ini selain pendekatan pengajaran yang menekankan pada pemberian ilmu 25 % materi yang diberikan dosen dan 75% kemandirian, kemandirian ini sebenarnya menjadi sebab mahasiswa lebih kreatif dalam proses pencarian ilmu. pengalaman menempa sebuah kerangka pemikiran idiologis dalam wacana pemikiran yang terbuka, wawasan yang di kembangkan dalam sistem pendidikan dikampus menjadi pemicu lahirnya pemikir-pemikir muda yang haus akan penyempurnaan ilmu pengetahuan dalam idialisme yang kental. Di tambah lagi pada usia 18 s/d 25 adalah usia pancaroba (dalam konteks pencarian diri dan pendewasaan pemikiran) karenanya mahasiswa selalu dianggap agent of Chenges (agen dari perubahan)
Lingkungan akademis yang mengajarkan penalaran, logika, pemikiran secara ilmiah, kemandirian, demokratisasi yang biasa disebut lingkungan akademis (ilmiah: berdasarkan sains/ ilmu) telah mengantarkan mahasiswa berpikir kritis, terbuka dan merdeka ditambah lagi dengan tujuan universitas sebagai lembaga yang mendukung pembangunan masyarakat dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri; (poin c) berperan besar dalam pembangunan masyarakat yang demokratis, adil dan makmur; (poin e PP tentang BHMN UGM 26 des 2000) akhirnya mengatarkan mahasiswa pada posisi sebagai kekuatan moral yang mandiri dan demokratis mengikuti tujuan dari universitas sebagai lembaga akademis
lingkungan mahasiswa dalam kampus yang memiliki dimensi Tridarma perguruan tinggi yang menekankan kepada pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat telah pula mengukuhkan kampus sebagai lembaga yang bebas, merdeka dalam berpikir serta kritis terhadap lingkungan yang tidak sesuai dengan keilmuan yang di ajarkan, kondisi ini semakain kuat menjadikan mahasiswa pada posisi yang tidak jarang berseberangan dengan kepentingan politik kelompok, agama, budaya dan strata sosial yang menghendaki status quo, pada proses inilah yang melahirkan pertarungan- pertarungan panjang idiologi antara kepentingan rakyat yang di aspirasikan oleh mahasiswa dan kepentingan- kepentingan kelompok, golongan di lain pihak, pertarungan ini terkadang membawa dampak mahasiswa harus berhadapan pada moncong senjata, pentungan petugas, gas air mata dan intimidasi kelompok-kelompok preman yang mencoba memaksakan pemahaman kepada mahasiswa.
Kesadaran akan perubahan yang di tempa dalam alam keterbukaan pemikiran yang bebas dan merdeka menjadi sebab mengapa mahasiswa menjadi komonitas paling sering menjadi kritikor, pendemo dan istilah-istilah lainnya. Pertarungan antara idealisme yang di dapat di kampus (teori) dengan praktek yang terjadi dimasyarakat yang selalu saja berbeda dan menyimpang sering menggugah jiwa muda untuk segera mengkritisi dan mendorong perubahan, itu pula mengapa mahasiswa idiologis sering diartikan sebagai oposisi atau oposan.
Hak nomatif mahasiswa dalam lingkungan Akademis
Lingkungan kampus yang di identikan dengan akademis ternyata tidaklah seperti yang di gambarkan dalam visi serta misi universitas, terkadang kampus dimasuki, serta disusupi oleh kepentingan politik semisal parpol dan negara, tak jarang kekuasaan masuk sampai kampus dalam tataran kebijakan dan teknis, rektor yang bukan merupakan jabatan politis dalam kenyataanya tidaklah berbeda dengan jabatan politis semisal walikota dan bupati apa lagi pada kondisi negara ini yang masih belajar berdemokrasi. kondisi seperti ini takjarang menyebabkan kampus seperti negara kecil yang penuh dengan polemik dan intrik yang pada akhirnya menyebabkan mahasiswa kehilangan hak-hak normatifnya.
Hak nomatif mahasiswa mengikuti hak normatif yang ada pada warga negara yang biasa disebut hak azasi ditambah hak yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tabun 1990 Bab X pasal 106 memuat 11 butir hak mahasiswa dan pada Pasal 107 memuat 6 butir kewajiban mahasiswa. Adapun hak hak mahasiswa adalah sebagai berikut:
pertama Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan akademik, kedua Memperoleh pengajaran sebaik baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan, ketiga Memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi dalam rangka kelancaran proses belajar ke empat Mendapat bimbangan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikutinya dalam penyelesaian studinya ke lima Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikutinya serta basil belajarnya. Ke enam Menyelesaikan studi lebih awal dari jadwal yang ditetapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku ke enam, Memperoleb layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku dan lainnya
Sedangkan kewajiban kewajiban mahasiswa adalah pertama lkut menanggung biaya penyelenggaraan pendidìkan kecuali bagi mahasiswa yang dibebankan dari kewajiban tersebut sesuai degan peraturan yang berlaku, kedua Memenuhi semua peraturan/ketentuan yang berlaku pada perguruan tinggí yang bersangkutan, ketiga lkut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan perguruan tinggi yang besangkutan, ke empat Menghargai Ilmu pengetahuan, teoknologi, dan /atau kesenian dan kelima Menjaga kewibawaan dan nama baik perguruan tìnggi yang bersangkutan
Hak normatif mahasiswa dalam bernegara
Hak normatif mahasiswa sebagai warga negara sama dengan warga negara lainnya seperti mendapatkan pendidikan, kebebasan berbicara dan berpendapat, kesehatan, keadilan dan sebagainya ditambah dengan Kebebasan akademis yang di peroleh dari kampus
Hak Kebebasan akademis sebagai nilai tambah (Value Add) mahasiswa inilah yang harus dijaga sebagai gerakan moral yang murni, lepas dari segala kepentingan dan tarikan-tarikan politik kekuasaan, kebebasan akademis yang biasanya di wujutkan dalam gerakan pembaharuan yang membawa hati nurani rakyat harus dijaga independensinya mengikuti visi dari sebuah universitas dimana mahasiswa itu menuntut ilmu.
Urgensi sebuah gerakan
Gerakan perubahan biasanya merupakan klimaks dari sebuah gagasan pemikiran yang telah terstuktur dari seluruh komponen masyarakat secara umum, yang merupakan bagian dari kepedulian mahasiswa terhadap lingkungannya yang berperilaku tidak seperti yang diajarkan di kampus, bisanya keterpanggilan ini akan dinama dengan sebuah tanggungjawab yang pada akhirnya akan diberi cap oleh masyarakat sebagai kewajiban mahasiswa untuk mendorong perubahan yang terjadi pada suatu tatanan masyarakat.
Gerakan akan perubahan yang merupakan kewajiban terhadap masyarakat dan hak dari setiap mahasiswa untuk menyalurkannya adalah suatu yang sangat penting, sama halnya dengan fitrah hidup manusia yang selalu bergerak dan tidak statis, mahasiswa sebagai agen perubahan harus terus melakukan gerakan-gerakan yang mendorong sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan menuju kearah yang di namis.
Ambifalensi yang terjadi adalah ketika mahasiswa telah di masuki oleh kepentingan-kepentingan politik jangka pendek, menyebabkan gerakan mahasiswa yang murni di kotori oleh kepentingan- kepentingan sesaat semisal aksi dukung mendukung pemilihan; legeslatif dan eksekutif seperti; Bupati, walikota, Gubernur dan Presiden. Kondisi ini selalu saja akan membawa implikasi terpecahnya gerakan mahasiswa, tumpulnya idiolegi dan menyebabkan gerakan mati muda, seperti gerakan reformasi yang saat ini terjadi. Kita berharap suatu saat nanti perubahan yang di dorong oleh mahasiswa tidak lagi mati muda seperti kondisi yang berulang-ulang terjadi.... semoga
* adalah Aktivis Gerakan Mahasiswa 1998 dalam Forum Mahasiswa Sumatera Utara (FORMASU) kini dosen Akuntansi Unimed. E-mail; ri4al@yahoo.com
Bahan ini cocok untuk Perguruan Tinggi bagian KESISWAAN / STUDENTS & LEARNING.
Nama & E-mail (Penulis): Muhammad Rizal.SE.,M.SI
Saya Dosen di UNIMED
Topik: Kemahasiswaan
Tanggal: 26 Desember 2007
Hak Normatif Mahasiswa Refleksi sembilan tahun gerakan Reformasi)
Pendahuluan
Dalam perjalanan panjang bangsa-bangsa di dunia tidak ada sebuah pergolakan (baca: pergerakan) yang tidak di dorong oleh mahasiswa, sebutlah peristiwa malari tahun 1966 peristiwa lapangan tianmen sampai jatuhnya pemerintahan orde baru 1998. Gerakan mahasiswa ditahun 1998 adalah suatu gerakan yang paling masif dalam sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia, dengan melibatkan jutaan mahasiswa dalam sebuah komitmen gerakan reformasi, gerakan ini berhasil melengserkan kekuasaan selama 32 tahun.
Tak satu pun tokoh-tokoh besar politik dunia yang bukan seorang aktifis, di Indonesia sebutlah misalkan Sukarno, Hatta, Amin Rais, Akbar Tanjung dan lain sebagainya. Pertanyaan yang mendasar adalah mengapa mahasiswa yang selalu menjadi motor pergerakan dan perubahan suatu bangsa? dan hak serta kelebihan seperi apa yang di miliki mahasiswa sehingga memiliki predikat agent of Chenges (agen dari perubahan)?
Mahasiswa dan lingkungan Akademik
Mahasiswa sebenarnya adalah sebutan dari sekelompok warga belajar di perguruan tinggi yang mengenyam pendidikan untuk orang dewasa dengan pendekatan kemandiriaan, tidak ada yang istimewa dalam proses ini selain pendekatan pengajaran yang menekankan pada pemberian ilmu 25 % materi yang diberikan dosen dan 75% kemandirian, kemandirian ini sebenarnya menjadi sebab mahasiswa lebih kreatif dalam proses pencarian ilmu. pengalaman menempa sebuah kerangka pemikiran idiologis dalam wacana pemikiran yang terbuka, wawasan yang di kembangkan dalam sistem pendidikan dikampus menjadi pemicu lahirnya pemikir-pemikir muda yang haus akan penyempurnaan ilmu pengetahuan dalam idialisme yang kental. Di tambah lagi pada usia 18 s/d 25 adalah usia pancaroba (dalam konteks pencarian diri dan pendewasaan pemikiran) karenanya mahasiswa selalu dianggap agent of Chenges (agen dari perubahan)
Lingkungan akademis yang mengajarkan penalaran, logika, pemikiran secara ilmiah, kemandirian, demokratisasi yang biasa disebut lingkungan akademis (ilmiah: berdasarkan sains/ ilmu) telah mengantarkan mahasiswa berpikir kritis, terbuka dan merdeka ditambah lagi dengan tujuan universitas sebagai lembaga yang mendukung pembangunan masyarakat dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri; (poin c) berperan besar dalam pembangunan masyarakat yang demokratis, adil dan makmur; (poin e PP tentang BHMN UGM 26 des 2000) akhirnya mengatarkan mahasiswa pada posisi sebagai kekuatan moral yang mandiri dan demokratis mengikuti tujuan dari universitas sebagai lembaga akademis
lingkungan mahasiswa dalam kampus yang memiliki dimensi Tridarma perguruan tinggi yang menekankan kepada pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat telah pula mengukuhkan kampus sebagai lembaga yang bebas, merdeka dalam berpikir serta kritis terhadap lingkungan yang tidak sesuai dengan keilmuan yang di ajarkan, kondisi ini semakain kuat menjadikan mahasiswa pada posisi yang tidak jarang berseberangan dengan kepentingan politik kelompok, agama, budaya dan strata sosial yang menghendaki status quo, pada proses inilah yang melahirkan pertarungan- pertarungan panjang idiologi antara kepentingan rakyat yang di aspirasikan oleh mahasiswa dan kepentingan- kepentingan kelompok, golongan di lain pihak, pertarungan ini terkadang membawa dampak mahasiswa harus berhadapan pada moncong senjata, pentungan petugas, gas air mata dan intimidasi kelompok-kelompok preman yang mencoba memaksakan pemahaman kepada mahasiswa.
Kesadaran akan perubahan yang di tempa dalam alam keterbukaan pemikiran yang bebas dan merdeka menjadi sebab mengapa mahasiswa menjadi komonitas paling sering menjadi kritikor, pendemo dan istilah-istilah lainnya. Pertarungan antara idealisme yang di dapat di kampus (teori) dengan praktek yang terjadi dimasyarakat yang selalu saja berbeda dan menyimpang sering menggugah jiwa muda untuk segera mengkritisi dan mendorong perubahan, itu pula mengapa mahasiswa idiologis sering diartikan sebagai oposisi atau oposan.
Hak nomatif mahasiswa dalam lingkungan Akademis
Lingkungan kampus yang di identikan dengan akademis ternyata tidaklah seperti yang di gambarkan dalam visi serta misi universitas, terkadang kampus dimasuki, serta disusupi oleh kepentingan politik semisal parpol dan negara, tak jarang kekuasaan masuk sampai kampus dalam tataran kebijakan dan teknis, rektor yang bukan merupakan jabatan politis dalam kenyataanya tidaklah berbeda dengan jabatan politis semisal walikota dan bupati apa lagi pada kondisi negara ini yang masih belajar berdemokrasi. kondisi seperti ini takjarang menyebabkan kampus seperti negara kecil yang penuh dengan polemik dan intrik yang pada akhirnya menyebabkan mahasiswa kehilangan hak-hak normatifnya.
Hak nomatif mahasiswa mengikuti hak normatif yang ada pada warga negara yang biasa disebut hak azasi ditambah hak yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tabun 1990 Bab X pasal 106 memuat 11 butir hak mahasiswa dan pada Pasal 107 memuat 6 butir kewajiban mahasiswa. Adapun hak hak mahasiswa adalah sebagai berikut:
pertama Menggunakan kebebasan akademik secara bertanggung jawab untuk menuntut dan mengkaji ilmu sesuai dengan norma dan susila yang berlaku dalam lingkungan akademik, kedua Memperoleh pengajaran sebaik baiknya dan layanan bidang akademik sesuai dengan minat, bakat, kegemaran dan kemampuan, ketiga Memanfaatkan fasilitas perguruan tinggi dalam rangka kelancaran proses belajar ke empat Mendapat bimbangan dari dosen yang bertanggung jawab atas program studi yang diikutinya dalam penyelesaian studinya ke lima Memperoleh layanan informasi yang berkaitan dengan program studi yang diikutinya serta basil belajarnya. Ke enam Menyelesaikan studi lebih awal dari jadwal yang ditetapkan sesuai dengan persyaratan yang berlaku ke enam, Memperoleb layanan kesejahteraan sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku dan lainnya
Sedangkan kewajiban kewajiban mahasiswa adalah pertama lkut menanggung biaya penyelenggaraan pendidìkan kecuali bagi mahasiswa yang dibebankan dari kewajiban tersebut sesuai degan peraturan yang berlaku, kedua Memenuhi semua peraturan/ketentuan yang berlaku pada perguruan tinggí yang bersangkutan, ketiga lkut memelihara sarana dan prasarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan perguruan tinggi yang besangkutan, ke empat Menghargai Ilmu pengetahuan, teoknologi, dan /atau kesenian dan kelima Menjaga kewibawaan dan nama baik perguruan tìnggi yang bersangkutan
Hak normatif mahasiswa dalam bernegara
Hak normatif mahasiswa sebagai warga negara sama dengan warga negara lainnya seperti mendapatkan pendidikan, kebebasan berbicara dan berpendapat, kesehatan, keadilan dan sebagainya ditambah dengan Kebebasan akademis yang di peroleh dari kampus
Hak Kebebasan akademis sebagai nilai tambah (Value Add) mahasiswa inilah yang harus dijaga sebagai gerakan moral yang murni, lepas dari segala kepentingan dan tarikan-tarikan politik kekuasaan, kebebasan akademis yang biasanya di wujutkan dalam gerakan pembaharuan yang membawa hati nurani rakyat harus dijaga independensinya mengikuti visi dari sebuah universitas dimana mahasiswa itu menuntut ilmu.
Urgensi sebuah gerakan
Gerakan perubahan biasanya merupakan klimaks dari sebuah gagasan pemikiran yang telah terstuktur dari seluruh komponen masyarakat secara umum, yang merupakan bagian dari kepedulian mahasiswa terhadap lingkungannya yang berperilaku tidak seperti yang diajarkan di kampus, bisanya keterpanggilan ini akan dinama dengan sebuah tanggungjawab yang pada akhirnya akan diberi cap oleh masyarakat sebagai kewajiban mahasiswa untuk mendorong perubahan yang terjadi pada suatu tatanan masyarakat.
Gerakan akan perubahan yang merupakan kewajiban terhadap masyarakat dan hak dari setiap mahasiswa untuk menyalurkannya adalah suatu yang sangat penting, sama halnya dengan fitrah hidup manusia yang selalu bergerak dan tidak statis, mahasiswa sebagai agen perubahan harus terus melakukan gerakan-gerakan yang mendorong sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan menuju kearah yang di namis.
Ambifalensi yang terjadi adalah ketika mahasiswa telah di masuki oleh kepentingan-kepentingan politik jangka pendek, menyebabkan gerakan mahasiswa yang murni di kotori oleh kepentingan- kepentingan sesaat semisal aksi dukung mendukung pemilihan; legeslatif dan eksekutif seperti; Bupati, walikota, Gubernur dan Presiden. Kondisi ini selalu saja akan membawa implikasi terpecahnya gerakan mahasiswa, tumpulnya idiolegi dan menyebabkan gerakan mati muda, seperti gerakan reformasi yang saat ini terjadi. Kita berharap suatu saat nanti perubahan yang di dorong oleh mahasiswa tidak lagi mati muda seperti kondisi yang berulang-ulang terjadi.... semoga
* adalah Aktivis Gerakan Mahasiswa 1998 dalam Forum Mahasiswa Sumatera Utara (FORMASU) kini dosen Akuntansi Unimed. E-mail; ri4al@yahoo.com
Langganan:
Postingan (Atom)
